Kamis, 07 Mei 2026

Kartu ATM-ku diblokir saat aku sedang mengajak selingkuhanku belanja. Saat aku pulang ingin kinta uang ke suamiku, eh tidak ada orang lagi, bahkan barang dirumahku sudah habis. Dan aku kaget sekali saat tahu rumahku akan disita!

 


"Maaf, Ibu. Transaksinya ditolak. Kartu Anda diblokir."


Kalimat dari kasir butik mewah itu bagaikan petir di siang bolong. 


Aku menatap mesin EDC di atas meja kasir dengan mata membelalak, lalu menatap wajah kasir itu dengan garang.


"Coba lagi! Mesin kamu yang rusak paling! Suamiku itu manajer, uang di rekeningnya ratusan juta! Nggak mungkin diblokir!" bentakku kasar, tak peduli pada tatapan beberapa pengunjung butik yang mulai menoleh ke arah kami.


Di sebelahku, Reno, pria tampan yang baru sebulan ini menjadi selingkuhanku, mulai terlihat gelisah. Ia berdeham pelan, menyentuh lenganku. 


"Yuli, sayang. Kalau memang lagi nggak ada uang, nggak usah maksa. Jam tangan ini bisa aku beli sendiri kapan-kapan," bisiknya dengan nada yang terdengar meremehkan di telingaku.


Wajahku seketika memanas. Malu! Harga diriku sebagai wanita yang selalu mentraktir Reno barang-barang branded hancur seketika.


"Nggak, Sayang! Ini pasti ada kesalahan dari bank, atau Agam lupa bayar tagihan limitnya. Suamiku itu emang kadang suka ceroboh!" Aku mencoba tersenyum manis pada Reno, meski tanganku gemetar menahan marah. 


Aku merampas kartu ATM elit itu dari tangan kasir. 


"Kita pulang sekarang. Aku mau labrak si Agam! Berani-beraninya dia bikin aku malu di depan kamu!"


Sepanjang perjalanan pulang, aku terus mengumpati Agam. 


Suami macam apa dia? 


Bisanya cuma kerja, kerja, dan kerja, tapi mengurus kartu ATM istri saja tidak becus! Awas saja kau, Agam. 


Begitu aku sampai di rumah, akan kulempar kartu sialan ini tepat di wajah culunnya itu! 


Akan kupaksa dia mentransfer uang puluhan juta ke rekeningku detik ini juga sebagai permintaan maaf!


Taksi online yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan rumah mewah berlantai dua milik kami. Aku turun dengan langkah berapi-api. 


Namun, keningku berkerut saat melihat pintu gerbang utama tidak terkunci dan pintu depan rumah sedikit terbuka.


"Agam?!" teriakku sambil mendorong pintu utama dengan kasar. 


"Agam! Keluar kamu! Suami nggak berguna! Gara-gara kamu aku malu di depan temanku!"


Hening. Tidak ada jawaban.

Hanya suara pantulan langkah sepatuku yang menggema.


Dan seketika, mataku membelalak ngeri saat kesadaranku penuh.


Ruang tamu ini kosong melompong!


Sofa kulit seharga seratus juta yang baru kubeli bulan lalu? Lenyap. TV layar datar 70 inch yang menempel di dinding? Hilang. 


Bahkan karpet kesayanganku pun tidak ada di lantai.


"A—apa-apaan ini?! Agam! Kemana semua barang-barangku?!"


Dengan napas memburu dan jantung berdebar kencang, aku berlari naik ke lantai dua. Kubanting pintu kamar utama. 


Jantungku serasa berhenti berdetak. Lemari pakaianku terbuka lebar, rak tempatku menyimpan tas branded bersih tak bersisa. 


Bahkan kasur king size kami pun tidak ada. Kamar ini kosong, seolah tidak pernah dihuni!


Tubuhku luruh ke lantai yang dingin. Apa rumahku kerampokan? Tapi kenapa bersih sekali, tanpa ada jejak kerusakan? Di mana Agam?!


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan keras dari pintu depan membuatku tersentak. Agam! Itu pasti Agam! Aku segera bangkit dan berlari menuruni tangga dengan amarah yang kembali memuncak.


Namun, saat aku tiba di ambang pintu, bukan wajah suamiku yang kulihat. 


Dua orang pria bertubuh tegap dengan seragam resmi berdiri di sana, didampingi oleh seorang pria berkemeja rapi yang membawa sebuah papan plang berbahan seng.


"Maaf, apa benar Anda Ibu Yuli?" tanya pria berkemeja itu dengan wajah datar.


"I-iya, saya sendiri. Kalian siapa?! Mana Agam?! Kalian yang merampok rumah saya ya?!" jeritku histeris.


Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang membuat bulu kudukku meremang. Ia menyodorkan sebuah map merah ke hadapanku.


"Kami dari pihak bank dan pengadilan, Bu. Kami harap Ibu segera mengemasi barang-barang Ibu yang tersisa dan angkat kaki dari sini sekarang juga."


"Apa?! Angkat kaki?! Ini rumah saya! Suami saya yang beli!"


"Benar, ini rumah suami Anda. Dan Bapak Agam sudah meminjam dana miliaran rupiah dengan agunan sertifikat rumah ini yang ditandatangani atas nama Anda, lalu menunggak pembayarannya dengan sengaja. Mulai detik ini, rumah ini resmi kami sita!"


Pria itu memberi isyarat, dan dua petugas di belakangnya langsung memaku sebuah plang besar di pilar teras rumahku. Mataku menatap nanar tulisan tebal berwarna merah di plang tersebut.


[TANAH DAN BANGUNAN INI DISITA OLEH BANK.]


Duniaku runtuh seketika. Langit serasa menimpa kepalaku. 


Kartu ATM diblokir, barang-barang ludes, suami menghilang, dan kini, aku diusir dari rumahku sendiri dengan tumpukan utang miliaran rupiah?!


Agam, kejutan gila apa yang sebenarnya sedang kau mainkan padaku?!


***

Bab 2

"Tanda tangan apa?! Saya tidak pernah merasa menandatangani surat jaminan utang apa pun, apalagi sampai miliaran rupiah! Kalian pasti salah orang!" teriakku dengan suara serak, menepis kasar map merah yang disodorkan pria utusan bank itu.


Pria itu mendecak pelan, sama sekali tak terpengaruh oleh amarahku. 


"Silakan Ibu lihat sendiri. Ini tanda tangan asli Ibu di atas meterai. Kami punya bukti rekamannya juga saat suami Ibu memproses pinjaman ini."


Mataku terbelalak menatap deretan lekukan tinta itu. Itu ... itu memang tanda tanganku! 


Ingatanku tiba-tiba terlempar pada kejadian bulan lalu, saat Agam memberiku setumpuk dokumen. 


Katanya, itu hanya formulir pembaruan asuransi kesehatan dari kantornya. 


Bodohnya aku! Karena saat itu sedang terburu-buru ingin pergi ke salon untuk kencan dengan Reno, aku menandatanganinya begitu saja tanpa membaca satu kata pun!


"Tapi ... tapi saya ditipu! Suami saya yang menjebak saya!"


"Itu urusan internal keluarga Ibu. Tugas kami hanya mengosongkan aset ini. Silakan keluar sekarang juga, Bu, atau kami terpaksa melibatkan pihak berwajib."


Di bawah tatapan sinis para tetangga yang mulai berkumpul, aku didorong keluar dari gerbang rumahku sendiri. 


Terdengar bunyi gembok besar yang dikunci rapat, menyisakan diriku yang berdiri gemetar di trotoar dengan hanya berbekal tas tangan berisi ponsel dan dompet yang isinya tak sampai seratus ribu.


Panik, aku segera merogoh ponsel. Tujuanku satu-satunya sekarang adalah Reno. 


Pria tampan yang selalu memujiku bak ratu itu pasti mau menolongku. Dengan napas memburu, aku mendial nomornya.


"Halo, Sayang? Reno, tolong aku! Rumahku disita! Agam bawa kabur semua hartaku. Aku sekarang ada di depan rumah, kamu bisa jemput aku, kan? Aku mau tinggal di apartemenmu dulu sementara—"


"Hah? Disita? Jadi sekarang kamu gembel, Yul?" Suara Reno di seberang sana terdengar begitu ketus, tak ada lagi nada lembut mendayu seperti saat ia merengek minta dibelikan jam tangan di butik tadi siang.


"Reno, kok omongan kamu gitu? Aku ini butuh bantuan—"


"Dengar ya. Aku ini mau jalan sama kamu karena kamu royal dan banyak duit buat biayain gaya hidupku. Kalau sekarang kamu melarat, buat apa aku repot-repot nampung? Jangan hubungi aku lagi, dasar miskin!"


Tut. Tut. Tut.


Ponselku hampir jatuh dari genggaman. Air mataku akhirnya tumpah karena amarah. 


Kurang ajar! Laki-laki macam apa Reno itu?! Saat aku banyak uang, dia menempel seperti lintah. Saat aku jatuh, dia mencampakkanku seperti sampah!


Sambil mengusap air mata dengan kasar, aku memberhentikan taksi yang kebetulan lewat. 


Masih ada kartu kredit di tasku untuk membayar ongkosnya. 


Aku harus ke kantor Agam. Aku tahu persis letak gedung perusahaan tempat suamiku yang menjabat sebagai manajer itu bekerja. 


Aku akan membuat perhitungan dengannya! Akan kubuat dia malu dan kuobrak-abrik ruangannya!


***


Setengah jam membelah kemacetan, aku berlari memasuki gedung perkantoran megah itu. 


Kutembus area lobi dan langsung menggebrak meja resepsionis dengan keras.


"Di mana Agam?! Suruh manajer pemasaran kalian yang bernama Agam turun sekarang juga! Saya istrinya!" bentakku tanpa basa-basi, membuat beberapa karyawan di lobi menoleh kaget.


Resepsionis wanita itu tampak terkejut, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia menatapku dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang aneh, sebuah tatapan kasihan yang bercampur dengan rasa geli.


"Maaf, Bu Yuli. Tapi Pak Agam bukan manajer di sini."


"Jangan bohong kamu! Suamiku sudah lima tahun kerja di sini jadi manajer! Jangan coba-coba menutupi kelakuan busuknya ya!"


Resepsionis itu tersenyum tipis, melipat tangannya di atas meja. 


"Saya tidak berbohong, Bu. Pak Agam memang bukan manajer. Beliau adalah CEO sekaligus pemilik tunggal perusahaan dan gedung ini. Dan kebetulan, beliau sudah menitipkan pesan jika Ibu datang kemari."


Lututku seketika lemas. Napasku tercekat di tenggorokan. 


A-apa?! CEO? Pemilik perusahaan?!


Bukankah selama ini Agam selalu memakai motor bebek butut dan bilang gajinya hanya lima belas juta sebulan? 


Karena alasan itulah aku selalu meremehkannya, menguras uang tabungannya, dan mencari pria lain yang kuanggap lebih berkelas! Fakta gila macam apa ini?!


Di saat kepalaku masih berdenyut hebat mencerna kenyataan yang memutarbalikkan duniaku ini, ponsel di dalam tasku berdering kencang. 


Sebuah nomor tanpa nama memanggil. Dengan sisa tenaga yang gemetar, aku menggeser layar dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.


"Bagaimana rasanya jadi gembel, Sayang? Suka dengan kejutan kecil dariku, atau kau mau aku memenjarakan selingkuhan murahanmu itu juga hari ini?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar