Kamis, 07 Mei 2026

(19) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Tiga puluh tahun lalu kamu mencuri seorang bayi dari pelukan ibunya dengan harapan menjadikannya mesin uang seumur hidup. Tapi malam ini, aku datang untuk memberitahumu bahwa bayi yang kamu jadikan kuli itu adalah pewaris tunggal kerajaan bisnisku, dan aku adalah ayahnya yang akan memastikan kamu menghabiskan sisa umurmu membusuk di balik jeruji besi ini."


Suara bariton Tuan Haris Wijaya yang berat dan berwibawa itu menggema di ruang interogasi kantor kepolisian yang dingin.


Di seberang meja besi, Maryam duduk gemetar. Baju tahanan berwarna oranye yang membalut tubuh rentanya tampak kebesaran. 


Wajahnya yang kuyu seketika berubah sepucat pasi saat melihat pria paruh baya berjas rapi yang berdiri menjulang di hadapannya, diapit oleh deretan pengacara kelas atas dengan setelan mahal.


Aku berdiri di samping ayahku, menatap wanita yang selama puluhan tahun membohongiku itu dengan tatapan sedingin es. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa iba di hatiku.


"T-Tuan Haris, m-majikanku dulu," gumam Maryam dengan bibir bergetar hebat. 


Ia mengenali wajah itu. Wajah majikan yang dulu ia khianati saat keluarganya tengah berada di ambang kehancuran. 


Matanya beralih padaku, membelalak ngeri saat menyadari kebenaran yang kini terkuak sempurna. 


"D-Danu, jadi kamu sudah tahu?"


"Tim hukumku sudah menyerahkan bukti DNA, rekaman medis, dan berkas tuntutan baru atas kasus penculikan, pemalsuan dokumen, serta eksploitasi anak ke meja kejaksaan," ucap Tuan Haris memotong tanpa ampun. 


"Tebak berapa lama kamu akan hidup di sel yang lembap itu, Maryam? Seumur hidup. Dan aku akan menggunakan seluruh kekuasaanku untuk memastikan tidak ada satu pun pengacara di negeri ini yang berani mengambil kasusmu."


Maryam menjatuhkan dirinya ke lantai yang dingin, bersujud di bawah kaki ayahku sambil meratap histeris memohon ampun, tapi kami segera berbalik meninggalkannya. Tangisan palsunya tak lagi memiliki harga.


***


Malam itu juga, iring-iringan mobil mewah yang dikawal ketat membawa aku dan ayahku kembali ke rumah.


Begitu pintu utama rumah megahku terbuka, Sari yang sudah mendapat kabar kepulanganku langsung menyambut di ruang tamu. 


Istriku tampak luar biasa anggun dengan gaun malam sederhana, menggandeng Bintang yang sedang mengucek mata karena mengantuk.


Tuan Haris mematung di ambang pintu. Matanya yang tajam seketika melembut, berkaca-kaca menatap Sari dan Bintang.


"Sari," ucapku lembut, merangkul pinggang istriku dan menuntunnya mendekat. 


"Kenalkan, beliau adalah Tuan Haris Wijaya. Bosku di Taiwan, dan juga ayah kandungku yang sebenarnya."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(11) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

  "Han, aku mohon! Jangan hukum Mama seperti ini. Hukum aku saja!"  Aku maju selangkah, menangkupkan kedua tangan di depan dada. R...