"Ambil kayu rongsokan ini! Ambil!" jerit Ibu histeris. Ia melemparkan kotak itu dengan kasar ke dadaku hingga aku harus sigap menangkapnya agar tidak jatuh.
"Kamu puas sekarang, Putra?! Kamu membuang surga di telapak kakimu demi perempuan yang tiba-tiba berkuasa ini! Ibu bersumpah, penyesalan akan mengejarmu seumur hidup!"
Aku menatap Ibu tanpa riak emosi. Tanganku memegang erat kotak kayu peninggalan Bapak yang terasa dingin di genggaman.
"Surga itu sudah Ibu hancurkan sendiri sembilan tahun yang lalu, saat Ibu membiarkan Bapak meregang nyawa demi uang miliaran," balasku dengan nada yang begitu datar namun tajam mengiris.
"Silakan pergi, Bu. Pintu gerbang terbuka lebar untuk Ibu."
Wajah Ibu merah padam. Bibirnya bergetar hebat, namun ia tak mampu membalas kata-kataku lagi.
Dengan napas tersengal dan air mata yang terus bercucuran, Ibu berbalik.
Ia menarik gagang kedua kopernya dengan susah payah, menyeretnya melewati ambang pintu, dan melangkah keluar dari rumah yang selama ini menjadi tempatnya bertindak sesuka hati.
Dari balik jendela ruang tamu, aku dan Fitri berdiri berdampingan, mengawasi langkah gontai wanita paruh baya itu.
Karma tidak perlu menunggu waktu lama untuk menyapa Ibu.
Alih-alih langsung pergi keluar kompleks, kulihat Ibu membelokkan langkahnya menuju rumah Bu Tejo yang berada tepat di seberang jalan.
Ia mengetuk pagar besi rumah itu sambil menangis memelas.
Tak lama, Bu Tejo keluar. Namun, raut wajah tetangga kami itu tidak menunjukkan simpati sedikit pun.
"Jeng Tejo, tolong saya, Jeng. Boleh saya menginap di rumah Jeng malam ini saja? Saya diusir, Jeng."
Sayup-sayup terdengar suara Ibu meratap dari seberang jalan.
Bu Tejo berkacak pinggang, menatap Ibu dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan.
"Enak saja! Kemarin Ibu menuduh menantu Ibu mencuri kalung emas saya dan sengaja menyembunyikannya di tas Ibu sendiri! Sekarang setelah ketahuan belangnya, Ibu mau menumpang di sini? Tidak sudi! Nanti perabotan saya malah hilang semua! Pergi sana, Bu Ningsih! Jangan bikin kotor depan rumah saya!"
Tanpa basa-basi, Bu Tejo membanting gerbangnya hingga tertutup rapat, meninggalkan Ibu yang mematung dengan rasa malu yang luar biasa.
Beberapa tetangga yang kebetulan sedang menyapu halaman hanya menatap sinis, berbisik-bisik sambil menggelengkan kepala.
Tidak ada yang mau menolong pembohong yang hobi mengadu domba.
Dengan langkah terseok-seok dan kepala tertunduk dalam, Ibu akhirnya menyeret kopernya menjauh, menyusuri jalanan aspal kompleks yang terik, resmi menjadi gelandangan tanpa uang sepeser pun.
Melihat pemandangan itu, hatiku terasa campur aduk, namun rasa lega jauh lebih mendominasi. Keadilan pertama untuk Fitri telah terbayar tunai.
"Mas."
Panggilan lembut Fitri menyadarkanku. Istriku menyentuh lenganku, menatapku dengan senyum yang begitu tulus dan menenangkan.
"Maafkan aku dan Papa ya, Mas," ucap Fitri pelan.
"Sebenarnya, Papa sama sekali tidak berniat memisahkan kita. Dimas dan surat cerai itu hanyalah bagian dari rencana Papa."
Aku mengernyitkan dahi, menatapnya penuh tanda tanya.
"Rencana bagaimana maksudmu, Fit?"
"Papa tahu Ibumu adalah dalang di balik kehancuran almarhum ayahmu. Tapi Papa juga tahu, Mas sangat menghormati Ibu," jelas Fitri dengan bahasa yang sederhana.
"Jadi, Papa membuat skenario ini untuk menekan Ibumu sampai ke titik paling bawah, sekaligus menguji apakah Mas akan membelaku dan berdiri di pihak yang benar. Dan Mas membuktikannya. Papa sengaja memberikan waktu dua puluh empat jam agar Mas bisa membongkar sendiri kotak itu tanpa gangguan.
Fitri mengusap lenganku.
"Karena ada rahasia yang besar di dalamnya, Mas."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar