Rabu, 13 Mei 2026

(9) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


Tak ingin membuang waktu, siang itu juga aku berlari keluar indekos membawa botol kecil peninggalan Hani. 

Berbekal alamat toko obat herbal tradisional terbesar peninggalan etnis Tionghoa di pusat kota, aku menaruh semua sisa harapanku. 

Aku harus membeli bubuk ini lagi. Apa pun caranya. Kalau perlu aku akan menjual mobilku satu-satunya yang tersisa.

Suasana toko yang berbau tajam rempah menyambutku. 

Aku bergegas menuju meja etalase, menemui seorang pria tua berkacamata tebal yang sedang menimbang akar-akaran.

"Pak, tolong saya," ucapku terburu-buru, menyodorkan botol kecil itu ke atas kaca etalase. 

"Saya mau beli bubuk herbal ini. Tolong siapkan untuk satu bulan penuh. Berapa pun harganya akan saya bayar."

Pria tua itu menghentikan pekerjaannya. Ia mengambil botolku, membuka tutupnya, lalu mengendus isinya. 

Sedetik kemudian, matanya terbelalak kaget. Ia mengambil sedikit bubuk itu dengan ujung jarinya, lalu menatapku dengan sorot mata tak percaya.

"Dari mana Mas mendapatkan ini?" tanyanya dengan suara tertahan.

"Itu tidak penting, Pak. Saya cuma mau membelinya untuk ibu saya. Berapa harganya? Sepuluh juta? Dua puluh juta?" tanyaku tak sabar, merogoh dompetku dengan tangan gemetar.

Pria tua itu meletakkan botolku kembali ke atas etalase dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah porselen rapuh yang tak ternilai harganya. 

Ia menatap dompet kulitku yang menipis, lalu menggeleng pelan.

"Dua puluh juta?" Kekeh sinis apoteker itu membuat kakiku seketika terpaku ke lantai. 

"Ini ekstrak Teratai Salju Pegunungan Tian Shan murni, Mas. Kualitas nomor satu yang disuling selama berbulan-bulan. Satu botol kecil ini harganya seratus lima puluh juta rupiah. Tapi, bukan harga itu yang jadi masalah utama Anda."

Pria tua itu mencondongkan tubuhnya melewati etalase, menatapku dengan pandangan kasihan yang meremukkan sisa-sisa kewarasanku.

"Obat ini sangat langka dan tidak dijual bebas di pasaran, Mas. Hak distribusinya di negara ini hanya dipegang tunggal oleh satu orang sejak dua tahun lalu. Kalau Mas sungguh-sungguh mau memperpanjang nyawa ibu Mas, silakan buang harga diri Anda dan mengemislah langsung pada pemilik lisensinya: Nyonya Hani Larasati."

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

  Kutarik napas dalam-dalam, menata raut wajahku agar terlihat datar, lalu dengan sengaja aku menendang ember kosong di dekat dapur dengan k...