Selasa, 12 Mei 2026

(10) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


"Singkirkan tangan kotormu dari koperku! Kamu tahu siapa aku, hah?! Aku ini pemilik unit penthouse seharga lima miliar di lantai teratas, dan kamu cuma satpam rendahan yang gajinya tak sampai seujung kuku harga sepatuku!"


Suara bentakan arogan Adi menggema keras, memecah ketenangan lobi apartemen mewah yang dihiasi lampu kristal gantung tersebut. 


Beberapa penghuni lain yang sedang melintas sampai menghentikan langkah mereka, menatap risih ke arah keributan di depan meja resepsionis.


Adi berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa sakit yang mendera kakinya akibat siraman sup mendidih tadi. 


Bella yang berdiri di sampingnya tampak tak kalah angkuh, melipat tangan di depan dada sambil menatap remeh para petugas keamanan.


Di hadapan mereka, dua orang sekuriti berseragam rapi berdiri menghadang akses menuju lift khusus penghuni VIP.


"Sekali lagi mohon maaf, Bapak Adi," ucap salah satu sekuriti yang name tag-nya bertuliskan 'Herman', tetap mempertahankan nada sopan meski baru saja dihina habis-habisan. 


"Sistem komputer kami secara otomatis menolak kartu akses Anda sejak satu jam yang lalu. Kami tidak bisa membiarkan Anda naik."


"Itu pasti sistem kalian yang error! Coba scan lagi pakai alat manual!" titah Adi kasar, melemparkan kartu akses berwarna emas itu hingga mengenai dada Herman dan jatuh ke lantai marmer.


Herman tidak memungut kartu itu. Ia hanya menatap layar tablet di tangannya, lalu kembali menatap Adi dengan raut wajah datar.


"Sistem kami tidak mengalami gangguan sama sekali, Pak. Akses Anda ditolak karena unit penthouse di lantai 40 tersebut sudah resmi berganti kepemilikan sore ini. Dokumen legalitas peralihan hak miliknya sudah kami terima dari notaris pusat."


Mata Adi mendelik lebar. 


"Berganti kepemilikan?! Aku tidak pernah menjualnya pada siapa pun! Kalian pasti bersekongkol menipuku ya?!"


"Maaf, Mas." Bella menarik lengan kemeja Adi, wajahnya mulai terlihat pias. "Ganti kepemilikan gimana maksudnya? Terus kita tidur di mana malam ini? Kakiku udah pegal banget pakai heels ini, Mas. Paha kamu juga harus buru-buru dikasih salep."


Adi menepis tangan Bella perlahan. 


"Tenang, Sayang, ini pasti cuma salah paham. Orang tua pikun itu pasti menyewa peretas murahan untuk mengacaukan sistem apartemen ini," desisnya yakin, menutupi kepanikannya sendiri. Ia kembali menatap sekuriti itu dengan garang. 


"Sebutkan, siapa nama pembohong yang mengklaim apartemenku itu?!"


Herman menggeser layar tabletnya, lalu membacakan data yang tertera dengan lantang agar terdengar jelas oleh Adi dan orang-orang di lobi.


"Pemilik baru yang sah atas unit penthouse tersebut adalah Nyonya Putri."


Bagaikan disambar petir berkekuatan jutaan volt, Adi terhuyung mundur selangkah. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa suara, persis seperti ikan yang kehabisan air.


"P-Putri? Maksud lo, Putri gembel, babu istri kamu itu, Mas?!" jerit Bella histeris, suaranya melengking tinggi hingga mengundang tatapan sinis dari beberapa nyonya sosialita yang duduk di sofa lobi.


"Gak mungkin. Gak mungkin! Perempuan udik itu bahkan tidak tahu di mana letak apartemen ini!" rutuk Adi kalap. Ia merogoh saku celananya dengan tangan gemetar hebat, mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi mobile banking. 


"Gak masalah! Biar perempuan mandul itu menguasai apartemen ini. Aku masih punya puluhan miliar! Sayang, kita tidur di Presidential Suite hotel seberang saja malam ini!"


Bella sedikit bernapas lega mendengar kata 'puluhan miliar'. Ia kembali tersenyum angkuh dan mengangguk cepat. 


"Iya, Mas! Biarin aja ibumu dan istri gembelmu itu girang sementara waktu. Besok kita beli penthouse yang lebih bagus!"


Namun, senyum di bibir Bella memudar perlahan saat melihat wajah Adi tiba-tiba pucat pasi bagai mayat. 


Mata pria itu melotot seolah bola matanya akan keluar melihat layar ponselnya sendiri.


Peringatan berwarna merah menyala berkedip-kedip di layar ponselnya:


[AKSES DIBEKUKAN. REKENING ANDA DALAM STATUS PENANGGUHAN OTORITAS PUSAT. SILAKAN HUBUNGI KANTOR CABANG TERDEKAT.]


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(10) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

  "Singkirkan tangan kotormu dari koperku! Kamu tahu siapa aku, hah?! Aku ini pemilik unit penthouse seharga lima miliar di lantai tera...