Jumat, 08 Mei 2026

(2) Masakan buatan istriku tak pernah enak, kukira dia tidak sengaja, tapi betapa kagetnya aku ketika mengetahui rahasia kalau istriku sengaja melakukannya karena...

 


"Lacak setiap aliran dana dari rekening istriku, selidiki katering Dapur Nirwana sampai ke akar-akarnya, dan cari tahu siapa laki-laki yang berani menikmati hasil keringatku di belakang punggungku!" desisku tajam, melempar map merah ke atas meja kerja hingga menimbulkan suara bantingan keras.


Reno, asisten sekaligus orang kepercayaanku, terlonjak dari kursinya. Wajahnya pias melihat bosnya yang biasanya selalu tenang kini memancarkan aura dingin yang begitu pekat.


"M-maksud Bapak? Ibu Qila ... mengkhianati Bapak?" tanya Reno terbata-bata, nyaris tak percaya.


Selama ini, seluruh kantor tahu bahwa Qila adalah lambang istri penurut yang bahkan jarang keluar rumah.


"Dia bukan cuma berselingkuh, Reno. Wanita berwajah lugu itu sedang merancang kebangkrutanku secara perlahan," balasku sambil memijat rahang yang mengeras.


Aku menceritakan secara singkat apa yang kulihat dan kudengar di dapur rumahku sendiri pagi tadi. 


Tentang Qila yang ternyata adalah bos besar dari katering VIP langganan kantor kami, dan tentang rencananya memanipulasi aset-aset perusahaanku bersama pria simpanannya.


Reno mengepalkan tangan, ikut tersulut emosi. 


"Kita bisa langsung melaporkannya ke polisi dengan tuduhan penggelapan dan perselingkuhan!"


"Tidak semudah itu," potongku cepat. "Mereka sudah bermain rapi. Jika kita salah langkah, Qila bisa memindahkan semua aset yang sudah dimanipulasinya ke rekening tak terlacak sebelum polisi sempat bertindak. Aku ingin membalasnya dengan cara yang jauh lebih elegan, tapi akan menghancurkan mereka sampai ke akar."


Mata Reno menyipit, ia mulai memahami jalan pikiranku. 


"Lalu, apa instruksi pertama Anda, Pak Gio?"


"Biarkan dia merasa menang. Perpanjang kontrak katering divisiku dengan Dapur Nirwana untuk enam bulan ke depan, bayar di muka. Buat dia merasa rencananya berjalan mulus tanpa hambatan. Sementara itu, siapkan tim audit tertutup. Cari tahu ke mana larinya sertifikat rumah dan saham perusahaanku yang dia manipulasi."


"Baik, Pak. Saya akan bergerak sekarang juga."


***


Sore harinya, aku sengaja pulang tepat waktu. Memasukkan mobil ke garasi, aku menarik napas panjang, memasang topeng suami yang tak tahu apa-apa sebelum mendorong pintu depan.


Pemandangan yang menyambutku sungguh sebuah ironi. Qila kembali mengenakan daster pudarnya. 


Rambutnya diikat asal-asalan, dan wajahnya dibuat sedikit kusam. Ia sedang menata meja makan, menyajikan seporsi ayam kecap yang warnanya sehitam arang dan kuah sayur yang pucat pasi.


"Mas Gio sudah pulang?" sapanya lembut, menyambutku dengan senyum malu-malu dan mencium punggung tanganku. 


Wangi rempah rendang dari Dapur Nirwana yang menempel di tubuhnya tadi pagi sudah berganti dengan bau bawang yang menyengat. Aktingnya benar-benar sempurna.


"Iya, Sayang. Jalanan lumayan lancar," balasku seraya mengusap puncak kepalanya. 


Dalam hati, aku menahan dorongan untuk menepis tangannya.


Aku duduk di kursi makan, menatap hidangan di depanku. 


Dengan tenang, aku menyendok kuah sayur itu dan mencicipinya. Benar saja, rasanya hambar bercampur pahit yang aneh.


"Bagaimana, Mas? Tadi aku coba resep baru, apa keasinan lagi?" tanyanya sambil menunduk, memainkan jari-jarinya seolah cemas.


Aku tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam manik matanya. 


"Tidak, Sayang. Rasanya ... luar biasa. Jauh lebih berkesan daripada katering mahal di kantorku. Kamu pasti sangat lelah memasak ini semua sendirian 'kan?"


Ada kilat keterkejutan yang melintas sangat cepat di mata Qila sebelum ia buru-buru menunduk lagi untuk menyembunyikan senyum puasnya. 


"Syukurlah kalau Mas Gio suka. Aku rela melakukan apa saja asal Mas bahagia."


Ya, apa saja termasuk menguras hartaku, batinku sinis.


***


Malam itu, aku beralasan masih ada pekerjaan dan mengurung diri di ruang kerjaku. 


Jarum jam baru saja menunjukkan pukul sepuluh malam ketika layar ponselku menyala, menampilkan nama Reno.


"Bagaimana?" tanyaku tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.


"Pak Gio," suara Reno terdengar berat dan ragu di seberang sana. 


"Tim pelacak kami berhasil meretas nomor telepon pria yang dihubungi Ibu Qila pagi tadi. Kami juga sudah mencocokkan mutasi rekening yang menampung aliran dana katering tersebut."


"Bagus. Siapa namanya?" tuntutku tak sabar.


Reno terdiam sejenak. 


Hening yang menggantung membuat firasatku mendadak buruk.


"Pak, saya sudah mengirimkan foto profil dan data diri pria tersebut ke pesan Anda. Saya sarankan Bapak duduk dan menarik napas panjang. Pria ini ... bukan orang asing."


Alisku bertaut. Dengan cepat aku membuka pesan masuk dari Reno. 


Sebuah foto beresolusi tinggi muncul di layarku, menampilkan wajah seorang pria yang tengah tersenyum lebar berangkulan dengan Qila di sebuah restoran mewah.


Darahku mendesir hebat. Mataku membelalak tak percaya menatap wajah pria di foto itu. Napasku tertahan, dan tanpa sadar tanganku mencengkeram tepi meja kerja hingga urat-uratnya menonjol keluar.


"Luar biasa," desisku dengan suara bergetar, perpaduan antara syok yang melumpuhkan dan amarah yang siap meledak. 


"Jadi selama ini, orang yang selalu memanggilku saudara dan tersenyum di meja makanku yang merancang kehancuranku dari dalam rumahku sendiri?!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar