Selasa, 12 Mei 2026

(3) Aku membentak dan mengusir istriku yang sedang hamil tua karena ketahuan mencuri uang tabunganku sebesar 50 juta. Dia menangis memohon, tapi aku tidak peduli dan langsung menjatuhkan talak. Keesokan harinya, pihak rumah sakit meneleponku dan memintaku segera datang. Saat dokter menjelaskan untuk apa uang 50 juta itu dibayarkan oleh istriku malam sebelumnya, aku langsung meminta maaf dan menangis menyesal. Ternyata istriku...

 


"Ceraikan putriku secara hukum besok pagi, atau aku pastikan ibumu yang sedang berjuang di ruang ICU itu diseret keluar dari rumah sakit ini sekarang juga!"


Suara pemuda tampan di belakang Tuan Suryanegara itu menggema tajam, memutus paksa sisa oksigen di paru-paruku.


Pemuda itu melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Wajahnya yang begitu mirip dengan Arini memerah menahan amarah yang meletup-letup. 


Di dadanya tersemat sebuah pin emas dengan ukiran inisial keluarga konglomerat yang sering kulihat di majalah bisnis.


"A—apa maksud kalian?" Bibirku bergetar hebat. 


Aku bersimpuh tak berdaya di lantai koridor, menatap belasan pria berjas yang mengepungku layaknya seorang pesakitan.


"Masih berani bertanya?!" Pemuda itu mencengkeram kerah bajuku, mengentakkannya hingga punggungku menghantam dinding dengan keras. 


"Kak Arini rela meninggalkan semua kemewahan, hidup pas-pasan dan menahan lapar bersamamu hanya karena ingin membuktikan bahwa masih ada pria tulus yang mencintainya tanpa melihat harta! Tapi apa balasanmu, Dewa?! Kau menendangnya di saat dia mempertaruhkan nyawa dan bayinya demi menyelamatkan ibumu!"


Tubuhku menegang kaku. Fakta yang baru saja diucapkannya menghantam kewarasanku bak palu godam.


Arini ... istriku yang selalu memakai daster pudar, yang rela menahan kantuk menjahit pakaian robekku, yang selalu tersenyum meski hanya makan dengan tempe dan sayur sisa kemarin demi menghemat uang tabungan, adalah putri dari penguasa bisnis nomor satu di negeri ini?


"Saya ... saya sungguh tidak tahu." Air mataku tumpah, membasahi lantai rumah sakit yang dingin. 


Rasa sesal itu kini berubah menjadi jutaan belati yang mencabik-cabik jantungku. 


Aku merangkak maju, tak peduli lagi pada harga diri, lalu bersujud memeluk sepatu mahal Tuan Suryanegara. 


"Saya mohon, Tuan. Izinkan saya melihat Arini. Saya sangat mencintainya. Tolong, jangan pisahkan saya dengan istri dan anak saya, saya janji akan menebus semuanya!"


Tuan Suryanegara menatapku dengan sorot mata yang lebih dingin dari bongkahan es. 


Belum sempat bibirnya terbuka untuk menjawab, suara derap langkah sepatu hak tinggi terdengar nyaring memecah ketegangan dari ujung lorong.


Itu Mbak Rika, kakak perempuan tertuaku. Kakak yang semalam menolak mentah-mentah saat kumintai tolong untuk patungan biaya rumah sakit ibu dengan alasan uangnya baru saja dipakai untuk liburan dan membeli tas mewah.


Mbak Rika berjalan dengan angkuh. Ia menyibak barisan pengawal berjas hitam itu tanpa rasa sungkan sedikit pun, seolah matanya buta terhadap atmosfer mematikan yang tengah menyelimuti lorong ini.


"Heh, Dewa! Ngapain kamu ngemper di lantai sambil nangis begitu?!" teriak Mbak Rika melengking, memicu gema yang menyakitkan telinga. Matanya langsung memindai sekeliling sebelum berkacak pinggang tepat di depanku. 


"Mana si Arini, istrimu yang maling itu? Gara-gara dia mencuri uangmu semalam, ibu jadi repot kan masuk ICU karena syok! Sudah kamu talak beneran kan perempuan gembel itu?"


Napas Tuan Suryanegara terdengar tertahan. Urat-urat di leher dan rahang pria paruh baya itu bermunculan, menunjukkan amarah yang sudah mencapai titik didih.


Namun, Mbak Rika yang tidak peka malah kembali menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya yang lentik. 


"Syukurlah kalau kamu sudah mengusirnya! Suruh dia tanggung semua biaya operasi ibu sekarang sebagai ganti rugi, sekalian suruh dia angkat kaki selamanya dari kehidupan kita! Dan soal bayinya itu, kalau sampai lahir, jangan harap aku sudi menganggapnya keponakan. Aku tidak sudi punya darah daging dari keturunan pencuri—"


"Bungkam mulut kotor wanita itu! Beritahu dia, bahwa wanita yang baru saja dia hina adalah pemilik sah rumah sakit ini. Dan mulai detik ini, aku cabut seluruh fasilitas medis serta dokter bedah untuk ibu kalian, bersiaplah membawa ibumu keluar dari sini dalam keadaan tak bernyawa!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

  Kutarik napas dalam-dalam, menata raut wajahku agar terlihat datar, lalu dengan sengaja aku menendang ember kosong di dekat dapur dengan k...