Selasa, 12 Mei 2026

(12) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


"Sialan! Sialaaaan!!!"


Adi membanting ponselnya ke sofa lobi hingga layarnya retak. Ia mengeluarkan dompet kulitnya, menarik kartu kredit Platinum-nya dengan brutal dan menyerahkannya pada resepsionis.


"Gesek kartu ini! Berapa pun harga sewa kamar VIP di sini untuk malam ini, gesek sekarang!" teriaknya putus asa.


Resepsionis wanita itu menelan ludah, lalu menggesek kartu tersebut ke mesin EDC. Terdengar bunyi panjang.


DECLINED.


"Maaf, Pak. Kartu Anda diblokir oleh pihak bank," ucap resepsionis itu dengan nada kasihan yang justru terasa seperti tamparan keras di wajah Adi.


Bella yang menyadari situasi sebenarnya kini menatap Adi dengan mata membelalak ngeri.


Segala bayangan tentang hidup mewah, tidur di kasur empuk, dan mandi air hangat di bathtub lenyap seketika.


"Mas, jangan bilang uang kamu habis semua? Jangan bilang kita beneran jadi gembel sekarang?!" bentak Bella, urat lehernya mulai menonjol. Suaranya tak lagi manja, melainkan kasar dan penuh tuntutan. 


"Terus malam ini aku tidur di mana?! Kamu mau suruh aku tidur di emperan jalan?!"


"Diam kamu, Bella! Aku lagi berpikir!" bentak Adi tak kalah keras, kepalanya berdenyut nyeri luar biasa. 


Harga dirinya sudah rata dengan tanah, diinjak-injak oleh kenyataan bahwa ibunya benar-benar menghancurkan hidupnya hanya dalam waktu kurang dari satu jam.


Didorong oleh rasa frustrasi dan amarah yang mendidih, Adi memungut ponselnya yang retak. Tangannya yang gemetar menekan nomor kontak ibunya. 


Ia akan memaki wanita tua itu! Ia akan mengancam akan membakar rumah itu jika fasilitasnya tidak dikembalikan malam ini juga!


Nada sambung berbunyi tiga kali, sebelum akhirnya panggilannya diangkat.


"Halo, Ibu! Tarik kembali semua omong kosong ini atau aku benar-benar akan membakar rumah tua itu malam ini juga!" bentak Adi dengan urat leher yang nyaris putus, tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang di lobi.


Hening sejenak di ujung telepon. Tidak ada suara ibunya yang panik, tidak ada suara isak tangis yang ia harapkan. 


Yang terdengar justru adalah suara kekehan pelan, suara tawa elegan yang memancarkan aura kekuasaan dan kepuasan absolut.


Dan itu sama sekali bukan suara ibunya.


"Maaf, Nyonya Besar sedang bersantai sambil menikmati teh kamomilnya. Ada pesan terakhir yang ingin Anda titipkan pada saya, Tuan Adi? Atau Anda butuh saya pesankan beberapa lembar kardus bekas agar Nyonya Bella tidak kedinginan tidur di emperan toko malam ini?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

  Kutarik napas dalam-dalam, menata raut wajahku agar terlihat datar, lalu dengan sengaja aku menendang ember kosong di dekat dapur dengan k...