"Satu menit terlalu cepat untuk meruntuhkan ikatan suci yang kubangun di hadapan Tuhan, Tuan Dimas. Beri aku waktu dua puluh empat jam, dan aku akan memberikan sebuah akhir yang tak akan bisa dibantah oleh siapa pun, termasuk oleh tuan besarmu."
Suaraku mengalun tenang, membelah ketegangan yang pekat di ruang tamu.
Tidak ada nada gentar, meski jantungku berdetak gila-gilaan menahan amarah yang nyaris meledakkan ubun-ubun.
Mendengar ancaman tentang penggelapan dana medis almarhum Bapak, rasanya aku ingin detik ini juga berteriak, mengamuk, dan mempertanyakan betapa teganya wanita yang melahirkanku itu menukar nyawa suaminya sendiri dengan segepok uang.
Namun, akal sehatku menahan semuanya.
Jika aku meledak sekarang, Dimas akan langsung membawa Fitri pergi, dan polisi akan menyeret Ibu sebelum aku sempat mengorek kebenaran lain yang masih terkubur rapat, terutama rahasia di balik kotak kayu kusam yang sejak tadi dipeluk erat oleh Ibu.
Aku butuh rencana. Sebuah rencana yang matang untuk melindungi istriku, sekaligus memberikan keadilan yang setimpal untuk almarhum Bapak.
Dimas menyipitkan matanya di balik kacamata, tak menyangka akan mendapat perlawanan setenang ini.
"Waktu dua puluh empat jam tidak ada dalam kesepakatan saya dengan Tuan Besar, Tuan Putra. Keputusannya hanya sekarang. Tanda tangani, atau—"
"Berikan waktu itu padanya, Dimas," potong Fitri tiba-tiba.
Istriku melangkah maju, berdiri tepat di sisiku dengan aura keanggunan yang luar biasa.
Ia menatap asisten pribadinya itu dengan sorot mata tak terbantahkan.
"Aku yang akan bertanggung jawab pada Papa. Beri suamiku waktu dua puluh empat jam."
Dimas terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Namun pada akhirnya, ia membungkuk hormat.
"Sesuai perintah Anda, Nona Muda. Besok pagi di jam yang sama, saya akan kembali untuk mengambil surat cerai ini."
Pria berjas rapi itu meletakkan map tebal berisi surat cerai di atas meja kaca, menatapku dengan kilat peringatan, lalu berbalik dan melangkah keluar menuju deretan mobil mewah yang menunggunya di luar pagar.
Sepeninggal Dimas, keheningan yang mencekam kembali menguasai ruangan.
"Putra, k-kamu gila?!" jerit Ibu tiba-tiba, merangkak mendekatiku dengan wajah bersimbah air mata.
Tangannya yang bebas mencengkeram ujung celanaku dengan panik.
"Kenapa kamu tidak langsung tanda tangani saja surat itu?! Kalau besok kamu tidak mau cerai, perempuan ini akan menjebloskan Ibu ke penjara! Kamu mau melihat ibumu membusuk di balik jeruji besi, hah?!"
Hatiku berdesir perih mendengar egoisme yang keluar dari mulutnya.
Bahkan di saat terdesaknya, Ibu sama sekali tidak merasa bersalah atas kematian Bapak.
Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menyelamatkan dirinya sendiri, sekalipun itu berarti menghancurkan pernikahan putra tunggalnya.
Aku menelan ludah dengan susah payah, memasang topeng paling datar yang bisa kubuat. Aku berjongkok, menepis tangan Ibu dari celanaku dengan pelan namun tegas.
"Surat itu urusanku besok, Bu," jawabku dingin, menatap lurus ke dalam manik matanya yang ketakutan.
"Sekarang, sesuai kesepakatan, rumah ini sudah jadi milik Fitri. Koper Ibu sudah siap. Silakan pergi ke mana pun Ibu mau, sebelum aku berubah pikiran dan memanggil polisi atas tuduhan pencemaran nama baik yang Ibu lakukan pada istriku selama enam bulan terakhir."
Ibu terisak keras, menatapku tak percaya. Beliau menoleh ke arah Fitri, seolah mengharapkan belas kasihan, namun istriku memalingkan wajahnya ke arah lain.
Fitri tahu, aku sedang menjalankan sebuah rencana, dan ia membiarkanku mengambil alih.
Dengan susah payah, Ibu akhirnya bangkit. Bahunya bergetar hebat. Ia berjalan tertatih menghampiri dua koper besarnya di sudut ruangan. Namun, sedetik pun ia tidak melepaskan pelukannya dari kotak kayu kusam itu.
Mata elangku menangkap kejanggalan itu. Kotak kayu itu adalah tempat Bapak menyimpan perkakas tuanya dulu.
Tidak ada barang berharga di sana.
Lalu mengapa Ibu menjaganya seolah itu adalah bongkahan berlian? Apa ada bukti lain yang Ibu sembunyikan di dalamnya?
Aku membiarkan Ibu menyeret kopernya menuju pintu depan.
Namun, tepat sebelum kakinya melewati ambang pintu, aku melangkah cepat dan menghalangi jalannya.
"Silakan bawa koper-koper ini dan angkat kaki dari rumah istriku sekarang juga, Bu," bisikku pelan tepat di samping telinganya, pandanganku mengunci tajam pada benda di depan dadanya.
"Tapi tinggalkan kotak kayu peninggalan Bapak itu di sini, atau aku sendiri yang akan menelepon Dimas untuk mengirimkan polisi kepadamu detik ini juga."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar