Selasa, 12 Mei 2026

(22) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Biarkan seluruh kamera itu menyala dan menyorot wajahku, Galen. Jika mereka sengaja membawa puluhan wartawan untuk menjual air mata palsu, maka aku sendiri yang akan memberikan mereka panggung megah untuk mempertontonkan betapa busuknya kebohongan mereka secara siaran langsung."


Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Sari, namun ketegasannya sukses membuat seisi ruang makan terdiam.


Tidak ada lagi raut ketakutan atau kepanikan di wajah istriku. Wanita yang dulu selalu menunduk menahan tangis itu kini telah sepenuhnya bermetamorfosis menjadi Nyonya Besar Wijaya yang tak tersentuh.


Aku tersenyum lebar, rasa bangga membuncah di dadaku. Kutarik kursi ke belakang, lalu berdiri dan mengecup punggung tangan istriku dengan takzim. 


"Itu baru ratuku."


Tuan Haris yang duduk di seberang meja ikut tertawa pelan, menatap menantunya dengan sorot mata penuh kekaguman. 


"Keluarga Wijaya pantang mundur dari ancaman rendahan, Sari. Majulah. Ayah dan Danu akan berdiri tepat di belakangmu."


Setelah memastikan Bintang tetap aman di ruang bermain bersama pengasuhnya, kami bertiga melangkah keluar menuju halaman depan. 


Udara pagi yang segar seketika tergantikan oleh riuhnya suara teriakan dan kilatan flash kamera dari balik gerbang baja perumahan kami yang menjulang tinggi.


Galen memberi isyarat kepada petugas keamanan. Perlahan, gerbang raksasa itu bergeser terbuka.


Pemandangan yang tersaji di depan kami benar-benar layaknya sinetron murahan. 


Di tengah kerumunan wartawan yang memegang mikrofon dan kamera, berdiri sepasang pria dan wanita paruh baya dengan pakaian yang sengaja dibuat tampak lusuh. 


Mereka adalah Pak Darma dan Bu Ratna, orang tua kandung Sari yang membuangnya tujuh tahun silam.


"Sari! Anakku sayang!" jerit Bu Ratna begitu melihat sosok Sari yang melangkah anggun dengan balutan gaun pagi berbahan sutra mahal. 


Wanita paruh baya itu langsung menjatuhkan diri berlutut di atas aspal, menangis meraung-raung menghadap kamera.


"Tega sekali kamu, Nak! Kami ini orang tuamu yang melahirkan dan membesarkanmu! Setelah kamu dinikahi miliarder, kamu membiarkan kami luntang-lantung di jalanan sementara kamu asyik membangun yayasan panti asuhan puluhan miliar! Di mana hati nuranimu, Sari?!" ratap Bu Ratna dengan air mata buaya yang mengalir deras.


Pak Darma ikut menimpali dengan suara bergetar yang dibuat-buat, menatap para wartawan. 


"Tolong viralkan anak durhaka ini! Kami hanya meminta hak kami sebagai orang tua untuk mengelola panti asuhan itu, agar kami bisa makan di masa tua kami yang malang ini!"


Kilatan kamera semakin membabi buta. Para wartawan mulai menodongkan mikrofon ke arah kami, siap mencecar Sari dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan.


Namun, Sari tidak mundur selangkah pun. Ia berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada, menatap dua orang paruh baya di bawah sana dengan sorot mata sedingin bongkahan es di kutub utara.


"Luntang-lantung di jalanan?" ulang Sari, suaranya mengalun sangat jernih dan tenang, namun mampu membelah keributan. 


"Bukankah bulan lalu Bapak dan Ibu baru saja pulang dari liburan keliling Eropa menggunakan sisa uang hasil menjual rumah warisan kakek?"


Bu Ratna dan Pak Darma seketika membeku. Tangisan mereka terhenti sejenak, tak menyangka Sari memiliki informasi itu.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sari!" bentak Pak Darma panik. "Kamu tetap anak durhaka yang tidak tahu balas budi!"


Sari tersenyum sinis. "Balas budi untuk apa? Untuk tindakan kalian tujuh tahun lalu yang mengusirku saat aku sedang hamil muda tanpa uang sepeser pun, hanya karena aku menolak dijual dan dijodohkan dengan rentenir tua bangka demi melunasi utang judi Bapak?"


Suasana mendadak hening. Para wartawan saling pandang, kamera mereka kini beralih menyorot lekat-lekat wajah pucat pasi Pak Darma dan Bu Ratna. 


Fakta yang diungkapkan Sari baru saja membalikkan seluruh narasi sedih mereka dalam hitungan detik.


"I-itu fitnah! Kamu berbohong untuk menutupi sifat kikirmu!" sangkal Bu Ratna gelagapan. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. 


"Kami punya hak atas hartamu! Undang-undang mengatur—"


Belum sempat wanita tamak itu menyelesaikan kalimatnya, aku melangkah maju, merangkul pinggang Sari dengan posesif. 


Kehadiranku dengan setelan jas navy yang dirancang khusus memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat para wartawan tanpa sadar mundur selangkah.


Kutatap mantan mertuaku itu dengan pandangan merendahkan, lalu melirik deretan kamera stasiun televisi yang masih menyiarkan kejadian ini secara langsung. 


Aku menyeringai dingin, sebuah senyuman yang membuat darah siapa pun yang melihatnya berdesir ngeri.


"Kalian sengaja mengumpulkan puluhan wartawan ini untuk menghancurkan reputasi istriku dan memaksa kami membagi harta? Sungguh strategi yang luar biasa bodoh. Karena mari kita lihat, apakah masih ada satu pun dari kamera ini yang berani menayangkan wajah kalian, setelah mereka menyadari bahwa stasiun televisi raksasa tempat mereka bekerja, baru saja kuakuisisi saham mayoritasnya lima menit yang lalu."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah....

  PLAK!  "Kurang ajar kamu, Dinda! Istri macam apa kamu, berani-beraninya menjadikan ibuku sebagai babu di rumah ini?!" Tangan kan...