"Kalau mengurus ibuku saja kau sering mengeluh, untuk apa aku mempertahankanmu di rumah ini, hah?! Pastikan buburnya habis, atau malam ini kau tidur di luar!"
Bentakan Dimas menggema di ruang makan yang sempit, diiringi bantingan pintu depan yang membuat bahuku terlonjak kaget.
Aku hanya bisa menunduk, menelan kepahitan yang sudah menjadi makanan sehari-hariku sejak menikah dengannya tiga tahun lalu.
Dengan tangan sedikit gemetar, aku kembali menyodorkan sendok berisi bubur hangat ke mulut Ibu mertuaku.
Wanita paruh baya itu duduk di kursi roda dengan tatapan kosong yang selalu menatap lurus ke depan.
Dengan sabar, aku mengusap sudut bibirnya menggunakan tisu yang selalu kusiapkan di saku dasterku.
"Makan yang banyak ya, Bu. Biar Ibu cepat sehat," bisikku lembut, mengabaikan rasa perih di hatiku atas perlakuan kasar anak kandungnya sendiri.
Sejak stroke menyerang Ibu mertuaku setahun lalu, membuatnya lumpuh dan kehilangan kemampuan bicara, akulah yang mengurus segala kebutuhannya.
Mulai dari memandikan, menyuapi, hingga menemaninya sepanjang hari.
Aku melakukannya dengan tulus, berharap baktiku padanya bisa melunakkan hati Dimas. Namun, suamiku itu justru semakin semena-mena.
Siang itu, kepalaku mendadak berdenyut hebat.
Pandanganku berkunang-kunang dan rasa mual mengaduk-aduk perutku saat aku sedang menyelesaikan pekerjaanku membungkus pesanan katering tetangga.
Tubuhku rasanya remuk, demam yang kutahan sejak semalam sepertinya sudah mencapai puncaknya.
Mengingat pekerjaanku sudah selesai, aku memutuskan untuk pulang lebih awal.
Aku butuh istirahat sejenak sebelum harus menyiapkan makan malam.
Langkahku terseret gontai saat memasuki pekarangan rumah pukul satu siang.
Suasana rumah sepi. Dimas biasanya baru pulang dari tempatnya bekerja menjelang magrib.
Aku membuka pintu depan perlahan agar tidak mengagetkan Ibu yang biasanya sedang tidur siang di kamarnya.
Sambil memijat pelipis yang berdenyut, aku melangkah melewati ruang tengah.
Niatku hanya satu: meneguk air hangat lalu merebahkan diri sejenak di kamarku.
Namun, langkahku terhenti tepat di depan kamar Ibu mertuaku.
Ada suara dari dalam. Bukan suara televisi yang sengaja kunyalakan, melainkan suara tawa. Tawa lepas seorang wanita, disusul oleh kekehan berat seorang pria yang sangat kukenal.
Dimas? Bukankah dia seharusnya di kantor? Dan ... siapa yang sedang tertawa bersamanya?
Darahku berdesir aneh. Rasa sakit di kepalaku seolah menguap, digantikan oleh debar jantung yang memburu.
Dengan tangan bergetar, aku menyentuh kenop pintu kamar Ibu yang ternyata tidak tertutup rapat. Ada celah selebar dua jari yang membantuku mengintip ke dalam.
Mataku membelalak sempurna. Napasku tercekat di tenggorokan, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekikku.
Di sana, di tengah kamar yang biasanya beraroma obat dan kesedihan, Ibu mertuaku sedang berdiri tegak.
Tidak ada tatapan kosong, tubuhnya sama sekali tidak kaku, dan kursi roda itu teronggok begitu saja di sudut ruangan.
Ia melipat tangan di dada, tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu suamiku yang duduk santai di tepi ranjang.
Duniaku runtuh seketika. Lututku lemas. Wanita yang setiap pagi kumandikan dan kusuapi dengan penuh air mata empati itu ... ternyata sangat sehat?
Sebelum aku sempat mencerna kenyataan gila ini, suara Ibu mertuaku yang lantang dan jelas, suara yang katanya sudah hilang direnggut stroke, terdengar menyayat tepat di telingaku.
"Ibu sudah pegal harus pura-pura bisu dan duduk di kursi roda itu setiap hari, Dimas! Sampai kapan sandiwara ini selesai? Cepat paksa istrimu itu tanda tangani surat pemindahan hak milik ruko peninggalan ayahnya. Begitu ruko itu jatuh ke tangan kita, kita tendang saja dia dari rumah ini!"
***
Bab 2
"Sabar sedikit, Bu. Begitu tanda tangannya kudapatkan, aku sendiri yang akan mengemas barang-barangnya dan membuangnya keluar dari rumah ini."
Suara tawa berat Dimas menyusul kalimat keji itu, mengunci kakiku di atas lantai dingin. Tanganku bergetar hebat menutupi mulut yang hampir saja menjerit.
Ya Allah, inikah wajah asli pria yang selama ini kuabdi?
Kutahan napas sekuat tenaga. Aku melangkah mundur perlahan, berhati-hati agar lantai papan di lorong ini tidak berderit.
Udara di sekitarku seolah mendadak habis, mencekik paru-paruku. Kakiku yang lemas kupaksa menyeret langkah, hingga akhirnya aku berhasil masuk ke dalam kamarku sendiri dan mengunci pintu tanpa suara.
Begitu pintu tertutup, tubuhku merosot luruh ke lantai. Air mataku tumpah tak tertahankan.
Tiga tahun pengabdianku, rasa lelahku mengurus rumah, dan air mata empatiku setiap kali melihat Ibu mertuaku 'tak berdaya', ternyata hanya lelucon murahan di mata mereka.
Mereka tidak hanya menipuku dengan sandiwara menjijikkan ini, tapi target utama mereka adalah ruko peninggalan almarhum Bapak, satu-satunya harta dan kenangan berharga yang kumiliki.
Tangisku tertahan di tenggorokan. Rasa sakit akibat demam kini kalah telak oleh hantaman pengkhianatan ini.
Namun, perlahan, rasa sesak itu menguap, digantikan oleh bara amarah yang mulai menyala terang di dadaku.
Tidak. Aku tidak boleh gegabah.
Kalau aku menerobos masuk dan melabrak mereka saat ini juga, aku akan kalah telak.
Aku hanya seorang diri, sementara mereka bisa saja langsung menggunakan kekerasan untuk memaksaku menyerahkan sertifikat ruko itu.
Lagipula, aku tidak punya bukti apa-apa untuk menyingkap kedok mereka di depan keluarga besar.
Aku menghapus sisa air mata di pipiku dengan kasar. Aku harus bermain cantik. Mengingat ini adalah novel panjang kehidupanku, aku tidak akan membiarkan alurnya selesai secepat ini.
Kalau mereka bisa bersandiwara menjadi mertua malang dan suami pekerja keras, maka aku akan menjadi aktris berdarah dingin terbaik yang pernah mereka temui.
Aku bangkit, berjalan ke arah cermin. Kuatur napasku, mencuci wajahku di wastafel kamar mandi agar tidak terlihat sembab, lalu mengganti dasterku.
Sekitar setengah jam kemudian, aku mendengar suara pintu kamar Ibu berderit terbuka, disusul langkah kaki Dimas menuju dapur. Ini saatnya.
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan ke arah dapur sambil memijat tengkuk, seolah masih kelelahan.
"Loh, kamu sudah pulang, Mas?" sapaku dengan nada selembut dan sepolos biasanya.
Dimas terperanjat, buru-buru menyembunyikan cangkir kopi di tangannya. Wajahnya yang tadi terlihat puas langsung berubah menjadi topeng suami yang kelelahan dan penuh beban.
"E-eh, iya. Kerjaan lagi sepi, jadi Mas pulang cepat buat ngecek kondisi Ibu. Kamu sendiri kapan pulangnya? Kok Mas nggak dengar?"
"Baru saja, Mas. Aku langsung rebahan karena kepalaku pusing sekali. Aku sampai belum sempat nengok Ibu," dustaku sambil tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam mata pembohongnya.
Dimas menghela napas panjang, memasang raut wajah penuh tuntutan yang dibalut sok peduli.
"Makanya, kalau capek itu istirahat. Nanti siapa yang mau mengurus Ibu kalau kamu sakit? Kamu tahu sendiri Ibu cuma bisa mengandalkan kita."
Aku melangkah mendekat, mengambil alih cangkir dari tangannya dengan gerakan perlahan, lalu menjawab dengan suara yang sangat tenang.
"Kamu benar, Mas. Mulai detik ini, aku janji akan 'mengurus' Ibu, dan juga kamu, dengan cara yang paling istimewa."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar