Kamis, 07 Mei 2026

(2) Pulang bekerja dari luar negeri, aku kaget saat melihat wanita hamil di rumahku. Wanita itu sangat akrab dengan suami dan mertuaku. Saat kuselidiki, ternyata wanita itu adalah...

 


"Jangan cemburu begitu, Aluna Sayang. Istri bodohku itu cuma mesin ATM berjalan untuk kita. Begitu semua asetnya berhasil kuambil alih, jangankan kamar utama ini, nyawanya pun tak akan ada harganya lagi di mataku."


Suara bisikan Mas Dewa, laki-laki yang selama ini kucintai, terdengar lamat-lamat dari balik celah pintu kamarku yang sengaja tak kututup rapat semalam. 


Diikuti kekehan pelan dari wanita benalu itu, suara mereka menyatu dengan derik jangkrik di luar jendela. 


Darahku mendidih, tapi seulas senyum sinis justru terbit di bibirku di tengah kegelapan kamar.


Mesin ATM, ya? Mari kita lihat siapa yang akan mengemis di pinggir jalan sebentar lagi, batinku.


***


Pagi harinya, aku keluar kamar dengan wajah paling ceria yang bisa kutampilkan, seolah aku adalah istri paling beruntung di dunia. 


Di ruang makan, Ibu Lidya dan Aluna sedang asyik berbincang, sementara Mas Dewa sedang menyesap kopinya. 


Begitu melihatku, tawa mereka langsung terhenti di udara, berganti dengan senyum kaku yang memuakkan.


"Pagi, Mas! Pagi, Ibu! Pagi, Mbak Aluna!" sapaku riang, meletakkan celemek di kursi dan mulai menyiapkan piring untuk sarapan. 


"Wah, Mbak Aluna kelihatannya segar banget hari ini. Pasti dedek bayinya sehat ya di dalam sana?"


Aluna tersenyum canggung, tangannya refleks mengelus perut buncitnya. 


"I-iya, Mbak Vanya. Alhamdulillah sehat."


"Syukurlah," ucapku tulus, terlalu tulus sampai Mas Dewa menatapku dengan dahi berkerut heran. 


"Oh iya, sebelum sarapan, Vanya mau bagi-bagi oleh-oleh dulu nih!"


Aku berjalan ke ruang tengah dan menyeret koper besarku. Mata Ibu Lidya langsung berbinar serakah, persis seperti lintah kelaparan. 


Aku mengeluarkan sebuah tas bermerek edisi terbatas yang berkilau elegan di bawah lampu ruangan.


"Ini buat Ibu," kataku, menyodorkan tas itu. "Keluaran terbaru, Bu. Vanya sengaja belikan pakai uang lembur Vanya berbulan-bulan supaya Ibu bisa pamer ke teman-teman arisan pengajian."


Tangan keriput Ibu Lidya gemetar saat menerimanya. Matanya melotot tak percaya meraba kulit tas tersebut. 


"Y-Ya ampun, Vanya. Ini asli? Mahal sekali pasti! Kamu memang menantu Ibu yang paling pengertian!" pujinya dengan nada semanis madu yang membuatku mual. 


Tentu saja itu asli, Bu. Tapi nikmatilah selagi bisa, karena sebentar lagi tas itu akan jadi barang bukti penyitaan aset.


Lalu aku beralih pada Mas Dewa, memberikannya sebuah jam tangan mewah bertahtakan safir yang membuat suamiku itu sampai menahan napas saking senangnya.


"Dan ini buat Mbak Aluna," ucapku tiba-tiba, mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil dari saku dasterku.


Ketiga orang di ruangan itu tersentak kaget. Aluna menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar. 


"B-buat saya, Mbak?"


"Iya dong," aku tersenyum sangat manis. 


Kubuka kotak itu, memperlihatkan sebuah gelang emas putih berlian yang sangat indah. 


"Mbak Aluna kan keponakan jauh Ibu yang lagi kesusahan ditinggal suami tak bertanggung jawab. Apalagi sedang hamil besar begini, pasti butuh banyak persiapan. Anggap saja ini rezeki untuk si jabang bayi, ya."


Wajah Mas Dewa pucat pasi, sementara Ibu Lidya menelan ludah kasar. 


Mereka bertukar pandang dengan cemas. Mereka pasti berpikir aku adalah wanita yang terlalu mudah dibodohi dan diperas.


Padahal, mereka tidak tahu bahwa selama tiga tahun di luar negeri, aku tidak hanya menjadi 'pekerja biasa' seperti yang mereka bayangkan. 


Mereka pikir uang bulananku adalah hasil cuci piring? Aku tertawa dalam hati. 


Padahal aku pulang membawa rahasia besar. 


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar