"Bawa saja perempuan simpananmu itu ke rumah kita, Mas. Bukankah lebih irit berbagi atap daripada kamu harus terus-terusan menguras tabungan demi menyewa kamar hotel bersamanya?"
Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Iren. Tidak ada air mata yang menetes membasahi pipinya, tidak ada teriakan histeris yang memekakkan telinga, apalagi piring terbang yang melayang di udara.
Wanita yang sudah kunikahi selama lima tahun itu hanya melipat tangan di dada, menatapku dan Viona secara bergantian dengan senyum miring yang sangat sulit diartikan.
Aku membeku di tempatku berdiri. Lidahku terasa kelu. Viona yang sedari tadi bergelayut manja di lenganku juga ikut terdiam seribu bahasa.
Kami baru saja tertangkap basah sedang bermesraan di sebuah kafe langganan, dan reaksi istriku justru benar-benar di luar nalar manusia normal.
Biasanya, perempuan yang memergoki suaminya selingkuh akan menjambak, menampar, atau setidaknya memaki habis-habisan.
Tapi Iren? Dia berdiri layaknya seorang ratu yang sedang menatap rakyat jelata.
"Kamu ... kamu serius, Ren?" tanyaku terbata-bata setelah berhasil menemukan kembali suaraku.
Otakku masih berusaha memproses situasinya yang terasa tidak masuk akal ini.
"Kamu mau aku membawa Viona ke rumah kita?"
Iren mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke arah Viona dari atas sampai bawah, seolah sedang menilai barang murahan di pasar loak.
"Kenapa tidak? Aku malah ingin kenal lebih dekat dengan wanita yang sudah berhasil membuat suamiku lupa daratan dan lupa arah jalan pulang. Daripada kalian sembunyi-sembunyi seperti maling jemuran ketakutan, lebih baik bawa dia pulang. Biar aku yang menjamunya dengan pantas di rumah."
Viona mengeratkan pegangannya di lenganku, raut wajahnya terlihat sedikit tegang meski ia berusaha menutupinya dengan dagu yang diangkat tinggi.
"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu yang aneh-aneh kan, Mbak?" tanyanya sinis.
Iren tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun entah kenapa membuat bulu kudukku meremang.
"Merencanakan apa? Aku hanya ingin menyambut tamu suamiku. Sudahlah, Mas. Bawa dia pulang sekarang. Aku akan menyiapkan penyambutan untuknya."
Setelah mengatakan kalimat gila itu, Iren berbalik badan dan melangkah pergi begitu saja dengan langkah anggun.
Ia masuk ke dalam taksi yang entah sejak kapan sudah menunggunya, meninggalkan aku dan Viona yang masih mematung di parkiran kafe.
"Mas, istrimu itu sudah gila atau bagaimana? Masa dia menyuruhku tinggal di rumah kalian? Ini sungguhan atau dia sedang menjebak kita?" Viona menggerutu panjang lebar saat kami berada di dalam mobil, memecah keheningan yang sempat tercipta.
Aku mengusap wajahku kasar, merasa sedikit pusing dengan kejadian hari ini.
"Aku juga tidak tahu, Vio. Iren tidak biasanya seperti ini. Dia selalu penurut dan lemah lembut. Biasanya dia pasti sudah menangis tersedu-sedu dan memohon agar aku tidak meninggalkannya."
Viona mendengus pelan, lalu tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum licik. Jemarinya yang lentik dengan kuku berpoles merah menyala mulai mengelus rahangku dengan genit.
"Ah, aku tahu sekarang, Mas. Istrimu itu pasti sudah menyerah. Dia sadar diri."
"Sadar diri bagaimana maksudmu?"
"Iya, dia tahu dia tidak bisa menandingi kecantikanku dan pelayananku. Jadi dia pasrah saja kalau kamu mau memadunya daripada harus menjadi janda miskin. Bagus dong? Aku jadi tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi dari siapa pun. Akan kutunjukkan padanya siapa nyonya rumah yang sebenarnya mulai hari ini."
Ucapan Viona terdengar sangat masuk akal di telingaku.
Iren pasti sadar akan posisinya. Dia hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak punya penghasilan sendiri dan sepenuhnya bergantung pada uang bulananku.
Dia tidak akan berani menceraikanku karena takut kelaparan.
Merasa di atas angin dan menang telak, aku pun menginjak pedal gas, membawa Viona menuju rumah kebesaran kami dengan dada membusung.
Begitu mobilku memasuki pekarangan rumah berlantai dua yang kubangun setahun lalu, entah kenapa perasaanku mendadak tidak enak.
Ada desir aneh di dadaku.
Apa yang sebenarnya direncanakan Iren?
***
Bab 2
Namun, genggaman tangan Viona yang erat di lenganku membuat nyaliku kembali terkumpul.
Kami turun dari mobil dan berjalan berdampingan menuju pintu utama yang sengaja dibiarkan terbuka setengah.
"Permisi, ada nyonya rumah di sini? Tamu istimewamu sudah datang!" panggil Viona dengan nada mengejek yang sangat kentara.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan gaya angkuh bagai seorang model.
Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring, sengaja dibenturkan dengan keras ke lantai granit kesayangan Iren.
Tidak butuh waktu lama, Iren muncul dari arah ruang makan. Ia sudah berganti pakaian santai, sebuah daster rumahan yang rapi.
Namun, alih-alih menyambut dengan tangan kosong layaknya tuan rumah yang ramah, kedua tangannya dengan luwes membawa sebuah panci besar berbahan stainless steel.
"Wah, kebetulan sekali kalian sudah datang. Aku baru saja selesai menyiapkan sesuatu," sapa Iren dengan senyum semanis madu.
Namun, senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya. Tatapannya dingin, setajam silet yang siap mengoyak apa saja.
Viona melipat tangan di dada, memandang Iren dengan tatapan meremehkan yang memuakkan.
"Oh, jadi ini istrimu, Mas? Gayanya di rumah seperti asisten rumah tangga saja. Panci apa itu yang kamu bawa? Kamu mau menyuapku dengan masakan murahanmu agar aku mau pergi dari suamimu? Bermimpi saja sana!"
Aku mengerutkan kening, baru saja hendak membuka mulut untuk menegur Viona agar setidaknya sedikit menjaga sopan santun di hari pertamanya.
Tapi gerakan Iren jauh lebih cepat, lebih mematikan dari apa pun yang bisa kuduga.
Tanpa aba-aba sedikit pun, Iren melangkah maju dan mengangkat panci besar itu tinggi-tinggi, lalu ...
BYUUURRR!
Dalam sekejap mata, berliter-liter kuah kari merah pekat lengkap dengan minyak kental, perasan santan, dan puluhan potongan cabai rawit tumpah ruah mengguyur tubuh Viona tanpa sisa dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"AAAKKHHH! PANAS! PERIH! MATAKU!" Viona menjerit histeris sekuat tenaga, suaranya melengking memenuhi seluruh penjuru rumah.
Ia melompat-lompat panik seperti orang kesetanan sambil mengibaskan gaun sutra putih mahalnya yang kini basah kuyup dan berubah warna menjadi noda jingga kemerahan yang kotor.
Aroma rempah kari yang sangat tajam menyengat penciuman, menelan habis wangi parfum mahal yang disemprotkannya tadi pagi.
Riasan wajah Viona luntur tak karuan, matanya memerah menahan perih karena cipratan kuah pedas yang masih hangat itu.
Aku membelalakkan mata lebar-lebar, menatap Iren dengan rahang mengeras tak percaya.
"Iren! Apa-apaan kamu ini?! Kamu sudah gila ya?!" bentakku marah, refleks memundurkan langkah agar tidak ikut terkena cipratan noda minyak kari yang menetes dari tubuh Viona.
Alih-alih merasa bersalah, ketakutan, atau menangis melihat kemarahanku yang meledak, Iren justru meletakkan panci kosong itu ke atas meja terdekat dengan sangat gemulai.
Ia mengambil selembar tisu bersih, mengelap tangannya perlahan dengan gerakan lambat dan elegan.
Setelah itu, ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam tepat di manik mata Viona yang sedang menangis meraung-raung meratapi penampilannya yang kini hancur lebur.
Iren menyeringai lebar, sebuah seringai penuh kepuasan.
"Itu baru hidangan pembuka dari dapurku untuk menyambut kedatanganmu, Benalu. Selamat datang di neraka jalur VIP yang sudah kubangun khusus untuk kalian. Mari kita lihat, apakah perut ratu murahan sepertimu sanggup menelan hidangan utama apa besok pagi."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar