Kamis, 14 Mei 2026

(10) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Seratus lima puluh juta untuk satu botol sekecil ibu jari, Ma. Dan tebak siapa satu-satunya orang di negara ini yang berhak menentukan Mama boleh hidup atau mati hari ini?"


Suaraku memantul dingin di dinding berjamur kamar kos sempit ini. 


Mama, yang tengah duduk memeluk lutut di atas kasur tipis, perlahan mendongak. Wajahnya yang keriput kini pias tak berdarah. 


Matanya yang biasa menyorotkan keangkuhan, kini membelalak kosong, mencerna rentetan kalimatku yang baru saja menghancurkan sisa-sisa harapannya.


"Seratus ... lima puluh juta?" bibir Mama bergetar hebat. Ia menatap botol kecil di tanganku, lalu menatapku dengan air mata yang mulai menderas. 


"Hani ... Hani yang menguasai obat itu, Ga?"


Aku mengangguk kaku, dadaku sesak oleh rasa bersalah yang kian menggunung. 


"Selama dua tahun, Ma. Dua tahun istri yang selalu Mama hina miskin dan udik itu diam-diam membayar ratusan juta hanya agar jantung Mama tetap berdetak. Dan sebagai balasannya, kita mengusirnya."


Tangis Mama pecah seketika. Ia memukuli dadanya sendiri, bukan lagi karena marah, melainkan karena penyesalan yang akhirnya menggerogoti kewarasannya. 


Ia meratap, meminta maaf berkali-kali di sela napasnya yang mulai tersengal karena pasokan obat di tubuhnya menipis. 


Menyaksikan wanita yang melahirkanku hancur dalam ketakutan akan kematian dan rasa bersalah, nyaris membuatku gila.


Aku tidak bisa membiarkannya mati. 


Betapapun jahatnya Mama pada Hani, dia tetap ibuku.


***


Siang itu juga, aku membawa mobil satu-satunya yang tersisa, harta terakhir yang luput dari sitaan bank, ke sebuah showroom mobil bekas di pinggir jalan. 


Aku menjualnya dengan harga hancur-hancuran. 


Seratus dua puluh juta rupiah dibayar tunai. Aku tak peduli kerugiannya. Yang ada di otakku hanyalah memperpanjang napas Mama.


Dengan tas ransel berisi tumpukan uang tunai, aku kembali menginjakkan kaki di lobi megah gedung Larasati Food & Beverage Corp. 


Kali ini, aku tidak menerobos masuk dengan sisa ego seorang mantan suami. 


Aku menunduk, melaporkan diri ke resepsionis, dan memohon dengan sangat agar diizinkan bertemu Nyonya Hani.


Setengah jam aku berdiri menanggung malu di lobi yang ramai, hingga akhirnya Wendi, pengacara berwajah dingin itu, turun dan membawaku naik ke lantai atas.


Ruangan direktur utama itu terasa sedingin kutub utara saat aku melangkah masuk. Hani sedang duduk di sofa tamu, menyesap teh dari cangkir porselen dengan gerakan yang begitu anggun. Ia sama sekali tidak terlihat terkejut melihat kehadiranku.


Dengan tangan bergetar, aku membuka ritsleting tas ranselku dan mengeluarkan tumpukan uang seratus ribuan, meletakkannya di atas meja kaca tepat di hadapan Hani.


"Seratus dua puluh juta, Han," ucapku parau, menelan ludah yang terasa seperti pecahan beling. 


"Aku tahu harganya seratus lima puluh. Sisanya ... sisanya potong gajiku. Jadikan aku pelayan di kafemu, jadikan aku cleaning service di gedung ini, terserah kau. Tapi kumohon, berikan satu botol obat itu untuk Mama hari ini."


Hani meletakkan cangkirnya perlahan. Mata teduhnya menatap tumpukan uang itu sekilas, lalu beralih menatapku. 


Tidak ada kilat kemenangan di sana. Hanya ada ketenangan yang justru membuatku merasa sangat kerdil dan hina.


"Simpan kembali uangmu, Mas. Aku tidak butuh uang hasil penjualan mobil bekasmu," balas Hani dengan nada datar, nyaris berbisik.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar