Rabu, 13 Mei 2026

(4) Aku membentak dan mengusir istriku yang sedang hamil tua karena ketahuan mencuri uang tabunganku sebesar 50 juta. Dia menangis memohon, tapi aku tidak peduli dan langsung menjatuhkan talak. Keesokan harinya, pihak rumah sakit meneleponku dan memintaku segera datang. Saat dokter menjelaskan untuk apa uang 50 juta itu dibayarkan oleh istriku malam sebelumnya, aku langsung meminta maaf dan menangis menyesal. Ternyata istriku...

 


"Pemilik rumah sakit? Hah! Lelucon macam apa ini, Pak Tua?! Jangan mengada-ada, Arini itu cuma perempuan sebatang kara yang hidupnya menumpang dan memeras keringat adik saya!"


Tawa sumbang Mbak Rika mengalun nyaring, terdengar begitu kontras dengan atmosfer mematikan yang menyelimuti lorong ICU. 


Sambil melipat kedua tangan di dada, ia menatap Tuan Suryanegara dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.


"Kalian ini pasti komplotan penipu yang disewa Arini, kan? Mau menakut-nakuti kami supaya Dewa tidak menuntut balik uang lima puluh juta yang sudah dicuri perempuan benalu itu? Heh, trik murahan!" cecar Mbak Rika tanpa rasa sungkan sedikit pun.


"Mbak, cukup!" Aku menjerit putus asa. 


Kupegang kedua bahu Mbak Rika, menatapnya dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Ibu sedang kritis di dalam sana, Mbak! Berhenti memancing keributan!"


Namun, Mbak Rika menepis tanganku dengan kasar. 


"Kamu ini kenapa, Wa?! Kenapa malah takut sama preman-preman sewaan perempuan pencuri—"


Kata-katanya terhenti seketika. Dari ujung lorong, berlari tergesa-gesa seorang pria mengenakan jas dokter dengan name tag bertuliskan 'Direktur Utama'.


Di belakangnya, mengekor beberapa staf petinggi rumah sakit dengan wajah pucat pasi.


Langkah mereka terhenti tepat di hadapan Tuan Suryanegara. 


Tanpa memedulikan tatapan heran Mbak Rika, sang Direktur Utama langsung menunduk hormat, gemetar hebat layaknya bawahan yang berhadapan dengan penguasa tertinggi.


"M-maafkan keterlambatan saya, Tuan Besar Suryanegara. S-saya baru saja mendapat kabar bahwa putri Anda, Nona Muda Arini, dilarikan ke mari," ucap Direktur Utama itu dengan peluh bercucuran di dahinya.


Dunia seakan berhenti berputar. Mulut Mbak Rika yang sedari tadi terus berkicau, kini ternganga lebar. 


Wajahnya yang semula angkuh berubah sepucat mayat. Kakinya bergetar hebat hingga ia terhuyung mundur, menabrak dinding koridor.


Pemuda tampan di sebelah Tuan Suryanegara, Bara tersenyum miring, senyuman dingin yang membuat bulu kudukku meremang.


"Kau dengar perintah ayahku tadi, Direktur?" desis Bara tajam. 


"Keluarkan pasien wanita tua bernama Sumiyati dari ruang perawatan sekarang juga. Cabut semua fasilitas medisnya. Biarkan anak perempuannya yang sombong ini merawat ibunya di pinggir jalan."


"B-baik, Tuan Muda Bara! Laksanakan sekarang juga!" perintah Direktur kepada stafnya.


"TIDAK! JANGAN!"


Pecah sudah pertahananku. Aku bangkit, menatap nanar kakak kandungku sendiri, dan tanpa bisa kutahan lagi ...


PLAAAKKK!!


Satu tamparan keras kudaratkan di pipi Mbak Rika. Wanita itu menjerit tertahan, memegangi pipinya yang memerah dengan mata terbelalak tak percaya.


"Ini semua gara-gara mulut berbisamu, Mbak! Ibu kritis, dan kamu masih memikirkan kesombonganmu?!" rutukku dengan dada naik-turun. 


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar