Aku kemudian berbalik, menunduk dalam-dalam di hadapan Tuan Suryanegara dan Bara dengan kedua tangan bertaut memohon.
"Saya mohon, Tuan. Hukum saya seberat-beratnya. Penjarakan saya! Tapi tolong, biarkan Ibu saya ditangani, beliau tidak tahu apa-apa."
Tepat pada detik yang sama, lampu merah di atas pintu ruang operasi padam.
Pintu bergeser perlahan, menampilkan Dokter Handoko yang keluar dengan raut wajah kelelahan, namun gurat kelegaan terpancar jelas di matanya.
Suasana mendadak hening. Tuan Suryanegara dan Bara langsung melangkah maju mendekati sang dokter.
"Bagaimana keadaan putri dan cucuku, Dok?!" tanya Tuan Suryanegara dengan suara bergetar menahan cemas.
Dokter Handoko mengembuskan napas panjang, tersenyum tipis, lalu mengangguk hormat.
"Masa kritisnya sudah terlewati, Tuan Besar. Nona Arini dan bayinya selamat. Beliau baru saja siuman beberapa menit yang lalu."
Aku membuang napas dengan kasar. Lututku lemas seketika karena lega yang tak terkira.
Alhamdulillah, Arini selamat.
Aku berniat melangkah masuk, ingin memeluknya dan memohon ampunan dari bibirnya langsung.
Namun, Dokter Handoko tiba-tiba mengangkat tangannya, menahanku.
Tatapan dokter itu kembali berubah dingin saat menatapku, sebelum ia menyodorkan sebuah tablet digital dengan layar menyala tepat ke arah dadaku.
"Jangan melangkah masuk, Pak Dewa. Nona Arini menitipkan pesan mutlak untuk Anda. Beliau memerintahkan agar ibu Anda dipindahkan ke Presidential Suite dengan fasilitas medis terbaik sebagai sedekah terakhirnya. Namun sebagai gantinya, besok pagi pengacara beliau akan menemui Anda membawa surat cerai, pencabutan hak asuh mutlak, dan surat pemecatan dari perusahaan tempat Anda bekerja. Pesan beliau yang terakhir: 'Bawa pakaianmu dan angkat kaki dari rumah itu malam ini juga, Dewa. Karena sedari awal, rumah dan tanah yang kau banggakan itu, adalah aset properti milikku yang kubeli secara diam-diam.'"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar