"Memaafkan pengkhianat bukanlah tugas kita, Nyonya Putri. Jika Anda ingin membalas setiap luka dan air mata yang pria bajingan itu berikan, saya siap berdiri di garis depan untuk membantu Anda menghancurkannya."
Suara bariton nan tegas milik Komandan Dirga menggetarkan udara di ruang tamu. Pria berseragam militer itu berdiri tegap, menatap lurus ke arah Putri yang kini sedikit melebarkan matanya.
Tawarannya yang sederhana namun penuh perlindungan itu membuat pipi menantuku merona seketika.
Aku tersenyum puas sambil menyesap teh. Putri, yang selama ini hanya menunduk ketakutan di bawah bentakan Adi, kini diperlakukan dengan begitu terhormat.
"Bagus, Komandan. Ibu percayakan menantu kesayangan Ibu padamu," ucapku mantap. Aku beralih menatap Putri.
"Malam ini tidurlah yang nyenyak, Nak. Besok pagi, kita mulai pembalasan dendam kita sesungguhnya."
***
Keesokan paginya, lobi utama Rajendra Corporation mendadak riuh. Dari dalam mobil hitam yang terparkir mulus di depan lobi, aku dan Putri mengamati kekacauan di balik pintu kaca.
Di sana, Adi sedang mengamuk. Penampilannya sungguh mengundang tawa miris. Pria yang kemarin sore masih menyombongkan jabatan itu kini terlihat sangat berantakan. Kemejanya kusut, rambutnya acak-acakan, dan ia berdiri dengan menahan perih di kakinya akibat luka siraman sup kemarin.
"Kalian tidak tahu siapa aku, hah?! Aku Manajer Operasional di sini! Biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku!" raung Adi, berusaha menerobos hadangan dua sekuriti gedung.
"Maaf, Pak Adi. Nama Anda sudah masuk daftar blacklist. Anda dilarang masuk," ucap salah satu sekuriti dengan wajah datar.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar