Jumat, 15 Mei 2026

(25) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Tarik kembali ucapan bodohmu itu, Vina! Kamu baru saja menghina pusaka paling berharga milik keluarga Wijaya yang bahkan sertifikat keasliannya dipajang dengan pengawalan ketat di museum sejarah nasional!"


Bentakan keras itu memecah keheningan yang sempat membeku di sudut ballroom.


Seorang pria paruh baya berjas rapi, yang tak lain adalah suami Nyonya Vina, berlari menghampiri kelompok sosialita itu dengan napas terengah-engah dan wajah seputih kapas. 


Ia menatap istrinya dengan sorot mata penuh teror, menyadari bahwa mulut sembrono wanita itu baru saja mempertaruhkan seluruh karier dan bisnis keluarganya yang sangat bergantung pada suntikan dana dari grup Wijaya.


Nyonya Vina mematung. Segelas minuman di tangannya bergetar hebat hingga isinya tumpah membasahi gaun mahalnya sendiri. 


Kesombongannya luruh tak bersisa, digantikan oleh rasa malu yang membakar hingga ke ubun-ubun saat ratusan pasang mata tamu undangan kelas atas kini menatapnya dengan penuh cibiran.


"T-Tuan Danu, Nyonya Sari, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan istri saya. Matanya sungguh buta tidak bisa mengenali gaun legendaris Nyonya Besar," ucap suami Vina dengan suara bergetar, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan kami.


Nyonya Vina yang sudah gemetar ketakutan, ikut menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah istriku sedikit pun. 


Teman-teman sosialitanya yang tadi ikut menertawakan Sari kini mundur teratur, berpura-pura tidak mengenalnya demi menyelamatkan muka mereka sendiri.


Sari tidak lantas membalas dengan amarah. Istriku justru tersenyum sangat anggun, senyuman yang jauh lebih mematikan daripada tamparan mana pun.


"Tidak perlu meminta maaf, Tuan," ucap Sari dengan nada suaranya yang lembut namun mengintimidasi. 


"Mata yang terbiasa menilai seseorang hanya dari label harga dan barang keluaran pabrik, memang akan selalu kesulitan saat dihadapkan pada sebuah kehormatan sejati."


Jawaban elegan itu membuat suami Vina semakin pucat, sementara Nyonya Vina seolah ingin menenggelamkan dirinya ke dasar bumi saking malunya. 


Tanpa menunggu lebih lama, pria itu segera menarik istrinya keluar dari ballroom, meninggalkan acara malam itu dengan membawa kehancuran reputasi mereka di dunia sosialita.


Tak lama setelah insiden kecil itu, lampu utama ballroom sedikit diredupkan. Tuan Haris Wijaya melangkah naik ke atas panggung utama. 


Ayahku berdiri gagah di depan mikrofon, menatap seluruh tamu undangannya dengan wibawa seorang raja.


"Selamat malam, rekan-rekan dan sahabat. Malam ini bukan sekadar perayaan tahunan biasa," suara bariton Tuan Haris menggema ke seluruh penjuru ruangan. 


"Malam ini, dengan penuh rasa bangga, saya secara resmi memperkenalkan pewaris tunggal kerajaan bisnis Wijaya yang telah kembali ke sisiku. Putra kandungku, Danu Wijaya, beserta menantuku yang luar biasa, Nyonya Sari Wijaya."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar