Selasa, 12 Mei 2026

(18) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


Malam itu, kami sama sekali tidak tidur. 


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku memasukkan pakaian dan barang-barang miliknya ke dalam koper, mengabaikan suara isakannya yang memilukan. Aku tidak peduli lagi.


***


Keesokan paginya, suasana rumah terasa sangat mencekam. Udara pagi yang biasanya sejuk kini terasa mengikat leher.


Saat aku menyeret dua koper besar milik Ibu ke ruang tengah, kulihat wanita paruh baya itu sedang duduk bersimpuh di lantai. 


Rambutnya berantakan, wajahnya sembab, dan matanya membelalak panik melihat koper-kopernya yang sudah siap di tanganku. 


Namun anehnya, kedua tangan Ibu memeluk erat sebuah kotak kayu kusam di depan dadanya, seolah kotak itu lebih berharga dari nyawanya sendiri.


"Putra, k-kamu mau mengusir Ibu, Nak?" sapa Ibu dengan suara serak, mencoba bangkit meski lututnya gemetar. 


"Kamu tidak sungguh-sungguh mau mengusir Ibumu sendiri, kan? Rumah ini, kalian tidak bisa mengambil rumah ini begitu saja!"


Aku menatap Ibu dengan sorot mata sedingin es. Tidak ada lagi rasa hormat atau iba yang tersisa di hatiku untuknya.


"Sertifikat rumah ini sudah resmi menjadi milik Fitri. Ibu silakan bawa koper ini dan angkat kaki dari sini sekarang juga," jawabku datar tanpa nada simpati.


"Putra! Ibu ini yang melahirkanmu!" jerit Ibu kembali histeris, air matanya membasahi pipinya yang mulai keriput. 


"Tega kamu membuang ibumu ke jalanan demi perempuan ini?!"


Belum sempat aku menjawab bahwa ibuku sendirilah yang lebih dulu membuang nyawa ayahku, suara deru mesin mobil yang sangat halus terdengar memasuki halaman rumah kami.


Bukan hanya satu, melainkan tiga buah mobil SUV mewah berwarna hitam mengkilap berbaris rapi menutupi gerbang depan. 


Warga kompleks yang tadinya sedang beraktivitas pagi mendadak berhenti, berkerumun di balik pagar dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang luar biasa.


Beberapa pria berjas hitam turun dari mobil, berdiri tegap di sisi kendaraan. 


Lalu, dari mobil yang berada di tengah, turunlah seorang pria muda berkacamata dengan setelan jas rapi, Dimas, asisten pribadi Fitri yang semalam menelepon.


Dimas melangkah masuk ke dalam rumah kami dengan aura intimidasi yang sangat kuat, tanpa perlu repot-repot mengetuk pintu yang memang sudah terbuka. 


Di tangan kanannya terdapat sebuah map tebal berlogo firma hukum ternama, sementara tangan kirinya menenteng sebuah koper besi berukuran kecil.


Ia membungkuk hormat pada Fitri, lalu menatapku dengan pandangan tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya.


"Silakan buat keputusan Anda dalam waktu satu menit, Tuan Putra," ucap Dimas dengan suara bariton yang menggema di seluruh penjuru ruang tamu, memecah keheningan pagi yang menegangkan. 


"Tanda tangani surat cerai di dalam map ini dan lepaskan Nona Muda sekarang juga, atau koper besi berisi bukti penggelapan dana medis almarhum ayah Anda ini akan saya serahkan ke kepolisian, beserta ibu Anda sebagai tersangka utamanya!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

  Kutarik napas dalam-dalam, menata raut wajahku agar terlihat datar, lalu dengan sengaja aku menendang ember kosong di dekat dapur dengan k...