Kamis, 14 Mei 2026

(24) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


Satu minggu kemudian, malam perjamuan itu tiba.

Ballroom hotel bintang lima termegah di ibu kota telah disulap menjadi lautan kemewahan. 


Ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat, pengusaha konglomerat, dan sosialita elit berkumpul dengan gaun dan setelan jas bernilai ratusan juta rupiah.


Sari melangkah anggun di sisiku. Ia menolak memakai gaun mencolok yang penuh dengan payet berlian baru. 


Alih-alih, ia memilih mengenakan sebuah gaun malam sutra berpotongan klasik berwarna emerald green peninggalan mendiang ibuku, yang sengaja disimpan Tuan Haris selama tiga puluh tahun. 


Gaun itu tampak sangat sederhana, namun memancarkan keanggunan seorang bangsawan sejati di tubuh istriku.


Namun, di dunia yang dipenuhi orang-orang gila gengsi, kesederhanaan sering kali disalahartikan sebagai kemiskinan.


Saat aku sedang berbincang sebentar dengan beberapa direktur dari luar negeri, sekelompok sosialita wanita yang dipimpin oleh Nyonya Vina, seorang istri pejabat yang terkenal sombong, sengaja mendekati meja Sari. 


Mereka memandang istriku dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan, lalu tertawa kecil sambil berbisik dengan suara yang sengaja dikeraskan.


"Lihat gaun yang dipakai menantu baru keluarga Wijaya itu. Kuno dan tidak bermerek sama sekali. Kudengar dia dulu memang orang miskin yang tinggal di gubuk. Pantas saja seleranya seperti membeli baju dari toko baju bekas." 


Nyonya Vina tersenyum mengejek, mengangkat gelas tinggi-tinggi.


Aku yang baru saja menyelesaikan perbincanganku, langsung melangkah mendekati meja itu. 


Suasana di sekitar kami mendadak hening saat aku berdiri tepat di samping istriku, menatap tajam ke arah wajah angkuh Nyonya Vina dan kelompok sosialitanya.


"Silakan tertawakan gaun 'kuno' yang dikenakan istriku sepuas kalian, Nyonya-nyonya. Karena kalian baru saja menertawakan mahakarya bersejarah peninggalan mendiang ibuku, yang kebetulan adalah pewaris sah dari grup perhotelan internasional tempat kalian menumpang minum malam ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar