Rabu, 06 Mei 2026

Anakku diusir istrinya karena istrinya lebih memilih pria lain sebagai selingkuhannya. Padahal selingkuhan menantuku itu karyawan dari perusahaanku. Akhirnya kunikahkan anakku dengan wanita lain yang mapan dan menghargai. Betapa menyesalnya mantan menantuku ketika...

 


"Bawa semua barang rongsokanmu ini dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Aku sudah muak bersuamikan laki-laki melarat dan tak berguna sepertimu!"


Koper usang berwarna hitam itu terlempar keras hingga menabrak kaki Sagara. 


Isinya berhamburan, beberapa helai kemeja pudar dan celana bahan yang sudah lama kehilangan warna aslinya.


Sagara tetap berdiri tenang, wajah tampannya sedingin bongkahan es, meski kilat matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam. 


Ia menatap lekat wanita yang sudah dua tahun ini menyandang status sebagai istrinya. 


Clarissa berdiri bersedekap di ambang pintu, menatapnya dengan dagu terangkat dan raut penuh rasa jijik.


Namun, yang membuat rahang Sagara mengeras bukanlah koper yang terlempar, melainkan sosok pria berpakaian rapi yang kini merangkul pinggang Clarissa dari belakang dengan senyum mengejek.


"Kau dengar sendiri, kan? Clarissa sudah tidak sudi hidup menderita bersamamu," ucap pria itu, Ezra. Ia memamerkan arloji mahal di pergelangan tangannya yang melingkari tubuh Clarissa. 


"Pria sejati itu memberikan kepastian dan kemewahan untuk wanitanya. Bukan hanya janji manis sementara kerjanya luntang-lantung tidak jelas sepertimu."


Clarissa menyandarkan kepalanya di dada Ezra sambil menatap Sagara sinis. 


"Kau tahu, Sagara? Ezra baru saja dipromosikan menjadi Manajer Senior di Adhitama Group, perusahaan raksasa yang tidak akan pernah bisa kau injak lobi depannya seumur hidupmu! Gajinya sebulan bisa untuk memberimu makan sepuluh tahun. Aku berhak bahagia, dan kebahagiaan itu ada pada Ezra, bukan laki-laki benalu sepertimu!"


Sagara menghela napas panjang. Tidak ada air mata. Tidak ada permohonan. 


Selama dua tahun ini, ia menutupi identitas aslinya dan hidup sederhana demi menguji kesetiaan Clarissa.


Ia memberikan seluruh kasih sayangnya, melayani wanita itu, dan membuktikan bahwa cinta tidak selalu tentang harta. Namun hari ini, ujian itu berakhir dengan kegagalan yang telak.


"Jadi, ini keputusan akhirmu, Clarissa?" suara bariton Sagara terdengar berat dan datar, tanpa emosi. 


"Membuang pernikahan kita demi seorang manajer? Kamu pasti akan menyesal setelah tahu siapa aku sebenarnya, Clarissa."


***

Bab 2

"Jangan sebut-sebut pernikahan kita! Mengingatnya saja membuatku mual!" desis Clarissa tajam. 


"Pergi sana! Aku akan segera mengirimkan surat cerai kita ke pengadilan. Jangan pernah berani menampakkan wajah miskinmu itu di hadapanku dan Ezra lagi!"


Ezra tertawa meremehkan, melemparkan selembar uang ratusan ribu ke lantai, tepat di dekat sepatu usang Sagara. 


"Ambil itu untuk ongkos naik angkot. Anggap saja sedekah dari Manajer Group untuk pengangguran sepertimu."


Sagara menatap uang di lantai itu sejenak, lalu menatap Ezra dan Clarissa bergantian dengan tatapan tajam yang membuat nyali Ezra entah mengapa tiba-tiba menciut. 


Tanpa memungut uang itu, Sagara berjongkok, merapikan beberapa pakaiannya yang berserakan ke dalam koper, dan menutupnya.


"Semoga kalian tidak menyesali hari ini," ucap Sagara pelan namun menusuk, sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi menembus gerimis sore.


Ia berjalan meninggalkan pekarangan rumah kecil yang selama ini ia sewa dengan 'gaji palsunya'. 


Begitu ia berbelok di persimpangan jalan yang sepi, sebuah mobil hitam mengkilap yang sejak tadi menepi langsung menyalakan mesinnya. Pintu belakang terbuka secara otomatis.


Sagara masuk ke dalam kursi penumpang yang mewah. Di sebelahnya, seorang wanita paruh baya dengan aura kebangsawanan yang pekat, mengenakan setelan jas desainer dan perhiasan berlian murni, tengah menatapnya dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.


"Sudah Mami bilang, kan? Drama pura-pura miskinmu ini tidak akan menghasilkan apa-apa selain penghinaan, Sagara," ucap Nyonya Gayatri, sang penguasa tunggal Group.


"Mami benar," jawab Sagara, mengusap wajahnya yang basah oleh gerimis, membuang jauh-jauh sisa perasaannya pada Clarissa. 


"Permainan selesai. Sagara kembali."


Nyonya Gayatri mendengus dingin. Tangannya yang dihiasi cincin zamrud membuka sebuah tablet, menampilkan profil seorang pria. 


"Dan pria ini, Ezra, dia bilang dia Manajer Senior di perusahaan kita?"


"Benar, Mi."


Senyum sinis, mematikan, dan penuh dominasi terukir di bibir Nyonya Gayatri. Ia menutup tablet itu dengan satu ketukan tegas.


"Dia pikir dia bisa membuang putra mahkota Adhitama Group bagai sampah, hanya demi memungut seorang kacung yang gajinya Mami yang bayar?" Nyonya Gayatri menatap lurus ke depan dengan sorot mata berbahaya. 


"Sagara, bersiaplah. Mami sudah memilihkan calon istri yang sepadan, mapan, dan tahu cara menghargaimu. Dan untuk mantan istrimu serta selingkuhannya, kita lihat, siapa yang akan berlutut mengemis di bawah kaki siapa pada perayaan promosi perusahaan besok malam."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar