"Bawa koper rongsokanmu ini dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga, Indah! Wanita udik dan benalu sepertimu sudah tidak ada harganya lagi di mataku!"
Seketika, koper kain berwarna kusam itu terlempar kasar hingga melewati pagar besi.
Bunyi ritsletingnya yang memang sudah rusak langsung jebol saat membentur aspal jalanan, membuat beberapa potong daster dan pakaian sederhana milik Indah berserakan keluar.
Indah yang masih berdiri di teras rumah hanya bisa menatap nanar pakaian-pakaiannya yang kini kotor berdebu.
Hatinya seperti diiris sembilu. Tiga tahun ia mengabdi, melayani setiap kebutuhan suaminya dari bangun tidur hingga kembali memejamkan mata, dan inikah balasan yang ia terima?
"Mas, apa salahku sampai kamu tega melakukan ini?" suara Indah terdengar bergetar, meski ia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. "Aku istrimu, Mas."
Angga tertawa sumbang, tawanya terdengar begitu merendahkan. Pria yang mengenakan kemeja rapi itu melangkah mendekat, menatap Indah dengan sorot mata penuh kebencian.
"Salahmu? Salahmu adalah karena kamu cuma ibu rumah tangga biasa yang bisanya cuma nadah tangan! Bau bawang, rambut dasteran, kusam!"
Angga menunjuk wajah Indah dengan telunjuknya.
"Kamu pikir aku tidak malu punya istri sepertimu saat kumpul dengan teman-teman bisnisku?"
Tepat saat itu, dari dalam rumah melangkah keluar seorang wanita dengan penampilan yang begitu kontras dengan Indah. Fina.
Fina langsung mengalungkan tangannya ke lengan Angga dengan manja.
"Udahlah, Mas. Jangan terlalu keras sama dia," ucap Fina dengan nada yang dibuat-buat lembut, meski sudut bibirnya menyeringai penuh kemenangan.
"Kasihan, dia kan tidak pernah tahu rasanya jadi wanita karier yang berpendidikan. Wajar kalau dia kaget kamu ceraikan."
"Kamu dengar itu, Indah?"
Angga menatap Fina dengan penuh puja sebelum kembali menatap sinis pada Indah.
"Bandingkan dirimu dengan Fina. Dia seorang manajer di perusahaan multinasional! Gajinya puluhan juta! Dia wanita berkelas yang bisa mendukung karierku, bukan perempuan benalu sepertimu yang bisanya cuma menghabiskan beras!"
Indah mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Matanya beralih menatap Fina, wanita yang selama ini diakui Angga sebagai 'rekan kerja yang butuh bimbingan'.
Ternyata, bimbingan itu berakhir menjadi selingkuhan rumah ini.
"Oh, jadi ini alasanmu sering pulang malam, Mas? Sibuk meeting dengan manajer cantik ini?"
Indah tersenyum miris. Ia menunduk, mulai memunguti satu per satu pakaiannya yang berserakan di jalanan.
Fina mendecih pelan, lalu merogoh tas mahalnya. Ia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan melemparkannya tepat ke atas tumpukan baju Indah.
"Nih, ambil. Hitung-hitung sedekah dari calon Nyonya Angga yang baru. Pakai uang itu buat ongkos pulang kampung. Jangan luntang-lantung di ibu kota, nanti kamu malah bikin malu Mas Angga kalau ketahuan jadi gembel," cibir Fina sambil tertawa kecil.
Indah menghentikan gerakannya. Ia mengambil dua lembar uang itu, bangkit berdiri, lalu menatap tajam ke arah Fina dan Angga bergantian.
Alih-alih menangis dan memohon seperti yang Angga harapkan, raut wajah Indah justru berubah sangat tenang. Ketenangan yang entah mengapa membuat bulu kuduk Angga sedikit meremang.
Indah merobek uang dua ratus ribu itu menjadi dua bagian dan membiarkannya tertiup angin.
"Kamu gila ya?!" bentak Angga, matanya melotot marah.
"Aku tidak butuh uang recehan kalian," ucap Indah dengan suara yang kini terdengar begitu dingin dan mengintimidasi. Tidak ada lagi nada bergetar dari bibirnya.
"Nikmatilah kemenangan semu kalian hari ini. Bersiaplah, karena kebahagiaan yang kalian banggakan ini tidak akan bertahan lama."
"Halah! Banyak omong kamu! Paling-paling besok kamu jadi tukang cuci piring di warteg pinggir jalan!" maki Angga sambil menarik pinggang Fina.
"Ayo Sayang, kita masuk. Nggak level ngurusin sampah."
Pintu pagar dibanting keras tepat di depan wajah Indah.
Indah menutup kopernya yang rusak. Ia membalikkan badan dan melangkah menjauh dari rumah yang selama tiga tahun ini ia rawat dengan keringatnya.
Begitu berbelok di ujung kompleks yang sepi, sebuah mobil hitam mengkilap yang sedari tadi terparkir dalam diam perlahan menghampirinya.
Seorang pria berseragam rapi segera turun, menunduk hormat, dan mengambil alih koper lusuh tersebut sebelum membukakan pintu untuk Indah.
Indah duduk di kursi penumpang yang mewah. Ia merogoh saku dasternya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar seri terbaru yang selama ini selalu ia sembunyikan dari Angga, lalu menekan satu nomor.
Panggilan itu langsung tersambung pada detik pertama.
"Halo, Nona Besar. Anda sudah selesai bermain-main menjadi istri penurutnya?" sapa sebuah suara bariton dan penuh hormat dari seberang telepon.
Indah menyandarkan punggungnya, menatap pantulan dirinya yang kusam di kaca jendela mobil, lalu menyeringai dingin.
"Sudah cukup. Hubungi pihak manajemen Grand Diamond Hall. Jika Angga dan Fina menyewa gedung itu untuk pernikahan mereka bulan depan, pastikan reservasinya dibatalkan tepat di hari H," ucap Indah tanpa keraguan sedikit pun.
"Dan satu hal lagi, siapkan dokumennya. Hari ini juga, aku mau mengakuisisi seluruh perusahaan tempat perempuan bernama Fina itu bekerja."
***
Bab 2
"Kartu ditolak?! Jangan bercanda kamu, Mbak! Limit kartuku ini ratusan juta, nggak mungkin gagal cuma buat bayar cincin rongsokan seharga seratus juta ini!" bentak Angga, menggebrak etalase kaca toko perhiasan mewah itu hingga beberapa pramuniaga terperanjat kaget.
Fina yang berdiri di sebelahnya langsung mencubit pinggang Angga dengan kasar. Wajah cantiknya yang dipoles riasan tebal kini memerah padam menahan malu.
Beberapa pengunjung toko mulai menoleh dan berbisik-bisik ke arah mereka.
"Mas! Jangan bikin malu dong! Coba pakai kartu platinum kamu yang lain. Masa manajer sepertiku harus batal pamer cincin tunangan ke teman-teman arisan cuma gara-gara kartumu limit?" desis Fina kesal, matanya membelalak tajam.
Angga merogoh dompet kulitnya dengan tangan gemetar. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
Ia mengeluarkan dua kartu kredit lain dan menyerahkannya kepada kasir dengan gaya angkuh yang dipaksakan.
"Ini! Gesek yang ini! Pasti mesin EDC kalian yang bermasalah!"
Sang kasir dengan sabar menggesek kartu-kartu tersebut. Namun, layar mesin kembali berkedip merah.
"Mohon maaf sekali lagi, Bapak Angga. Ketiga kartu Anda berstatus diblokir oleh pihak bank. Apakah ada metode pembayaran lain?"
"Sial!" umpat Angga. Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi call center bank.
Jantungnya berdebar tidak karuan. Posisinya di perusahaan sedang naik daun, bulan depan ia dipromosikan menjadi direktur, bagaimana mungkin rekeningnya diblokir tiba-tiba?
"Halo? Kenapa semua kartu saya diblokir?!" teriak Angga begitu panggilan tersambung.
Angga menyebutkan nama panjangnya, meminta agar operator mengeceknya.
Suara operator di seberang sana terdengar tenang namun membawa berita yang membuat lutut Angga lemas seketika.
"Mohon maaf, Bapak Angga. Pemblokiran seluruh rekening dan kartu kredit Anda dilakukan atas instruksi darurat dari perusahaan tempat Anda bekerja, terkait adanya indikasi penyalahgunaan wewenang dan audit mendadak. Silakan hubungi pihak HRD perusahaan Anda untuk konfirmasi lebih lanjut."
Panggilan diputus sepihak.
Angga mematung. Ponselnya nyaris merosot dari genggaman.
Audit mendadak? Indikasi penyalahgunaan wewenang? Tapi selama ini ia selalu bermain rapi! Tidak mungkin ada yang tahu soal dana proyek yang sering ia potong!
"Mas! Gimana sih?! Kalau kamu memang nggak punya uang, biar aku aja yang bayar! Minggir!"
Fina menyingkirkan tubuh Angga dengan kasar. Ia mengeluarkan kartu hitam eksklusifnya dari dalam tas kesayangannya.
"Gesek ini, Mbak. Ini kartu korporat khusus petinggi perusahaan. Nggak mungkin ditolak!"
Kasir itu mengangguk sopan dan menggesek kartu Fina. Sedetik kemudian, ia menatap Fina dengan tatapan canggung.
"Maaf, Ibu. Kartu ini juga berstatus ditangguhkan."
"Apa?!" Fina menjerit histeris. Ia langsung mengotak-atik ponselnya, membuka aplikasi mobile banking.
Mata Fina terbelalak ngeri saat melihat seluruh saldonya, yang tadinya berjumlah ratusan juta, kini dibekukan sepenuhnya dengan keterangan 'Suspended by Corporate Management'.
Belum sempat Fina mencerna apa yang terjadi, sebuah email masuk dari HRD perusahaannya.
[Kepada Yth. Saudari Fina,
Dengan ini kami beritahukan bahwa Anda dinonaktifkan sementara dari jabatan Manajer Pemasaran terhitung hari ini, terkait investigasi internal atas dugaan skandal moral dan penggelapan dana. Fasilitas apartemen dinas dan mobil perusahaan akan kami tarik dalam waktu 1x24 jam.]
"Nggak, nggak mungkin! Mas, ini pasti ada yang salah! Kenapa kita berdua tiba-tiba diblokir begini?!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar