Kamis, 07 Mei 2026

(6) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


"Pastikan supnya benar-benar mendidih, Putri. Ingat, kulit buaya darat itu sangat tebal, butuh suhu maksimal untuk bisa melepuhnya dengan sempurna."


Aku membisikkan kalimat itu tepat di telinga Putri. 


Dari balik tembok pembatas antara dapur bersih dan ruang makan, kami bisa mendengar suara tawa melengking Bella dan rayuan menjijikkan dari mulut Adi.


Pagi ini, sebelum kedua benalu itu terbangun, aku sudah menyeret Putri ke salon dan butik eksklusif langgananku. 


Daster kusam dan seragam pelayan itu sudah bersemayam di tempat sampah. 


Kini, menantuku berdiri tegak dengan balutan midi dress merah marun berbahan sutra, rambut yang di-blow sempurna membingkai wajahnya yang telah dirias elegan, dan sepasang stiletto hitam yang menopang kaki jenjangnya. 


Ia tampak seperti seorang ratu, bukan lagi babu. Untuk menutupi pakaian mahalnya sejenak, aku menyuruhnya memakai celemek tebal.


Di tangannya, sebuah mangkuk porselen besar berisi sup iga yang uapnya mengepul panas telah siap.


Putri menarik napas panjang. Matanya yang dulu selalu memancarkan ketakutan, kini berkilat oleh keberanian dan dendam yang menyala. Ia mengangguk mantap padaku.


"Heh, Babu! Mana makan siangnya?! Telinga lo budek ya?!" Suara lengkingan Bella kembali terdengar, disusul gebrakan meja yang cukup keras. 


"Mas, usir aja deh pembantu gak becus itu! Bikin emosi aja bawaannya!"


"Iya, Sayang, sabar ya. Cewek mandul itu memang harus dikasih pelajaran—"


Ucapan Adi terputus seketika saat ujung stiletto Putri berketuk anggun memasuki ruang makan. Aku mengintip dari celah partisi, menikmati setiap detik perubahan raut wajah anak kandungku sendiri.


Mata Adi membelalak lebar, rahangnya nyaris jatuh ke lantai melihat siapa yang baru saja keluar dari dapurnya. 


Bella pun tak kalah terkejut. Wanita gatal itu sampai berhenti mengikir kuku palsunya, matanya memindai Putri dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan iri yang tak bisa disembunyikan.


"P-Putri? K-kamu pakai baju siapa itu?!" gagap Adi, menunjuk istrinya dengan jari gemetar.


Putri tidak menjawab. Ia melangkah dengan keanggunan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Wajahnya sedingin es. 


Setibanya di meja makan, ia meletakkan mangkuk porselen besar itu tepat di hadapan mereka berdua. Uap panas langsung mengepul ke wajah Adi.


"Ini pesanan Anda, Tuan," ucap Putri dengan nada datar dan formal, seolah ia benar-benar sedang melayani orang asing.


Bella yang merasa terintimidasi oleh kecantikan Putri tiba-tiba mendengus kasar. 


"Gak usah sok cantik lo! Paling juga itu baju hasil nyolong dari lemari majikan, kan? Heh, buruan tuangin supnya ke mangkuk gue! Berdiri aja lo kayak patung!"


"Tentu, Nona."


Putri mengambil sendok sayur besar berbahan stainless steel. Ia menyendok kuah sup yang mendidih berbuih itu penuh-penuh. 


Alih-alih mengarahkannya ke mangkuk kecil milik Bella, tangan Putri dengan sengaja, dan dengan gerakan yang sangat terukur, memiringkan sendok sayur itu tepat di atas kaki Adi.


BYUURR!


"AAARRRGGGHHH!!!"


Jeritan melengking Adi menggelegar ke seluruh penjuru rumah. 


Pria arogan itu melompat dari kursinya seperti cacing kepanasan, mengibaskan celana kain mahalnya yang kini basah kuyup oleh kuah mendidih dan lemak sapi. Wajahnya merah padam menahan rasa sakit yang luar biasa.


"MAS ADI!" Bella ikut menjerit panik, melompat mundur agar tidak terciprat.


"Panas! Panas! Sialan! Apa yang kamu lakukan, perempuan gila?!" rutuk Adi sambil meringis kesakitan, menatap Putri dengan sorot marah.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar