"Matikan kameranya! Turunkan mikrofon kalian sekarang juga! Direktur utama baru saja menelepon, seluruh stasiun televisi kita telah resmi diakuisisi oleh perusahaan Tuan Danu Wijaya! Bubar, atau kita semua akan dituntut dan kehilangan pekerjaan detik ini juga!"
Jeritan panik dari salah satu kepala reporter itu membelah keributan di depan gerbang.
Dalam hitungan detik, kekacauan yang tadinya didominasi oleh kilatan flash dan todongan mikrofon langsung berubah menjadi kepanikan massal.
Para wartawan dan juru kamera itu memucat pasi. Mereka buru-buru mematikan alat rekam, menundukkan kepala dalam-dalam ke arahku sambil menggumamkan kata maaf yang terbata-bata, lalu berlari tunggang langgang menuju mobil van mereka masing-masing.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, jalanan di depan gerbang rumahku kembali sepi, menyisakan debu aspal dan dua sosok paruh baya yang kini berdiri mematung layaknya patung bernapas.
Pak Darma dan Bu Ratna saling berpandangan dengan wajah pias. Mulut mereka terbuka setengah, tak sanggup mencerna apa yang baru saja terjadi.
Panggung drama yang mereka persiapkan dengan susah payah untuk memeras kami, hancur lebur tanpa sisa hanya dengan satu kalimat dariku.
"Wartawan kurang ajar! Kenapa kalian pergi?! Kami belum selesai bicara!" teriak Bu Ratna dengan suara bergetar, mencoba memanggil mobil yang sudah melesat jauh.
Aku tersenyum sinis, mempererat rangkulanku di pinggang Sari.
"Panggung kalian sudah ditutup, Bu Ratna. Tidak ada lagi yang sudi menayangkan air mata palsu kalian."
Menyadari bahwa taktik memeras lewat media telah gagal total, Pak Darma langsung mengubah raut wajahnya.
Kesombongannya luntur, digantikan senyum kaku yang sangat memuakkan. Ia melangkah maju, merendahkan suaranya agar terdengar kebapakan.
"Sari, Nak, suami mu hebat sekali. Bapak bangga padamu," bujuk Pak Darma, mencoba meraih tangan Sari, namun Galen dengan sigap melangkah maju dan menepisnya dengan sopan namun tegas.
"Bapak dan Ibu sebenarnya sangat rindu padamu, Nak. Kami kesini murni karena ingin melihat cucu kami."
Sari menatap pria yang menyumbangkan darah di tubuhnya itu dengan tatapan kosong.
"Rindu pada uangnya, maksud Bapak? Enam tahun aku hidup di gubuk reyot dengan sisa makanan basi, kalian tak pernah sekalipun mencariku. Bahkan saat Bintang lahir dan aku nyaris kehabisan darah, kalian menutup pintu rumah rapat-rapat saat aku meminjam biaya persalinan."
"I-itu kan dulu, Nak. Sekarang kita mulai dari awal ya? Ibu janji—"
Bu Ratna mencoba menimpali dengan air mata yang kembali dipaksa keluar.
"Pintu rumahku sudah tertutup selamanya untuk kalian," potong Sari dengan nada sedingin es. Ia lalu menoleh ke arah asisten pribadiku.
"Galen, pastikan nama mereka masuk ke dalam daftar hitam seluruh akses perbankan dan bisnis di kota ini. Dan pastikan mereka tidak pernah bisa mendekati radius satu kilometer dari keluargaku lagi."
"Sesuai perintah Anda, Nyonya Besar," Galen membungkuk hormat, lalu memberi isyarat pada petugas keamanan untuk mengusir paksa sepasang suami istri tamak itu dari area perumahan.
Kami berbalik masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga, Tuan Haris yang sedari tadi menyimak dari layar CCTV tersenyum lebar dan bertepuk tangan pelan.
"Luar biasa. Istrimu punya mental baja, Danu. Dia mengusir benalu dengan sangat elegan," puji ayahku dengan mata berbinar bangga. Tuan Haris kemudian berdiri dan merapikan jasnya.
"Ayah rasa, ini adalah saat yang paling tepat. Minggu depan, perusahaan kita akan menggelar malam gala dinner tahunan. Ayah akan memperkenalkan kalian secara resmi ke dunia bisnis dan sosialita kelas atas Asia sebagai pewaris utama keluarga Wijaya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar