Selasa, 12 Mei 2026

Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

 


PLAK! 


"Kurang ajar kamu, Dinda! Istri macam apa kamu, berani-beraninya menjadikan ibuku sebagai babu di rumah ini?!"


Tangan kananku masih bergetar di udara, menyisakan rasa kebas yang menjalar. 


Namun, rasa itu tidak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadaku saat melihat Ibu menangis tersedu-sedu di sudut ruang tamu. 


Tangan keriputnya memegang sapu, sementara bajunya basah oleh keringat.


Di hadapanku, Dinda tersungkur ke lantai. Tangannya gemetar memegangi pipi kirinya yang memerah karena tamparanku. Air mata langsung luruh dari pelupuk matanya yang membulat terkejut.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Aku nggak pernah—"


"Halah, diam kamu!" bentakku memotong ucapannya. 


"Aku banting tulang kerja di luar sana supaya kamu bisa hidup enak, dan ini balasanmu? Menyuruh ibuku mencuci, menyapu, dan memasak sementara kamu cuma ongkang-ongkang kaki di kamar?!"


Ibu melangkah tertatih, meraih lenganku dengan wajah penuh air mata. 


"Sudahlah, Arya. Jangan marahi istrimu. Ibu memang cuma numpang di sini. Gak apa-apa Ibu yang mengerjakan semuanya, asal kalian berdua rukun. Ibu ikhlas, Nak."


Mendengar suara parau Ibu, hatiku semakin hancur. Aku menatap Dinda dengan tatapan jijik. 


Dulu aku menikahinya karena kelembutan hatinya, tapi ternyata di belakangku dia hanyalah menantu durhaka. 


Malam itu, aku membiarkan Dinda tidur di lantai kamar, tak sudi menyentuhnya sedikit pun.


Namun, entah kenapa, saat subuh menyapa, ada perasaan mengganjal di dadaku. 


Dinda menangis dalam diam sepanjang malam. Tatapan matanya saat kutampar semalam bukanlah tatapan wanita licik yang ketahuan, melainkan tatapan seseorang yang hancur karena ketidakadilan.


Rasa penasaran bercampur sisa amarah membuatku mengambil keputusan gila.

Pagi harinya, aku bersiap mengenakan kemeja rapi dan menenteng tas kerjaku seperti biasa.


"Aku berangkat," ucapku dingin tanpa menatap Dinda yang sedang menyiapkan sarapan. Ibu mengantarku sampai ke teras dengan senyum lembutnya.


Aku memanaskan motor, lalu melaju membelah jalanan kompleks. Namun, alih-alih menuju kantor, aku memutar balik motorku dan memarkirkannya di warung kopi ujung gang yang tertutup rimbunnya pohon mangga. 


Aku mengirim pesan ke atasanku, beralasan tidak enak badan dan meminta izin setengah hari.


Dengan langkah mengendap-endap bak pencuri di rumah sendiri, aku menyusup masuk melalui pintu belakang yang mengarah langsung ke dapur. 


Jantungku berdebar kencang. Setengah hatiku berharap Ibu benar dan Dinda memang pantas diberi pelajaran. Tapi setengahnya lagi ketakutan.


Rumah terasa hening. Aku melangkah perlahan menuju sekat ruang tengah. 


Tiba-tiba, suara tawa yang begitu nyaring menghentikan langkahku. Itu bukan suara tangisan, melainkan tawa kemenangan.


Aku mengintip dari balik tirai pembatas dapur. Mataku terbelalak hebat hingga rasanya nyaris melompat dari rongganya. 


Dadaku serasa ditimpa godam raksasa melihat pemandangan di ruang TV.

Dinda sedang berlutut di lantai, menggosok karpet dengan sikat cuci sambil berlinang air mata. 


Sementara itu, Ibu yang semalam menangis tertatih-tatih, kini duduk bersandar santai di sofa empuk sambil mengunyah camilan dan menonton sinetron. 


Kaki Ibu bahkan dengan sengaja menendang ember berisi air kotor hingga tumpah mengenai baju Dinda.


"Kerja yang bersih! Kalau sampai Arya pulang dan lantai ini masih kotor, awas kamu!"


Aku menahan napas. Tanganku mengepal kuat hingga buku-buku jariku memutih. 


Ini ... ini ibuku?


Dinda mengusap air matanya, berusaha membereskan tumpahan air itu dengan tangan gemetar. 


"Ibu, uang belanja bulan ini sudah habis. Kenapa Ibu malah membelikan perhiasan emas untuk Mbak Rini? Nanti kalau Mas Arya tanya ke mana uangnya, aku harus jawab apa, Bu?"


Ibu mendengus kasar, lalu menunduk menatap Dinda dengan senyum sinis yang belum pernah kulihat seumur hidupku.


"Ya kamu diam saja! Berani kamu buka mulut sama anakku? Ingat, perempuan mandul sepertimu itu cuma parasit! Kalau kamu berani mengadu soal uang itu, aku akan pastikan besok pagi juga Arya menendangmu keluar dari rumah ini sambil membawa surat cerai!"


***

Bab 2

"Kamu pikir Arya akan membelamu?! Sadar diri, Dinda! Di mata anakku, aku ini ibunya yang paling suci, sedangkan kamu cuma wanita mandul pembawa sial yang kebetulan dia pungut!"


Suara lengkingan Ibu memantul keras di dinding rumah yang kubeli dengan darah dan keringatku sendiri. 


Dadaku sesak, seolah udara di sekitarku tersedot habis. Tangan kananku, tangan yang semalam kugunakan untuk menampar pipi istriku, kini bergetar hebat. 


Rasanya aku ingin memotong tanganku sendiri.


Bodoh! Laki-laki macam apa aku ini?!


Dari celah tirai, mataku nanar melihat Dinda hanya bisa menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan isakan agar tidak terdengar sambil memunguti pecahan beling di dekat kaki Ibu. 


Sementara itu, Ibu dengan sengaja menendangkan kakinya, menumpahkan sisa teh panas tepat mengenai punggung tangan Dinda.


"Awh!" Dinda memekik kecil, buru-buru menarik tangannya yang melepuh kemerahan.


"Kerja yang becus! Gitu aja lelet!" sungut Ibu tanpa rasa bersalah sedikit pun, kembali fokus pada layar ponselnya. Ia mendekatkan ponsel itu ke telinga. 


"Halo, Rini sayang? Iya, kalung emas dua puluh gramnya udah Ibu beli pakai uang belanja si Arya. Tenang saja, rumah ini pelan-pelan akan Ibu paksa balik nama. Biar si Dinda kita tendang ke jalanan tanpa bawa apa-apa!"


Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun. Jantungku bergemuruh hebat. 


Kakak perempuanku, Mbak Rini, juga terlibat? Keluarga yang selama ini kupuja, kuhormati, dan kubela mati-matian ternyata hanyalah sekumpulan lintah darat yang menghisap darah dan kebahagiaan istriku?


Aku bisa saja melangkah keluar sekarang, meneriaki Ibu, dan mengusirnya detik ini juga. 


Tapi, tidak. Itu terlalu mudah. Penderitaan Dinda yang kusaksikan hari ini pasti hanyalah puncak gunung es dari apa yang telah ia lalui selama berbulan-bulan. 


Jika aku hanya mengusir Ibu, mereka akan memutarbalikkan fakta di luar sana. 


Mereka harus membayar mahal untuk setiap tetes air mata dan luka di tubuh istriku.


Dengan tangan bergetar menahan emosi, aku merogoh ponsel di saku celana. 


Kutekan tombol rekam video, mengabadikan dengan jelas wajah bengis ibuku yang sedang bersantai sambil mengunyah buah, sementara Dinda mengesot mengepel lantai dengan punggung tangan yang melepuh.


Dua menit berlalu, aku menghentikan rekaman itu. Senjata pertamaku sudah aman.


Kutarik napas dalam-dalam, menata raut wajahku agar terlihat datar, lalu dengan sengaja aku menendang ember kosong di dekat dapur dengan keras.


Brak!!


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

  PLAK!  "Kurang ajar kamu, Dinda! Istri macam apa kamu, berani-beraninya menjadikan ibuku sebagai babu di rumah ini?!" Tangan kan...