Sabtu, 09 Mei 2026

(21) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Bersihkan sepatuku dari noda air mata buayamu sekarang juga, Pelayan Rini! Karena seumur hidupmu yang menyedihkan itu, kamu tidak akan pernah keluar dari rumah ini selain menjadi alas kaki bagi menantu dan cucuku yang dulu kalian injak-injak!"


Suara bariton Tuan Haris menggelegar, sarat akan kemurkaan seorang ayah dan wibawa seorang penguasa sejati. 


Ia menarik kakinya dengan gerakan jijik, membuat Rini yang sedang memeluk ujung sepatunya terpelanting ke belakang.


Wajah Rini berubah seputih kertas. Napasnya tersengal, matanya membelalak lebar menatap Tuan Haris dan Danu bergantian. 


Otaknya yang dangkal seakan menolak memproses fakta yang baru saja menghantamnya.


Pria tua super kaya di hadapannya ini bukanlah bos yang bisa ia tipu, melainkan ayah kandung dari pria yang selama puluhan tahun ia jadikan sapi perah.


"T-tidak mungkin. Danu hanyalah anak pungut, ini tidak mungkin," igau Rini dengan tatapan kosong. Bibirnya bergetar hebat. 


Segala angan-angannya untuk ditolong dan kembali menjadi janda sosialita hancur berkeping-keping menjadi debu di atas lantai marmer.


"Seret pelayan ini kembali ke kamarnya, Galen. Keberadaannya mengotori udara di sekitar cucuku," titah Tuan Haris tanpa menoleh sedikit pun.


"Baik, Tuan Besar," sahut Galen sigap. 


Dengan isyarat tangan, dua petugas keamanan langsung mengangkat tubuh Rini yang sudah lemas tak bertulang dan menyeretnya menuju area belakang rumah. 


Rini tak lagi berteriak. Ia menangis dalam diam, meratapi kehancuran abadi yang ia ciptakan sendiri dari keserakahannya.


Setelah parasit itu disingkirkan, suasana ruang keluarga kembali menghangat. 


Tuan Haris, konglomerat yang ditakuti di dunia bisnis maritim internasional itu, kini duduk di atas karpet bulu layaknya kakek biasa, bermain menyusun balok lego bersama Bintang. 


Tawanya renyah, matanya menyiratkan kebahagiaan yang selama tiga puluh tahun ini direnggut darinya.


Sari menatap pemandangan itu dari sofa dengan mata berkaca-kaca. Aku duduk di sebelahnya, menggenggam erat tangan istriku.


"Mulai besok, Ayah akan memindahkan sebagian besar aset perusahaan ke namamu, Danu," ucap Tuan Haris tanpa mengalihkan pandangannya dari Bintang. 


"Dan untuk menantuku, Sari, Ayah sudah memerintahkan pengacara keluarga untuk menyiapkan dana perwalian khusus tanpa batas untukmu dan Bintang. Kalian tidak akan pernah lagi merasakan kekurangan sekecil apa pun."


Sari tersenyum haru. "Terima kasih, Ayah. Tapi sungguh, berkumpulnya keluarga ini sudah lebih dari cukup bagiku."


Hari-hari berikutnya berjalan bagaikan mimpi indah yang menjadi kenyataan. 


Kedudukan Sari sebagai Nyonya Besar semakin tak tergoyahkan. 


Setiap kali istriku melangkah melintasi lorong rumah, Rini yang sedang mengepel lantai akan dipaksa menundukkan kepala dalam-dalam oleh petugas keamanan, tak diizinkan menatap wajah majikannya. 


Siksaan mental itu membuat Rini perlahan kehilangan kewarasannya, terjebak dalam rasa iri dan penyesalan yang membakarnya hidup-hidup setiap detiknya.


Sari, dengan hati emasnya, menyalurkan kebahagiaannya dengan membangun sebuah yayasan panti asuhan besar menggunakan uang ganti rugi tanah gubuknya yang dulu. 


Ia mengurusnya dengan dedikasi penuh, membuat namanya harum di berbagai kalangan sosialita sebagai Nyonya Danu Wijaya yang dermawan.


Namun, seperti halnya gula yang selalu memancing semut-semut kelaparan, ketenaran dan kekayaan mendadak yang menyelimuti keluarga kami rupanya mulai membangunkan parasit-parasit lama dari tidur panjang mereka.


Pagi itu, saat kami sekeluarga sedang menikmati sarapan mewah yang disajikan chef pribadi di ruang makan, langkah cepat Galen memecah ketenangan. 


Wajah asisten pribadiku itu terlihat lebih tegang dari biasanya.


"Maaf mengganggu waktu sarapan Anda, Tuan Besar, Tuan Danu, dan Nyonya Sari," lapor Galen seraya membungkuk hormat, tablet di tangannya menyala menampilkan rekaman CCTV gerbang depan.


"Ada apa, Galen?" tanyaku santai sambil menyesap kopi hitamku.


Galen menatap lurus ke arah Sari dengan raut wajah penuh kewaspadaan.


"Ada keributan besar di gerbang utama, Nyonya. Sepasang suami istri paruh baya memaksa masuk membawa rombongan wartawan gosip. Mereka menangis histeris di depan kamera, mengaku sebagai orang tua kandung Anda yang dulu mengusir Anda saat bangkrut, dan sekarang menuntut hak gono-gini serta kendali penuh atas panti asuhan bernilai puluhan miliar yang baru saja Anda dirikan."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar