Kamis, 14 Mei 2026

(8) Ibu mertuaku lumpuh dan bisu. Setiap hari aku menyuapi dan merawatnya dengan tulus meski suamiku sering bersikap kasar padaku. Suatu siang, aku pulang lebih awal karena sakit. Dari celah pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berdiri tegak dan tertawa lepas bersama suamiku. Betapa hancurnya aku saat mendengar apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku, ternyata selama ini mertuaku...

 


Membawa masuk selingkuhan ke dalam rumah istri sah adalah kesalahan paling fatal yang bisa dilakukan oleh seorang pembohong. 


Dengan wanita itu berada di bawah atap yang sama, aku bisa mengumpulkan bukti perselingkuhan mereka dengan sangat mudah sebelum badai yang sesungguhnya menghantam mereka.


"Alhamdulillah kalau Mas ada rezeki lebih," ucapku memasang wajah istri yang bersyukur. 


"Aku akan siapkan kamar tamu malam ini juga supaya besok perawatnya bisa langsung beristirahat dengan nyaman."


Dimas tampak puas dengan reaksiku yang penurut. 


Ia berlalu ke kamar mandi sambil bersiul riang, sama sekali tak menyadari bahwa ia baru saja membukakan pintu perangkapnya sendiri.


Kamu akan menyesali semua perbuatanmu, Mas. Akan kubuat kamu dan ibumu menyesal telah bermain-main denganku!


***

Keesokan siangnya, sebuah taksi daring berhenti di depan pagar. Dimas yang hari ini sengaja mengambil cuti dengan alasan ingin menyambut perawat ibunya, bergegas membukakan pintu.


Dari balik jendela, aku mengamati semuanya dengan tenang. Seorang wanita muda turun dari taksi. Rambutnya ikal tergerai, bibirnya dipoles riasan cerah, dan ia mengenakan pakaian rapi yang entah kenapa terlihat terlalu modis untuk ukuran seorang tenaga medis. Tentu saja, itu dia. Wanita bergaun kuning yang tempo hari asyik bercengkerama bersama Ibu mertuaku di rekaman kamera pengintai.


Aku merapikan letak bajuku sejenak, lalu melangkah ke depan untuk menyambut 'tamu kehormatan' kami.


"Dek," panggil Dimas saat melihatku keluar. Wajahnya berusaha terlihat berwibawa, meski matanya tak bisa menyembunyikan kilat antusiasme saat menatap wanita di sebelahnya. "Perkenalkan, ini Suster Bella. Dia yang akan fokus mengurus Ibu mulai sekarang."


Wanita bernama Bella itu mengulurkan tangannya padaku. Senyumnya terlihat ramah, tapi sorot matanya memancarkan aura meremehkan. Ia pasti berpikir aku hanyalah istri lugu yang sebentar lagi akan ditendang keluar dari rumah ini tanpa membawa apa-apa.


"Selamat datang di rumah kami, Suster Bella," ucapku dengan nada suara lembut, menyambut jabatan tangannya tanpa curiga sedikit pun. "Tolong bantu saya merawat Ibu, ya. Saya sangat bersyukur Mas Dimas bisa menemukan perawat sebaik Anda."


Bella tersenyum semakin lebar, menatap Dimas sekilas dengan tatapan penuh arti. "Tentu saja, Bu. Saya akan merawat Ibu mertua Anda dengan sangat istimewa."


Dimas membusungkan dadanya, merasa di atas angin karena berhasil mengelabuiku. Namun, belum sempat ia mempersilakan selingkuhannya itu masuk, ponsel di saku celananya berdering nyaring.


Dimas merogoh sakunya. Melihat nama 'Pak Manajer' tertera di layar, senyum sombongnya makin mengembang. Ia menatapku dan Bella bergantian, lalu dengan sengaja menekan tombol pengeras suara (loudspeaker) agar kami berdua bisa mendengar betapa 'penting' posisinya di kantor.


"Ya, Pak Bos? Ada tugas penting apa lagi untuk saya siang ini?" sapa Dimas dengan nada angkuh yang dibuat-buat.


Namun, alih-alih pujian atau tugas baru, sebuah bentakan keras yang diiringi gebrakan meja menggelegar dari dalam benda pipih itu, membuat senyum di wajah Dimas luntur seketika.


"Tugas penting matamu, Dimas! Mulai detik ini juga kamu resmi saya PHK dengan tidak hormat! Jangan harap ada pesangon, karena surat tuntutan ganti rugi atas kekacauan proyek yang kamu buat bulan lalu sudah saya kirimkan ke rumahmu siang ini!"

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar