Rabu, 06 Mei 2026

(2) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Pak Yoga, kiamat, Pak! Dapur pusat digembok, semua karyawan produksi minggat, dan etalase kafe kita kosong melompong! Hancur kita, Pak, pelanggan VIP yang sudah bayar lunas ngamuk menuntut ganti rugi!"


Suara Rian, manajer kafeku, melengking panik dari seberang telepon, memaksaku terlonjak dari kasur dengan napas memburu. 


Sinar matahari pagi baru saja menembus tirai kamar, tapi duniaku rasanya sudah runtuh seketika.


Ponsel di tanganku nyaris terjatuh. Mataku tertuju pada amplop cokelat berisi kuitansi berdarah dan bukti transfer asuransi yang berserakan di atas kasur, fakta gila yang membuatku terjaga sepanjang malam.


"Apa maksudmu minggat, Rian?! Bukannya mereka digaji oleh kafe?!" bentakku dengan sisa-sisa tenaga.


"Mereka bilang mereka bukan karyawan kafe, Pak! Mereka orang-orang bawaan Bu Hani. Dan parahnya, Bu Hani membawa serta buku resep rahasianya. Semua adonan yang membuat kafe kita ramai itu, ternyata seratus persen racikan tangan Bu Hani, Pak! Kita tidak punya apa-apa sekarang!"


Sambungan telepon terputus. Kepalaku berdenyut hebat, seolah dihantam godam berkali-kali. 


Hani ... perempuan lusuh yang semalam kuusir dan kutampar itu, ternyata adalah jantung dari bisnis yang selama ini kubanggakan. 


Aku selalu mengira resep kue itu warisan ibuku, karena Mama selalu mengklaimnya demikian.


Dengan amarah dan kebingungan yang memuncak, aku menyambar amplop cokelat itu dan berlari keluar kamar. Kudobrak pintu kamar Mama tanpa mengetuknya.


Wanita paruh baya itu sedang duduk di depan meja rias, santai memulaskan lipstik merah ke bibirnya.


"Ma! Jelaskan ini semua!" Aku melempar tumpukan kertas itu tepat ke pangkuannya. 


"Jelaskan dari mana Mama dapat uang asuransiku, dan kenapa Hani yang membayar tagihan rumah sakitku sampai ratusan juta?! Dan sejak kapan resep kafe kita jadi milik perempuan itu?!"


Lipstik di tangan Mama tergelincir, mencoreng pipinya. Wajahnya yang arogan seketika pucat pasi melihat bukti transfer asuransi di pangkuannya. Bibirnya bergetar, tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Jawab, Ma!" bentakku kalap.


"Y-Yoga, Mama bisa jelaskan." Mama tergagap, air matanya mulai menggenang, tapi kali ini aku tidak akan tertipu oleh air mata buayanya. 


"Waktu itu dokter bilang harapan hidupmu tipis, Nak. Mama panik! Kalau kamu mati, Mama hidup pakai apa? Jadi uang asuransi itu Mama simpan, dan Hani, perempuan itu sendiri yang memaksa mencari pinjaman ke sana-kemari untuk bayar rumah sakitmu!"


Tubuhku luruh ke lantai. Kakiku tak lagi sanggup menopang berat badanku. 


Ya Tuhan, iblis macam apa yang selama ini tinggal bersamaku? Istriku sendiri yang meregang nyawa mencari biaya untuk menyelamatkanku, sementara ibuku sibuk mengamankan harta asuransiku karena mengira aku akan mati. Betapa buta dan bodohnya aku!


Dengan tangan gemetar hebat, aku merogoh ponselku dan memutar nomor Hani. 


Aku harus minta maaf. Aku harus membawanya kembali sebelum kafeku benar-benar hancur dan hidupku tamat.


Nada sambung berbunyi cukup lama. 


"Hani! Hani, kumohon dengarkan aku!" seruku putus asa, suaraku parau oleh penyesalan yang kini mencekik leherku. 


"Aku sudah tahu semuanya. Maafkan aku, aku dijebak ibuku sendiri! Tolong, kembalilah. Tarik kembali karyawanmu ke kafe, atau kita bisa bangkrut, Han!"


Hening sejenak di seberang sana, sebelum sebuah tawa pelan dan dingin mengalun di telingaku. Tawa yang membuat bulu romaku meremang untuk kedua kalinya.


"Kembali? Untuk apa, Mas? Menjadi pesuruh tak bergaji di rumahmu lagi?" Nada suara Hani begitu tenang, seolah ia sedang menikmati kepanikanku.


"Han, aku janji akan memperbaiki semuanya! Aku tidak akan menuntutmu soal pencurian sertifikat rumah itu, asalkan kau kembali!" bujukku, mencoba memakai kartu terakhirku.


"Laporkan saja ke polisi, Mas Yoga," desis Hani tajam, memutus harapanku. "Biar polisi sekalian memeriksa keaslian tanda tangan ibumu di surat utang-piutang. Sertifikat itu tidak kucuri. Aku yang menebusnya dari rentenir karena ibumu yang terhormat itu menggadaikannya untuk menutupi hutang judinya saat kamu masih koma."


Napas tercekat di tenggorokanku. Aku menatap horor ke arah Mama yang kini menutupi wajahnya sambil menangis meraung-raung.


"Dan oh, satu hal lagi, Mas." 


Suara Hani kembali terdengar, kali ini terdengar sangat mematikan. 


"Tanah tempat kafemu berdiri megah itu? Sertifikatnya juga sudah beralih atas namaku bulan lalu. Hitung mundur tiga hari dari sekarang, Mas Yoga. Silakan kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari tanahku, sebelum buldoser yang kusewa meratakan bangunan itu dengan tanah."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar