Senin, 11 Mei 2026

(5) Ibu mertuaku lumpuh dan bisu. Setiap hari aku menyuapi dan merawatnya dengan tulus meski suamiku sering bersikap kasar padaku. Suatu siang, aku pulang lebih awal karena sakit. Dari celah pintu kamar, aku melihat ibu mertuaku berdiri tegak dan tertawa lepas bersama suamiku. Betapa hancurnya aku saat mendengar apa yang sedang mereka rencanakan terhadapku, ternyata selama ini mertuaku...

 


"Sayang, buruan ke sini. Perempuan itu sudah pergi. Jangan lupa bawa sate kambing pesanan Ibu, sekalian bawa map merah berisi draf surat kuasa palsu yang sudah kamu siapkan semalam!"


Suara Dimas dari layar ponselku terdengar begitu riang dan tak sabar, seolah ia baru saja memenangkan undian miliaran rupiah. 


Tanganku mencengkeram tepi bangku pos ronda kayu hingga buku-buku jariku memutih. 


Alih-alih meratapi nasib, aku justru dengan tenang menekan tombol rekam layar di ponselku.


Air mataku sudah mengering. Rasa sakit yang kemarin mengoyak dada kini membeku menjadi tekad yang sekeras baja. 


Pengkhianatan ini ternyata memiliki lapisan yang lebih dalam dari dugaanku. 


Bukan hanya harta peninggalan almarhum Bapak yang mereka incar, Dimas rupanya juga sudah menyiapkan penggantiku untuk menikmati harta tersebut.


Selama lima belas menit aku terpaku mengawasi layar dengan saksama. Dadaku bergemuruh pelan saat melihat seorang wanita muda bergaun kuning cerah melenggang masuk ke kamar Ibu mertuaku. 


Wanita itu mencium tangan Ibu dengan takzim, lalu dengan cekatan membuka bungkusan makanan. Ia menyuapkan potongan sate kambing yang langsung dikunyah dengan rakus oleh wanita paruh baya yang selama ini selalu berpura-pura rahangnya kaku.


"Enak sekali, calon mantuku. Coba dari dulu Dimas menikah denganmu, Ibu tidak perlu repot-repot pura-pura sakit tiap hari," puji Ibu mertuaku sambil tertawa renyah, mengusap bahu wanita simpanan suamiku itu dengan penuh kasih sayang. 


Pemandangan yang belum pernah kurasakan sedikit pun selama tiga tahun menikah.


"Sabar ya, Bu. Kalau surat kuasa palsu ini berhasil dicap jempolnya sama istri Mas Dimas, ruko di pusat kota itu bakal jadi milik kita sepenuhnya," sahut si wanita sambil meletakkan sebuah map merah di atas nakas.


Aku tersenyum sinis menatap layar kecil di genggamanku. Silakan bersenang-senang, Mas, Ibu. Nikmati sate kambing dan khayalan kalian yang tinggi itu.


Setelah memastikan semua percakapan, map merah, dan wajah selingkuhan suamiku terekam sempurna dan tersimpan aman di penyimpanan awan (cloud), aku bangkit berdiri. 


Langkahku kini terasa begitu ringan. Aku berjalan menuju minimarket, membeli sabun, beras, dan sebotol pengharum ruangan beraroma lavender murni.


Aku tidak akan membongkar semuanya sekarang. Aku akan membiarkan mereka merasa di atas angin, membiarkan mereka melangkah lebih jauh dan merangkai jebakan yang ujung-ujungnya akan menjerat leher mereka sendiri. 


Bukti ini sangat berharga, tapi belum cukup untuk menendang mereka keluar dari hidupku dengan cara yang paling menyakitkan.


***


Setengah jam kemudian, aku mendorong perlahan pintu depan rumah. Sepi. 


Sandiwara babak selanjutnya rupanya sudah dimulai kembali.


Aku melangkah santai menuju kamar Ibu mertuaku. Begitu pintu kubuka, pemandangan yang 'normal' kembali tersaji. 


Ibu mertuaku duduk kaku dengan pandangan kosong menatap ke arah jendela. 


Dimas duduk di kursi pojok kamar, pura-pura sibuk mengusap peluh di dahi, seolah ia baru saja pulang dari bekerja memeras keringat.


"Loh, Mas sudah pulang lagi? Katanya mau cari tambahan di luar?" tanyaku dengan nada selembut sutra, melangkah masuk sambil meletakkan kantong kresek belanjaan di dekat meja.


Dimas gelagapan sejenak sebelum lekas-lekas memasang wajah lelah andalannya. 


"I-iya. Kerjaan batal, pelanggannya membatalkan pesanan sepihak. Daripada membuang waktu, Mas langsung pulang saja untuk menjaga Ibu."


Aku mengangguk-angguk pelan, berjalan perlahan mendekati Ibu mertuaku. 


Aku sengaja menunduk, mendekatkan wajahku ke wajah wanita paruh baya itu sambil merapikan kerah bajunya. Aroma tajam khas bumbu kacang dan daging bakar masih menguar sangat jelas dari embusan napasnya.


Aku menoleh perlahan ke arah Dimas, menatap matanya dalam-dalam hingga kudapati raut pria itu perlahan menegang.


"Mas, kamu barusan jajan sate kambing ya di luar dan lupa kumur-kumur?" tanyaku dengan raut wajah keheranan yang kubuat sepolos mungkin. 


"Soalnya napas Ibu pekat sekali bau bumbu kacang, dan sepertinya ada sisa daging yang menyelip di giginya. Padahal kata dokter, lambung Ibu bisa bermasalah kalau sampai menelan makanan sekeras itu, kan?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(10) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

  "Singkirkan tangan kotormu dari koperku! Kamu tahu siapa aku, hah?! Aku ini pemilik unit penthouse seharga lima miliar di lantai tera...