"Oh, dan satu lagi, Mas. Tolong jangan buang sampah sembarangan di lobi apartemenku. Sekuriti di sana sudah kuperintahkan untuk menendang keluar gembel arogan yang berani membuat keributan. Selamat menikmati dinginnya angin malam."
Tut. Tut. Tut.
Sambungan telepon terputus secara sepihak.
Di lobi apartemen mewah itu, Adi mematung dengan mulut setengah terbuka.
Tangan yang memegang ponsel retaknya bergetar hebat.
Kata-kata Putri barusan bagaikan godam tak kasat mata yang menghantam sisa-sisa harga dirinya hingga hancur berkeping-keping.
Perempuan yang selama setahun ini ia injak-injak, ia beri makan dengan sisa, dan ia kurung di gudang gelap, baru saja mengusirnya dengan gaya seorang ratu penguasa!
"AARRGGHH! Sialan! Perempuan gila! Beraninya dia!!" raung Adi kalap. Ia membanting ponselnya yang sudah retak ke lantai marmer hingga hancur berantakan.
Napasnya memburu, matanya merah menyala dipenuhi urat-urat kemarahan.
Namun, kemarahannya tak sebanding dengan kepanikan yang kini melanda Bella.
Wanita bergaun merah ketat itu mundur selangkah, menatap Adi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan raut wajah jijik yang tak lagi ditutup-tutupi.
Ilusi tentang pria mapan, penthouse mewah, dan harta melimpah kini menguap tanpa sisa.
"Jadi, kamu beneran udah gak punya apa-apa sekarang, Mas? Kartu ATM diblokir, mobil ditarik, dan apartemen ini beneran udah disita?!" suara Bella melengking, urat di leher jenjangnya menonjol keluar.
Adi buru-buru berbalik, meraih kedua tangan Bella dengan raut wajah memelas.
"Sayang, dengarkan aku. Ini cuma sementara! Ibuku lagi emosi aja. Kasih aku waktu beberapa hari, aku pasti bisa merayu Ibu lagi dan mengambil alih semuanya. Malam ini kita cari penginapan murah dulu, ya? Pakai uang cash di dompetku."
Bella menghempaskan tangan Adi dengan kasar seolah baru saja disentuh oleh penderita kusta.
"Penginapan murah?! Heh, kamu pikir kulit mulusku ini pantas tidur di ranjang kelas melati yang banyak kutunya?!" bentak Bella, berkacak pinggang.
"Aku pacaran sama Manajer kaya raya, bukan gembel cacat yang diusir ibunya sendiri! Denger ya, Mas. Mulai detik ini, kita putus!"
"Bella! Kamu gak bisa ninggalin aku saat aku lagi di bawah kayak gini!" Adi mencoba meraih gaun Bella, panik luar biasa.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Adi. Pria itu terhuyung mundur, memegangi pipinya yang memanas.
"Gak usah pegang-pegang, tanganmu kotor!" desis Bella.
Dengan gerakan kilat, wanita itu merampas dompet kulit dari saku celana Adi dan mengambil seluruh uang tunai ratusan ribu di dalamnya. Dompet kosong itu lalu ia lemparkan ke wajah Adi.
"Uang ini aku ambil buat bayar taksi! Anggap saja uang ganti rugi karena kamu sudah membuang waktuku, dasar benalu!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar