Sabtu, 09 Mei 2026

(6) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Sentuh dia satu milimeter saja, maka saya pastikan Anda keluar dari gedung ini tanpa bisa berjalan lagi, Tuan Yoga."


Suara Wendi menggelegar rendah namun mematikan. Lengan kekarnya berbalut jas navy itu dengan sigap menahan dadaku, tepat saat aku nyaris melompat maju untuk meraih tangan Hani di seberang meja. 


Cengkeraman tangan pengacara itu di pundakku terasa seperti jepitan besi panas, memaksaku mundur selangkah dengan napas tersengal.


Aku menelan ludah dengan susah payah. Nyaliku seketika ciut melihat sorot mata Wendi yang tajam bak elang kelaparan.


Di balik tubuh tegap pria itu, Hani berdiri dengan tenang. Tak ada raut ketakutan, amarah, ataupun senyum merendahkan di wajah cantiknya. 


Hanya ada tatapan lelah yang justru terasa lebih menyakitkan daripada tamparan fisik mana pun.


"Waktumu sudah habis, Mas," ucap Hani selembut sutra. "Pulanglah. Sambut tamu-tamumu di rumah."


Tanpa menoleh lagi, Hani melangkah keluar dari ruangannya, diikuti oleh Wendi yang sempat memberiku satu tatapan peringatan terakhir. 


Aku tertinggal sendirian di ruangan direktur utama itu, mematung seperti orang bodoh sebelum akhirnya digiring keluar oleh petugas keamanan gedung.


Aku menyetir mobilku kembali ke rumah dengan pikiran kacau balau. 


Sepanjang jalan, aku berdoa semoga ini semua hanya mimpi. Bahwa setibanya di rumah, aku akan melihat Hani sedang menyeduh teh di dapur dengan celemek kusamnya.


Namun, realitas menamparku dengan sangat brutal.

Bahkan sebelum mobilku berbelok masuk ke pekarangan, kerumunan tetangga sudah memadati jalanan depan pagarku. 


Dan di tengah kerumunan itu, sebuah pita kuning hitam membentang di pagar besi rumah mewahku. 


Plang merah besar baru saja ditancapkan di taman depan: [TANAH DAN BANGUNAN INI DISITA OLEH BANK.]


"Lepaskan! Ini rumahku! Anakku bos kafe, kalian tidak bisa menyita barang-barangku! Lepaskaaan!"


Jeritan melengking itu membuat darahku berdesir. 


Aku melompat keluar dari mobil, menerobos kerumunan, dan mataku terbelalak ngeri. 


Mama sedang duduk mengemper di atas aspal carport, meronta-ronta histeris memegangi koper bajunya, sementara petugas bank berdiri tegas dengan dokumen di tangan.


Di samping Mama, berserakan tiga kantong plastik sampah hitam besar yang diikat asal-asalan. 


Hanya itu. Hanya pakaian kami yang tersisa dari kemegahan rumah ini.


"Waktu tenggang sudah habis, Pak Yoga. Properti ini resmi menjadi aset bank," ucap salah satu petugas.


Kakiku lemas tak bertulang. Tanda tangan Mama terpampang jelas di surat perjanjian utang itu. 


Dengan sisa harga diri yang sudah hancur lebur, aku menarik lengan Mama dengan kasar, menyeret koper dan kantong plastik itu ke trotoar jalan yang panas, menanggung malu ditonton puluhan tetangga.


"Yoga! Apa yang kamu lakukan?! Lawan mereka, Ga! Telepon si Hani, suruh perempuan udik itu melunasi ini semua!" jerit Mama sambil memukuli dadaku. Air matanya melunturkan seluruh riasan mahalnya.


"Sudah habis, Ma! Habis!" bentakku dengan suara bergetar menahan tangis. 


"Hani sudah membuang kita! Ini semua karena ulah Mama yang menggadaikan sertifikat rumah!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar