Selasa, 12 Mei 2026

(6) Ibu mertuaku lumpuh dan bisu. Setiap hari aku menyuapi dan merawatnya dengan tulus meski suamiku sering bersikap kasar padaku. Suatu siang, aku pulang lebih awal karena sakit. Dari celah pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berdiri tegak dan tertawa lepas bersama suamiku. Betapa hancurnya aku saat mendengar apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku, ternyata selama ini mertuaku...

 


"Hidungmu itu yang rusak atau otakmu yang sudah mulai tidak waras, hah?! Ibuku menelan bubur encer saja setengah mati, bagaimana ceritanya dia bisa mengunyah sate kambing?!"


Bentakan Dimas meledak, memantul di dinding kamar yang sempit. 


Wajahnya seketika pias, namun ia buru-buru menutupinya dengan sorot mata melotot, menatapku seolah aku baru saja mengucapkan hal paling tidak masuk akal di dunia.


Aku sengaja menarik napas gemetar, menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan senyum puas yang nyaris mekar di bibirku.


"M-maaf, Mas. Mungkin penciumanku sedang terganggu karena demamku belum sepenuhnya turun," cicitku pelan, memundurkan langkah seperti istri yang ketakutan. 


"Habisnya baunya tajam sekali, aku pikir ..."


"Kamu pikir apa?! Kamu mau menuduhku diam-diam makan enak sementara kamu yang repot mengurus Ibu?!" potongnya kasar. 


Dengan gerakan panik yang berusaha disembunyikan, Dimas merampas selembar tisu dari atas nakas dan buru-buru mengusap bibir ibunya dengan kasar. 


"Ini pasti bau napasku yang terbawa angin dari luar. Sudah, jangan mencari-cari alasan, sana ke dapur siapkan makan malam!"


Aku mengangguk patuh, membalikkan badan dan melangkah keluar kamar dengan gontai. 


Namun begitu pintu tertutup, bahuku yang tadi melengkung langsung tegak sempurna. Mataku menajam.


Permainan yang bagus, Mas.


Begitu sampai di dapur, aku memastikan kompor menyala dan suara air mendidih terdengar cukup bising. 


Aku bersandar pada kabinet, menarik ponsel dari saku, dan membuka rekaman langsung dari kamera pengintai.


Di layar, kulihat Dimas membuang napas lega yang begitu berat hingga bahunya merosot. Ia menatap ibunya dengan raut kesal.


"Ibu sih, makannya ceroboh sekali! Kalau sampai dia tahu, rencana kita bisa berantakan sebelum map merah itu ditandatangani!" desis Dimas tertahan, menunjuk-nunjuk ibunya.

Wanita paruh baya itu hanya mencebikkan bibir tak peduli, lalu memberi isyarat ke arah laci meja rias dengan dagunya. 


Dimas mengangguk paham. Pria itu berjalan ke arah meja, membuka laci paling bawah, dan sekilas aku bisa melihat ujung map merah yang tadi dibawa oleh wanita selingkuhannya terselip di antara tumpukan baju bekas.


Otakku berputar cepat. Map merah itu berisi draf surat kuasa palsu. 


Kalau aku membongkar semuanya sekarang, aku mungkin menang hari ini, tapi aku tidak akan mendapatkan efek jera yang sepadan. 


Mengingat alur cerita pernikahan kami sudah berjalan tiga tahun, aku tidak akan menyelesaikannya hanya dalam hitungan hari. 


Aku harus membalikkan keadaan. 


Mereka ingin merampas rukoku? Mari kita lihat siapa yang akhirnya akan terusir dengan tangan kosong.


Aku merogoh saku, mencari nomor seorang teman lama bapakku yang berprofesi sebagai notaris. 


Aku mengetikkan pesan singkat, mengatur jadwal pertemuan rahasia untuk besok siang. Aku butuh dokumen tandingan yang akan membuat surat kuasa palsu Dimas tidak berguna sama sekali.


***


Malam pun tiba. Setelah mencuci piring dan membereskan sisa makan malam, aku duduk di tepi ranjang, berpura-pura melipat pakaian dengan wajah letih.


Tak lama, pintu kamar berderit terbuka. Dimas masuk dengan langkah ringan yang dibuat-buat. 


Di tangannya, tidak ada lagi kekasaran atau bentakan. Ia justru tersenyum manis, senyum yang sama seperti saat ia melamarku dulu. 


Tangan kanannya memegang sebuah map merah yang sengaja ia lipat sebagian untuk menutupi kop suratnya, sementara tangan kirinya membawa sebuah bantalan tinta stempel.


Ia duduk di sebelahku, mengusap bahuku dengan kelembutan palsu yang membuat perutku seketika mual.


"Dek, mumpung kamu sedang santai, tolong cap jempolmu di sini, ya. Hanya berkas syarat administrasi dari kelurahan untuk pengajuan bantuan dana pengobatan Ibu ke yayasan sosial, kok. Ditekan yang kuat di atas materainya, biar capnya jelas dan dananya cepat cair."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

  Kutarik napas dalam-dalam, menata raut wajahku agar terlihat datar, lalu dengan sengaja aku menendang ember kosong di dekat dapur dengan k...