Jumat, 15 Mei 2026

(11) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Han, aku mohon! Jangan hukum Mama seperti ini. Hukum aku saja!" 


Aku maju selangkah, menangkupkan kedua tangan di depan dada. Rasa bersalah membuatku nyaris tak bisa bernapas. 


"Aku bodoh! Aku buta karena termakan omongan Mama! Tapi bagaimanapun juga, dia ibuku, Han. Kau tidak mungkin sekejam itu membiarkannya mati pelan-pelan."


Hani tersenyum tipis. Ia bangkit berdiri, merapikan setelan blazer-nya, lalu berjalan selangkah mendekatiku. 


Aroma parfumnya yang elegan menyapu indra penciumanku, mengingatkanku betapa jauhnya jarak kami sekarang.


"Aku memang tidak sekejam itu, Mas," ucap Hani lembut, menatap tepat ke dasar manik mataku. 


"Obat itu ada padaku, dan aku bisa memberikannya secara cuma-cuma padamu detik ini juga."


Napas yang sedari tadi kutahan akhirnya terlepas. 


"B-benarkah, Han? Terima kasih. Ya Tuhan, terima kasih."


"Tapi ada satu syarat," potong Hani tenang, menghentikan ucapan syukurku di udara.


"Apapun, Han. Katakan saja."


Senyum di bibir Hani perlahan pudar, digantikan oleh sorot mata paling redup dan paling terluka yang pernah kulihat seumur hidupku.


"Bawa ibumu kemari besok pagi. Biar dia sendiri yang mengambil obatnya dari tanganku," ucap Hani pelan, namun intonasinya membuat seluruh darah di tubuhku seakan berhenti mengalir. 


"Dan pastikan dia siap menjawab satu pertanyaanku di depanmu, Mas. Coba tanyakan padanya, lembar persetujuan operasi apa yang diam-diam ia tanda tangani di rumah sakit malam itu, yang membuat dokter harus mengangkat rahimku hingga aku tak akan pernah bisa memberimu keturunan seumur hidupku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(11) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

  "Han, aku mohon! Jangan hukum Mama seperti ini. Hukum aku saja!"  Aku maju selangkah, menangkupkan kedua tangan di depan dada. R...