"Sayang, ini sup ayam atau kuah garam? Asinnya bukan main, mulutku bisa rusak kalau begini terus!" keluhku sambil menyingkirkan mangkuk dari hadapanku. Selera makanku menguap tak berbekas.
Qila, istriku yang selalu tampil sederhana dengan daster pudar andalannya, langsung menunduk. Ia meremas ujung dasternya dengan wajah pias dan mata berkaca-kaca, membuatku langsung dihinggapi rasa bersalah.
"Maaf, Mas Gio. Tadi aku lupa menaruh gula, dan sepertinya, takaran garamku kelebihan," cicitnya nyaris tak terdengar.
Aku membuang napas kasar, memijat pelipisku yang mendadak berdenyut.
"Kelebihan? Setiap hari, Qila. Setiap hari selama tiga tahun pernikahan kita, masakanmu tidak pernah ada yang pas di lidah. Kalau tidak keasinan parah, kegosongan, atau dagingnya keras seperti batu. Uang belanja puluhan juta yang kuberikan tiap bulan itu kamu belanjakan bahan apa sebenarnya?"
"Maaf, Mas, aku memang istri yang bodoh," isaknya mulai terdengar.
Melihat air matanya, hatiku luluh juga. Aku memang selalu lemah jika melihatnya menangis.
Aku bangkit, meraih jas kerjaku dan menghela napas panjang.
"Sudahlah, jangan menangis. Biar aku pesan katering saja di kantor nanti. Kamu bereskan saja meja ini."
Tanpa menunggu jawabannya, aku bergegas keluar rumah menuju mobil.
Perutku keroncongan, tapi aku sudah berlangganan katering premium Dapur Nirwana di kantor.
Katering langganan divisiku yang harganya selangit, namun rasanya setara bintang lima. Setidaknya, perutku terselamatkan siang ini.
Sialnya, saat aku baru tiba di lobi kantorku, aku meraba kursi penumpang dan menyadari satu hal fatal.
Map merah berisi berkas kontrak penting yang harus kutandatangani tertinggal di laci meja kerjaku di rumah.
Mau tidak mau, aku memutar balik mobil menembus kemacetan.
Saat aku memarkirkan mobil di garasi, suasana rumah tampak sepi. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Biasanya, jam-jam begini Qila sedang menyapu halaman atau menonton televisi.
Begitu aku membuka pintu depan yang tidak dikunci, sebuah aroma semerbak langsung menyapa indera penciumanku.
Wangi rempah yang kaya, perpaduan gurihnya santan, aroma daun jeruk, dan daging sapi yang dimasak sempurna.
Ini ... aroma rendang. Dan aromanya seratus persen persis dengan masakan dari Dapur Nirwana!
Setengah kebingungan dan dipenuhi rasa lapar, aku melangkah pelan menuju dapur.
Siapa yang memasak? Apa Qila memesan makanan dari luar untuk meminta maaf padaku?
Aku mengintip dari balik sekat ruang makan, dan pemandangan di depanku seketika membuat darahku mendidih. Langkahku terhenti, napasku tertahan.
Di sana, di dapur yang mewah hasil keringatku, berdiri seorang wanita yang nyaris tidak kukenali. Itu Qila.
Namun, daster pudarnya sudah berganti dengan celemek elegan membalut pakaian bermerek.
Rambutnya diikat rapi, dan tangannya bergerak begitu lincah menata potongan daging sapi ke dalam puluhan kotak makanan berlogo Dapur Nirwana.
Wajah memelasnya lenyap tak berbekas, digantikan oleh senyuman licik yang membuatku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Apa yang sebenarnya Qila sembunyikan dariku? Jangan-jangan dia..."
***
Ponselnya yang tergeletak di meja dapur berdering. Qila segera menekan tombol loudspeaker sambil terus memasukkan rendang dengan presisi tinggi.
"Halo, Sayang," suara bariton seorang pria dari seberang telepon menggema di dapurku.
Aku membekap mulutku sendiri. Sayang?!
"Gimana pesanan katering VIP kita hari ini, Qila? Suamimu yang bodoh itu pesan lagi untuk kantornya?" tanya laki-laki itu diiringi tawa meremehkan.
Qila tertawa sinis, tawa yang tidak pernah kudengar selama ini.
"Jelas dong, Mas. Dia kan sudah muak makan masakanku yang sengaja kubuat keasinan tiap hari. Biar cepat penyakitan juga dia! Ujung-ujungnya dia rela bayar mahal katering kita pakai uang perusahaannya. Uang belanjanya masuk kantongku, uang kateringnya juga masuk rekening kita. Bodoh banget kan suamiku itu?"
Bumi seakan berhenti berputar. Tanganku mengepal kuat hingga buku-buku jariku memutih.
Kukira dia selama ini hanya wanita lugu yang tak pandai memasak. Ternyata, dia adalah wanita licik yang menggerogoti hartaku dari segala sisi!
"Pintar banget sih calon istriku," puji pria itu lagi.
"Lalu, kapan kamu cerai dari Gio? Sertifikat rumah mewah kalian dan aset perusahaannya sudah kamu manipulasi untuk balik nama ke namamu, kan?"
"Tenang saja, Mas. Sebentar lagi seluruh hartanya habis kukuras. Begitu dia jatuh miskin dan tubuhnya hancur karena terus-terusan kuberikan makanan beracun dan garam berlebih, aku akan menendangnya keluar. Nanti kita nikmati semua uang Gio berdua!"
Duniaku runtuh, disusul oleh kobaran amarah yang membakar hingga ke ubun-ubun.
Jadi selama ini dia sengaja menyiksaku perlahan? Menggunakan uangku untuk membangun bisnis rahasia bersama selingkuhannya, dan berencana membuangku setelah hartaku habis?!
Aku hampir saja melangkah maju untuk membalikkan meja dapur itu dan mencekik lehernya saat itu juga.
Namun, akal sehatku menahanku.
Tidak. Membawa masalah ini ke polisi atau melabraknya sekarang hanya akan memberinya celah untuk menyembunyikan aset-asetku yang sudah dia manipulasi.
Aku harus bermain cantik. Dia pikir dia sutradara dari penderitaanku?
Akan kutunjukkan padanya bagaimana cara memutarbalikkan naskah ini.
Aku akan berpura-pura bodoh sedikit lebih lama, membiarkannya terbang setinggi mungkin, sebelum kutarik sayapnya hingga ia jatuh menghantam dasar jurang paling dalam.
Akan kurebut kembali semua milikku tanpa sisa.
Aku mundur perlahan, keluar dari rumah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Mataku menatap tajam ke arah pintu kayu yang tertutup rapat, menyisakan senyum sedingin es di bibirku.
"Silakan tertawa di atas penderitaanku hari ini, Qila," bisikku pelan namun penuh penekanan.
"Karena esok, aku sendiri yang akan menghidangkan kehancuranmu di atas piring emas, dan memastikan kau menelannya sampai tak bersisa."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar