Jumat, 08 Mei 2026

(14) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


Siska, yang sejak tadi berdiri mematung di sudut ruangan, pelan-pelan menarik kopernya mundur. 


Wanita itu menyadari bahwa ia telah bermain api dengan orang yang sangat salah.


Aku sendiri hanya bisa terpaku. 


Istri yang selama ini selalu sabar menerima cacian, yang rela tangannya kasar karena memasak di dapur, ternyata adalah sosok yang bisa membeli harga diri ibuku hanya dengan satu panggilan telepon.


Fitri menunduk sedikit, menatap Ibu dengan senyum tipis yang mematikan. 


"Sudah saya katakan, Bu. Rumah ini sekarang milik saya. Jadi, silakan berkemas malam ini. Besok pagi, rumah ini harus sudah bersih dari orang-orang yang gemar memfitnah."


Suasana malam itu berubah menjadi panggung keadilan yang tak terbantahkan. 


Rasa perih melihat istriku dihina selama berbulan-bulan perlahan terbayar lunas. 


Namun, saat aku mengira semua badai ini telah berakhir dan aku bisa menata hidup baru yang tenang dengan Fitri, layar ponsel istriku kembali menyala.


Kali ini, Fitri mematikan mode pengeras suara dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. 


Namun karena suasana kamar yang sangat sunyi senyap, aku samar-samar bisa mendengar suara bariton seorang pria paruh baya dari seberang telepon.


"Papa sudah dengar laporannya, Fitri. Suamimu lumayan berani membelamu di depan ibunya sendiri. Tapi karena malam ini identitas aslimu sudah terbongkar sebelum batas waktu pengujian kita berakhir." 


Pria itu menjeda kalimatnya, membuat jantungku mendadak berdetak dua kali lebih cepat. 


"Maka sesuai perjanjian, besok pagi pengawal Papa akan menjemputmu pulang, dan Putra harus segera menandatangani surat cerai kalian."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar