"Mulai detik ini, aku jatuhkan talak satu padamu! Pergi dari rumah ini sekarang juga, Perempuan Maling!"
Suaraku menggelegar, membelah kesunyian malam. Tanpa ampun, kulemparkan koper berisi pakaian-pakaiannya ke lantai teras.
"Mas, tolong dengarkan aku dulu, Mas. Aku bisa jelaskan semuanya, tolong jangan usir aku, aku sedang hamil anak kita, Mas." Arini merintih. Tangannya yang gemetar memegangi perutnya yang sudah membesar, membuncit di usia kehamilan delapan bulan.
Air matanya mengalir deras, bercampur dengan peluh di wajah pucatnya.
Ia bersimpuh, memeluk kaki kananku erat-erat. Namun, hatiku sudah sepenuhnya tertutup oleh amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Jelaskan apa lagi?! Buktinya sudah jelas!" bentakku sambil menepis tangannya dengan kasar hingga tubuh ringkih itu nyaris tersungkur.
"Uang tabunganku lima puluh juta lenyap tak bersisa! Uang yang susah payah kukumpulkan siang dan malam demi persalinanmu, malah kamu curi dan kamu transfer entah ke mana! Kamu berikan pada selingkuhanmu, hah?!"
"Tidak ada laki-laki lain, Mas! Uang itu—"
"Cukup! Aku tidak mau dengar kebohonganmu lagi!" potongku bengis. "Mulai malam ini, kamu bukan istriku lagi. Jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku!"
Kutarik gagang pintu dan membantingnya dengan keras tepat di depan wajahnya yang berurai air mata.
Dari balik pintu yang terkunci rapat, aku masih bisa mendengar isak tangisnya yang memilukan, memohon agar aku membuka pintu karena angin malam yang begitu dingin.
Tapi aku tidak peduli. Perasaanku sudah mati.
Pengkhianatan ini terlalu menyakitkan. Aku memilih masuk ke kamar, menarik selimut, dan membiarkan wanita pengkhianat itu pergi entah ke mana dengan dosa-dosanya.
***
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memaksaku membuka mata. Kepalaku terasa pening.
Semalaman aku tidur gelisah. Rumah terasa lengang, dan secercah rasa ganjil menyelinap di dadaku saat melihat tidak ada sarapan di atas meja seperti biasanya.
Namun, egoku kembali mengeras.
Biar saja dia pergi. Dia pantas mendapatkannya.
Baru saja aku beranjak untuk mengambil air minum, ponsel di atas nakas berdering nyaring.
Sebuah nomor asing tertera di layar. Dengan malas, aku menggeser tombol hijau.
"Halo, dengan siapa?" tanyaku ketus.
"Selamat pagi. Apakah benar ini dengan Bapak Dewa? Suami dari Ibu Arini?" Suara seorang wanita dari seberang sana terdengar panik dan tergesa.
"Mantan suami," ralatku dingin. "Ada apa?"
"Bapak, tolong segera datang ke Rumah Sakit Pelita Medika sekarang juga. Ini sangat darurat, Pak. Ini menyangkut nyawa Ibu Arini dan ... dan sesuatu yang harus dijelaskan oleh Dokter Handoko kepada Anda."
Jantungku tiba-tiba berdetak satu ritme lebih cepat. Firasat buruk langsung menyergap.
Tanpa berpikir panjang, aku menyambar kunci motor dan melesat membelah jalanan kota yang mulai padat.
Sesampainya di lorong rumah sakit, langkahku terhenti di depan ruang ICU. Seorang dokter pria paruh baya dengan jas putih dan wajah lelah menghampiriku.
Tatapannya menyorotkan perpaduan antara iba dan kemarahan yang tertahan.
"Anda suaminya?" tanyanya dingin.
"Iya, Dok. Apa yang terjadi pada Arini? Dia mau melahirkan? Lalu, buat apa dia ke rumah sakit ini? Dia pasti mau memeras saya lagi, kan?" ucapku beruntun, masih dikuasai prasangka buruk.
Dokter Handoko menarik napas panjang, menatapku tajam seolah aku adalah manusia paling hina yang pernah ia temui.
"Anda masih memikirkan uang lima puluh juta itu, Pak Dewa? Asal Anda tahu, uang yang disetorkan istri Anda ke meja administrasi semalam bukanlah untuk foya-foya. Dia menguras tabungan Anda demi menebus biaya operasi bypass jantung ibu kandung Anda yang sedang kritis, karena tak satu pun saudara Anda yang mau menanggung biayanya. Jika terlambat satu jam saja, nyawa ibu Anda tidak akan tertolong. Dan tahukah Anda, karena syok, kedinginan, dan stres berat akibat diusir semalam, istri Anda tiba-tiba mengalami pendarahan hebat di jalan, dan kini, kami harus memilih siapa yang bisa kami selamatkan, istri Anda, atau bayi di kandungannya."
***
Bab 2
"Tanda tangani surat persetujuan operasi ini sekarang, Pak! Satu detik saja Anda ragu, Anda akan kehilangan darah daging Anda dan wanita yang sudah menyelamatkan nyawa ibu Anda!"
Bentakan Dokter Handoko tak ubahnya petir yang menyambar tepat di ulu hatiku. Papan dan pulpen yang disodorkannya dengan kasar ke depan dadaku terasa seperti vonis mati.
Tubuhku gemetar hebat. Persendian di lututku seolah luruh tak bertulang, memaksaku jatuh bersimpuh di lantai koridor rumah sakit yang dingin.
Udara di sekitarku tiba-tiba terasa lenyap. Dadaku sesak, dicekik oleh rasa bersalah yang teramat masif hingga aku tak bisa bernapas.
"Dok, saya mohon." suaraku bergetar parah, nyaris hanya berupa cicitan putus asa. Air mataku tumpah tanpa bisa dicegah.
"Selamatkan keduanya, Dok. Tolong, selamatkan Arini dan bayi kami. Berapa pun biayanya akan saya bayar! Saya akan cari pinjaman ke mana pun, Dok!"
Dokter Handoko mendengus sinis. Sorot matanya menatapku penuh amarah.
"Sekarang Anda bicara soal nyawa dan uang? Ke mana saja Anda tadi malam saat istri Anda datang ke sini dengan daster basah kuyup, bibir membiru kedinginan, dan tangan bergetar menyerahkan uang jaminan lima puluh juta agar kami segera mengoperasi ibu kandung Anda?!"
Aku memejamkan mata kuat-kuat. Ya Allah, apa yang sudah kulakukan?
"Dia bahkan mengabaikan rasa sakit di perutnya sendiri, memohon kepada kami untuk memprioritaskan ibu Anda karena saudara-saudara Anda lepas tangan! Dan karena stres berat serta terguncang diusir oleh Anda, pembuluh darahnya pecah. Tanda tangani ini sekarang, atau bayinya tidak akan selamat!"
Dengan tangan yang gemetar tak karuan, aku menorehkan tanda tangan di atas kertas itu.
Kertas yang menjadi penentu hidup dan matinya dua nyawa yang paling berharga dalam hidupku.
Begitu kertas itu kuserahkan, Dokter Handoko langsung berbalik dan setengah berlari memasuki ruang operasi.
Lampu merah di atas pintu menyala, menandakan pertarungan antara hidup dan mati telah dimulai.
Aku merangkak mendekati pintu ruang operasi, menempelkan dahi dan telapak tanganku pada daun pintunya. Isak tangisku pecah, menggema di lorong yang sepi.
Terngiang kembali suara keras bantinganku pada koper berisi pakaian Arini semalam.
Terbayang wajah pucatnya yang bersimpuh memeluk kakiku, memohon belas kasihan di tengah dinginnya angin malam.
Namun, aku justru menepisnya, menuduhnya sebagai pencuri, dan menjatuhkan talak padanya tanpa memberinya kesempatan untuk bicara satu kata pun.
Istriku bukan pencuri. Dia malaikat yang kuusir dengan tanganku sendiri demi menyelamatkan nyawa ibuku.
***
Sudah dua jam berlalu, dan pintu operasi belum juga terbuka.
Aku baru saja bangkit dari lantai berniat menuju ruang perawatan ibuku untuk melihat kondisinya, ketika sayup-sayup kudengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan berat dari ujung lorong.
Bukan hanya satu atau dua orang. Aku menoleh dengan mata merah dan bengkak.
Mataku membelalak mendapati belasan pria berjas hitam legam berbaris rapi mengamankan lorong.
Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pria paruh baya dengan setelan jas navy beraura bangsawan yang terlihat sangat mahal.
Auranya memancarkan intimidasi yang luar biasa, dengan rahang mengeras dan tatapan mata yang setajam elang.
Di belakangnya, seorang pemuda tampan dengan gurat wajah yang sangat mirip dengan Arini, menatapku dengan raut wajah penuh dendam yang siap meledak.
Aku mundur selangkah. Jantungku berpacu gila.
Siapa mereka? Setahuku, Arini hanyalah anak panti asuhan yang sebatang kara dan tak punya keluarga.
Pria paruh baya itu berhenti tepat di hadapanku. Tanpa peringatan apa pun, tangannya terayun ke udara.
PLAAKKK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku hingga ujung bibirku robek dan mengeluarkan darah.
Tubuhku terhuyung dan ambruk menghantam kursi tunggu. Telingaku berdenging hebat.
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, pria itu mencengkeram kerah bajuku, menarikku ke atas hingga kakiku nyaris terangkat dari lantai.
Matanya berkilat menakutkan, menusuk tepat ke dalam manik mataku.
"Tadi malam kau membuang putriku ke jalanan yang dingin layaknya seorang pencuri hina hanya karena uang receh lima puluh juta? Kau salah besar memilih lawan, Dewa! Jika sampai terjadi sesuatu pada putri kesayanganku dan cucu pewaris utama Keluarga Suryanegara di dalam sana, aku pastikan kamu akan memohon agar nyawamu dicabut hari ini juga!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar