Jumat, 08 Mei 2026

(7) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


Tangan Adi yang bebas terangkat tinggi ke udara, bersiap mendaratkan tamparan keras ke pipi Putri. 


"MAS ADI!" Bella ikut menjerit panik, melompat mundur agar tidak terciprat.


"Panas! Panas! Sialan! Apa yang kamu lakukan, perempuan gila?!" rutuk Adi sambil meringis kesakitan, menatap Putri dengan sorot marah.


Tangan Adi yang bebas terangkat tinggi ke udara, bersiap mendaratkan tamparan keras ke pipi Putri. Aku yang melihat itu menyadari bahwa inilah saatnya.


"Sentuh menantuku seujung kuku, dan Ibu pastikan tanganmu patah detik ini juga, Adi!"


Suaraku menggema tajam, membelah ketegangan di ruang makan itu. 


Aku melangkah keluar dari balik partisi, menatap lurus ke arah anak kandungku dengan sorot mata penuh kemurkaan.


Tangan Adi terhenti di udara. Wajahnya yang memerah menahan sakit kini berubah pucat pasi melihat kehadiranku. 


Matanya membelalak tak percaya menatapku, lalu beralih menatap Putri yang berdiri tenang di sampingku, sama sekali tak gentar.


"I—Ibu? Sejak kapan Ibu ada di dalam sini?" suara Adi bergetar, nyalinya mendadak ciut.


Bella yang tadinya sibuk berteriak pun mendadak bungkam, menelan ludah kasar menatapku.


Aku tersenyum sinis, melangkah maju hingga jarakku dan Adi hanya tersisa dua langkah. 


Kuambil celemek kotor yang tadi dipakai Putri, lalu kulemparkan tepat ke wajah Adi.


"Sejak Ibu mendengar semua rencanamu untuk menjebak istrimu sendiri demi pelacur murahan ini," desisku tajam.


Aku menoleh ke arah Bella yang kini mulai gemetar ketakutan, lalu kembali menatap Adi yang mematung dengan seribu ketakutan di matanya.


"Kamu pikir kamu siapa, Adi? Berani mengancam Putri dan berlagak seperti raja di rumah ini? Asal kamu tahu, rumah mewah yang kamu banggakan ini sertifikat aslinya masih atas nama Ibu! Dan mulai detik ini, Ibu mencabut semua fasilitasmu."


Aku menepuk pundak Putri, menyalurkan perlindungan penuh padanya.


"Kemasi barang-barangmu dan bawa benalu itu keluar dari rumahku sekarang juga! Karena besok pagi, rumah ini akan resmi berganti nama menjadi milik Putri. Dan jangan repot-repot datang ke kantor besok, karena pemegang saham mayoritas perusahaanmu baru saja memecatmu dengan tidak hormat!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar