Kamis, 07 Mei 2026

(13) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Kamu mau menipu siapa dengan gaya sok kayamu itu, Fitri?! Uang lima ratus juta itu bukan daun pisang yang bisa kamu petik sembarangan di belakang rumah!"


Suara tawa sumbang Ibu memecah ketegangan yang sejak tadi mencekik leher. 


Beliau menunjuk wajah Fitri dengan jari gemetar, berusaha menutupi rasa paniknya dengan terus merendahkan istriku. 


Di mata Ibu, Fitri hanyalah perempuan sederhana yang kunikahi enam bulan lalu tanpa pesta mewah.


"Fit, apa yang kamu bicarakan, Sayang?" 


Aku melangkah maju, menyentuh bahu Fitri dengan hati-hati. Kepalaku pening. 


Rentenir, hutang setengah miliar, dan kini istriku yang tiba-tiba bersikap layaknya seorang bos besar. 


Semuanya terjadi terlalu cepat dan di luar nalar.


Fitri menoleh padaku. Tatapan tajamnya melembut sesaat, menyiratkan penyesalan yang mendalam. 


"Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa menyembunyikan identitasku selama ini karena aku ingin mencari pria yang tulus mencintaiku dan mau melindungiku, bukan karena hartaku. Dan Mas sudah membuktikan ketulusan itu."


Tanpa membuang waktu, Fitri menggeser layar ponsel mewahnya yang baru saja ia keluarkan, lalu menekan satu nomor. Ia langsung mengaktifkan mode pengeras suara agar kami semua bisa mendengar.


"Halo, Nona Muda. Ada yang bisa saya bantu malam ini?" 


Sebuah suara pria yang sangat formal dan tegas terdengar dari seberang sana.


"Dimas, tolong lacak hutang atas nama Ningsih di rentenir daerah ini. Lunasi semuanya detik ini juga. Lalu urus dokumen perpindahan tangan sertifikat rumahnya menjadi atas namaku," perintah Fitri dengan nada yang sangat berwibawa, jauh dari kesan gadis penurut yang selama ini kukenal.


"Baik, Nona Muda. Akan saya selesaikan dalam waktu kurang dari lima menit."


Panggilan ditutup. Ibu kembali mendengus sinis, melipat tangannya di depan dada. 


"Sandiwara macam apa ini? Kamu menyewa temanmu untuk berpura-pura jadi asisten? Jangan mimpi kamu bisa membodohi—"


Ucapan Ibu terpotong oleh dering nyaring dari ponselnya sendiri. Wajah Ibu seketika memucat saat melihat nama penelepon di layar. 


Dengan tangan bergetar hebat, Ibu mengangkat telepon itu dan menempelkannya perlahan ke telinga.


"H-halo, Bang?"


Suara lantang dan kasar dari seberang telepon bocor hingga terdengar oleh kami. 


"Heh, Ningsih! Beruntung banget nasib lu malam ini! Hutang lu yang lima ratus juta itu udah dilunasi lunas tuntas sama bos besar! Tapi ingat, mulai malam ini sertifikat rumah lu resmi ditarik sama pihak mereka. Lu udah nggak punya hak apa-apa lagi atas tanah dan bangunan itu!"


Sambungan diputus sepihak.


Ponsel di tangan Ibu tergelincir, jatuh menghantam lantai keramik. Lutut wanita paruh baya itu seakan kehilangan tulangnya. 


Ia ambruk, menatap Fitri dengan mulut terbuka dan mata membelalak lebar, seolah baru saja melihat penguasa dunia turun ke bumi.


"T-tidak mungkin... k-kamu... siapa kamu sebenarnya, Fitri?!" gumam Ibu dengan suara tercekat, ketakutan kini sepenuhnya menguasai dirinya.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar