"Tentu saja, Mas. Apapun akan kulakukan demi kesembuhan Ibu dan demi kelangsungan hidup kita berdua, meski aku harus menyerahkan hal yang paling berharga sekalipun."
Aku menatap lurus ke dalam bola mata Dimas. Senyum tipisku tersungging, menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam dada.
Tanpa ragu, aku menekan jempol kananku ke atas bantalan tinta, lalu membubuhkannya tepat di atas materai pada map merah yang ujungnya sengaja ia tutupi rapat-rapat.
Mata Dimas seketika berbinar terang. Tangannya sedikit gemetar karena kegirangan saat menarik map itu dari pangkuanku. Ia bahkan tidak repot-repot menyembunyikan helaan napas leganya.
"Bagus. Kamu memang istri yang paling berbakti," ucapnya cepat, mengusap kepalaku dengan canggung sebelum buru-buru bangkit berdiri.
"Mas simpan dulu berkasnya ya, besok pagi-pagi sekali Mas akan langsung ke kelurahan supaya dananya cepat turun."
Aku hanya mengangguk pelan, kembali melipat pakaian dengan tenang.
Silakan bersorak malam ini, Mas. Karena ini akan menjadi kemenangan pertamamu, sekaligus awal dari kehancuranmu.
***
Keesokan harinya, sesuai dugaanku, Dimas berangkat sangat pagi dengan setelan kemeja rapi yang wanginya menyerbak hingga ke seluruh ruangan.
Ia beralasan ada panggilan kerja mendadak yang kebetulan searah dengan kantor kelurahan.
Tentu saja aku tahu ke mana ia sebenarnya akan pergi. Ia pasti berlari menemui selingkuhannya untuk merayakan keberhasilan mereka merampas hartaku.
Begitu punggungnya hilang di balik pagar, aku bergegas bersiap. Aku memastikan Ibu mertuaku sudah duduk diam di kamarnya, lalu mengunci pintu rumah rapat-rapat.
Tujuanku hari ini bukan kelurahan, bukan pula minimarket. Aku menumpang taksi daring menuju sebuah firma hukum di pusat kota.
Di sanalah Pak Broto, teman seperjuangan almarhum Bapakku yang kini menjadi notaris senior, sudah menungguku.
Ruangan beraroma kopi dan kayu jati itu terasa hangat saat aku melangkah masuk. Pak Broto menatapku dengan sorot mata penuh kebapakan.
Tanpa membuang waktu, aku menceritakan semua sandiwara keji suamiku, rekaman kamera pengintai, hingga draf surat kuasa palsu yang baru saja kucap jempol semalam.
Mendengar penuturanku, rahang pria paruh baya itu mengeras. Ia menggelengkan kepala tak percaya.
"Bapakmu pasti menangis di alam sana melihat putri tunggalnya diperlakukan seperti ini. Lalu, apa rencanamu sekarang? Kenapa kamu biarkan dia mengambil cap jempolmu di atas surat kuasa palsu itu?"
Aku tersenyum penuh arti, mengeluarkan sebuah map biru dari dalam tasku dan meletakkannya di atas meja.
Itu adalah sertifikat asli ruko peninggalan Bapak yang kuambil dari safety box bank pagi ini.
"Karena aku ingin menjeratnya dengan tangannya sendiri, Pak," jawabku tenang.
"Aku ingin mengubah status kepemilikan ruko ini hari ini juga. Jadikan ruko ini sebagai aset yayasan panti asuhan yang dikelola oleh keluarga Pak Broto, namun dengan klausul hak guna penuh tetap di tanganku seumur hidup."
Pak Broto membelalakkan matanya, menatapku dengan kekaguman yang tak ditutup-tutupi. Ia segera mengambil kacamata bacanya dan meraih map biru itu.
"Luar biasa pemikiranmu. Dengan begini, secara hukum, ruko ini bukan lagi aset pribadimu. Surat kuasa penjualan apa pun yang dibawa suamimu ke pihak pembeli dan BPN otomatis menjadi selembar kertas rongsokan yang tak ada harganya."
Aku mengangguk mantap. Dendam ini butuh dieksekusi dengan elegan. Penjara itu terlalu mudah dan terlalu cepat untuk mengakhiri penderitaan mereka.
Aku ingin mereka merasakan hancur perlahan-lahan dari dalam.
Sambil membubuhkan tanda tanganku di atas berkas peralihan hak yang baru saja dicetak oleh asisten Pak Broto, aku menatap sang notaris dengan dada yang terasa jauh lebih lapang.
"Jadi, Pak Broto," tanyaku dengan nada dingin yang mengiris, memastikan rencanaku sudah tak tertembus.
"Jika besok suamiku berani menerima uang muka miliaran dari pembelinya dengan bermodalkan surat kuasa palsu itu, kejutan apa yang akan menyambutnya?"
Pak Broto merapikan tumpukan dokumen di mejanya, membalas tatapanku dengan senyum tipis yang tak kalah tajam.
"Dia tidak akan berhadapan dengan jeruji besi untuk saat ini, Nak. Hukum kurungan terlalu ringan untuk pengkhianatannya. Begitu pihak pembeli tahu sertifikat itu tak bisa dipindahtangankan, suamimu akan otomatis berstatus sebagai penipu kelas kakap. Mari kita tonton, bagaimana pria tamak itu dan calon istri barunya saling menghancurkan saat mereka dikejar utang ganti rugi yang tak akan pernah sanggup mereka lunasi seumur hidup."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar