Jumat, 08 Mei 2026

(20) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


Sari menutup mulutnya karena terkejut, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia meraih tangan kanan Tuan Haris dan menciumnya dengan takzim. 


"Selamat datang di rumah keluarga kita, Ayah. Terima kasih sudah menemukan Mas Danu dan membawanya pulang."


Pertahanan Tuan Haris runtuh. Ia mengusap puncak kepala Sari dengan penuh haru, lalu berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Bintang. 


"Dan ini cucuku? Jagoan kecil pewaris keluarga Wijaya?"


"Halo, Kakek," sapa Bintang dengan polos, langsung memeluk leher pria paruh baya itu tanpa ragu. 


Tuan Haris tertawa lepas, sebuah tawa bahagia yang mengusir seluruh bayang-bayang kelam masa lalunya.


Namun, momen mengharukan itu terganggu oleh suara langkah kaki yang diseret dari arah dapur.


Rini muncul dengan seragam asisten rumah tangganya yang basah dan kotor sehabis membersihkan seluruh kerak lantai dapur. 


Begitu melihat sosok Tuan Haris yang memancarkan aura kekayaan luar biasa dengan jam tangan miliaran rupiah di pergelangannya, mata Rini langsung berbinar licik. 


Sifat serakahnya rupanya belum mati.


Rini tidak tahu siapa pria itu, ia hanya berpikir pria tua itu adalah bos besar Danu dari Taiwan. 


Dengan akal bulusnya, Rini sengaja menjatuhkan diri ke lantai marmer tepat di depan kaki Tuan Haris, menangis tersedu-sedu dan memasang wajah paling memelas.


"Tolong saya, Tuan Besar. Tolong saya," ratap Rini, sengaja mengeraskan suaranya. 


"Danu itu karyawan yang jahat! Dia menyiksa saya, kakak kandungnya sendiri! Dia memaksa saya jadi babu tanpa dibayar sementara dia dan istrinya foya-foya memakai uang Anda! Tuan pasti orang baik yang sangat kaya, tolong lunasi utang saya, Tuan. Bawa saya pergi dari sini."


Sari menghela napas lelah melihat kelakuan mantan kakak iparnya itu. 


Galen yang berdiri di sudut ruangan sudah bersiap memanggil satpam, namun Tuan Haris mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar semua orang diam.


Ayahku menunduk, menatap Rini yang sedang bersimpuh memeluk ujung sepatunya dengan tatapan yang sangat merendahkan, layaknya menatap serangga hama.


"Kamu bersujud memohon belas kasihan padaku dan menjelek-jelekkan Danu agar aku melunasi utangmu?"


Rini menangis sambil mengangguk. 


Ayahku tertawa pelan. 


"Angkat wajahmu, Rini, berkaca. Karena pria yang baru saja kamu fitnah di hadapanku ini adalah putra kandungku, dan besok pagi, aku akan membeli seluruh surat utangmu hanya untuk memastikan kamu menjadi pelayan di rumah ini sampai napas terakhirmu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar