Kutarik napas dalam-dalam, menata raut wajahku agar terlihat datar, lalu dengan sengaja aku menendang ember kosong di dekat dapur dengan keras.
Brak!!
Suara itu menggema nyaring ke ruang TV. Ibu terperanjat hebat.
Saat ia menoleh dan menyadari aku berdiri tegak di ambang batas ruang tengah dengan tas kerja di tangan, wajah liciknya lenyap dalam hitungan detik.
Entah mempelajari ilmu iblis dari mana, Ibu tiba-tiba menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai, berguling ke arah genangan air pel, lalu menjerit histeris.
"Aduuuh! Sakit, Dinda! Ya Allah, kenapa kamu dorong Ibu?! Arya ... tolong Ibu, Nak! Istrimu gila, dia mau bunuh Ibu karena Ibu ketahuan mergoki dia mencuri uangmu!" raung Ibu sambil memegangi pinggangnya, memeras air mata buaya yang sangat meyakinkan.
Dinda mematung. Wajahnya pucat pasi bak mayat, tubuhnya bergetar hebat saat menatapku.
Tak ada pembelaan yang keluar dari mulutnya, hanya kepasrahan karena ia yakin aku akan kembali murka dan menamparnya seperti semalam.
Namun, alih-alih mengamuk pada istriku, aku berjalan pelan menghampiri mereka. Kutatap wajah Ibu yang sedang meratap di lantai dengan senyum yang sangat dingin.
"Hebat sekali akting Ibu. Tapi sayang, sepertinya Ibu dan Mbak Rini harus segera mencari panggung pementasan yang lain," ucapku pelan namun menusuk, membuat tangisan Ibu seketika terhenti karena bingung.
"M-maksud kamu apa, Nak? Kamu nggak lihat Ibu disiksa?" ucap Ibu dengan suara gemetar, matanya menatapku penuh selidik.
"Mulai detik ini, aku sudah dipecat dari kantor dengan tidak hormat, menanggung utang perusahaan miliaran rupiah, dan rumah ini akan segera disita oleh bank," kataku, memajukan wajah menatap bola mata ibuku yang perlahan membelalak ngeri.
"Jadi, apakah Ibu dan Mbak Rini masih sudi menumpang hidup di rumah orang melarat yang sebentar lagi dipenjara sepertiku?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar