Selasa, 12 Mei 2026

(8) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

 


"Minum, Ma. Telan 'racun' buatan menantu miskin yang baru saja Mama usir semalam, sebelum jantung Mama benar-benar berhenti berdetak di pinggir trotoar ini."


Suaraku terdengar serak dan bergetar hebat saat menyodorkan sejumput bubuk kecokelatan itu ke depan wajah Mama. 


Tanganku masih gemetar setelah panggilan telepon dari Hani terputus.


Mama yang sedari tadi menangis meratapi rumah kami yang disita, seketika menepis tanganku dengan kasar. Matanya melotot ngeri.


"Kamu gila, Yoga?! Itu racun! Perempuan ular itu sengaja meninggalkan racunnya biar Mama mati 'kan?! Buang benda kotor itu!" jerit Mama histeris, beringsut mundur hingga punggungnya menabrak koper murahan kami.


"Kotor?" Aku tertawa sumbang, sebuah tawa putus asa yang mengiris tenggorokanku sendiri. 


"Ini yang menyelamatkan nyawa Mama selama dua tahun terakhir! Dokter sudah angkat tangan dengan katup jantung Mama yang rusak, dan Hani, istri yang selalu Mama caci maki bau tepung itu, menguras habis keringatnya untuk menebus ekstrak herbal ini! Tanpa 'racun' ini, Mama sudah terbujur kaku di liang lahat!"


Wajah Mama seketika pias. Mulutnya terbuka, namun tak ada satu pun suara yang keluar. 


Perlahan, tangan kanannya merambat naik, mencengkeram dada kirinya sendiri seolah baru menyadari debaran jantungnya yang selalu tak beraturan, debaran yang selama ini selalu tenang setiap kali ia selesai meminum teh buatan Hani.


"B-bohong," bisik Mama pucat. Namun napasnya mulai tersengal. "Dia pasti ... dia pasti cuma menipumu, Ga."


Aku tak menjawab. Mataku nanar menatap sisa bubuk di dalam botol kecil itu. 


Hanya tersisa kurang dari seperempat botol. Paling banyak, ini hanya cukup untuk dua hari.


Dengan sisa tabungan di ATM yang tak seberapa, karena semua rekening utama perusahaan telah diblokir pihak bank, aku menyeret Mama dan kantong plastik sampah kami menyusuri jalanan ibu kota yang memanggang kulit. 


Kami menyewa sebuah kamar indekos kumuh seharga lima ratus ribu per bulan di gang sempit yang pengap. 


Kipas angin usang di langit-langit berputar pelan, mengeluarkan suara berderit yang menyayat hati, sangat kontras dengan AC sentral di rumah mewah kami yang baru saja disita.


Mama duduk meringkuk di sudut kasur tipis tanpa seprai, menangis tanpa suara sambil memegangi dadanya yang mulai terasa nyeri. 


Tidak ada lagi keangkuhan nyonya besar. Yang tersisa hanyalah seorang wanita tua yang ketakutan setengah mati menghadapi kematiannya.


Rasa bersalah mencekik leherku. Hani benar. Dia tidak perlu membalas dendam dengan menghancurkan kami. 


Membiarkan kami hidup dalam ketakutan dan penyesalan seperti ini jauh, jauh lebih menyiksa.


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(8) Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena...

  "Minum, Ma. Telan 'racun' buatan menantu miskin yang baru saja Mama usir semalam, sebelum jantung Mama benar-benar berhenti b...