Senin, 11 Mei 2026

(17) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

 


"Kematian Bapak sembilan tahun lalu bukan sekadar karena penyakitnya yang memburuk, Mas. Ada dana asuransi pengobatan bernilai miliaran rupiah yang dicairkan secara diam-diam oleh ibumu, tepat saat Bapak sedang kritis dan membutuhkan operasi malam itu juga."


Kalimat yang meluncur dari bibir Fitri itu sukses membuat jantungku seakan berhenti berdetak. 


Aku terpaku di tempatku berdiri, menatap istriku dengan napas tercekat.


Sembilan tahun lalu. Ingatan itu kembali berputar bagaikan kaset kusut di kepalaku. 


Aku yang saat itu masih remaja, menangis di lorong rumah sakit yang dingin. Ibu menangis histeris di pelukanku, mengatakan bahwa kita tidak punya uang untuk biaya operasi, dan dokter sudah angkat tangan. 


Namun kini, Fitri mengatakan ada uang miliaran yang sengaja disembunyikan?


"Apa ... apa maksudmu, Fit?" suaraku bergetar hebat. Mataku memanas menahan luapan emosi yang siap meledak. 


"Bapak meninggal karena kita tidak punya biaya. Ibu bahkan harus menjual motor peninggalan Bapak untuk biaya pemakaman! Bagaimana mungkin ..."


Fitri menggenggam tanganku erat, menyalurkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya ujung jemariku.


"Dulu, Papaku adalah sahabat karib sekaligus rekan bisnis ayahmu saat mereka merintis usaha di Jakarta, Mas," jelas Fitri dengan nada lembut namun tegas. 


"Ketika ayahmu mendadak jatuh miskin dan kembali, Papaku curiga. Dan ketika kami tahu Mas melamarku enam bulan lalu, Papa kembali menyelidiki masa lalu itu. Ternyata, kebangkrutan ayahmu bukan karena bisnis yang gagal, tapi karena seluruh asetnya diam-diam dikuras oleh Ibu Ningsih demi investasi bodong dan gaya hidupnya."


Kakiku lemas. Aku terduduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. 


Jadi, semua penderitaan yang Bapak alami, kerja kerasnya siang dan malam hingga jatuh sakit, semuanya dihancurkan oleh keserakahan wanita yang selama ini kupanggil Ibu? 


Dan yang lebih menyakitkan, Ibu membiarkan Bapak pergi karena enggan memakai uang asuransi itu untuk menyelamatkan nyawanya?


"Karena itulah Papaku mengirim rentenir itu, Mas," lanjut Fitri, mengusap punggungku dengan penuh simpati. 


"Rentenir itu sengaja menekan Ibumu hingga titik terendah, memaksanya untuk mengeluarkan sisa-sisa harta atau aset rahasia yang mungkin masih ia sembunyikan dari hasil asuransi ayahmu. Dan benar saja, sertifikat rumah inilah satu-satunya yang tersisa."


Aku memejamkan mata kuat-kuat. Hatiku hancur berkeping-keping. 


Sandiwara yang Ibu mainkan selama ini, kejahatannya pada Fitri, semua itu ternyata belum seberapa dibandingkan dengan pengkhianatannya pada almarhum Bapak.


"Kemas barang-barang ibu malam ini," desisku dengan rahang mengeras, menatap koper di sudut ruangan. 


"Ibu pergi dari sini besok pagi. Aku tidak sudi lagi tinggal satu atap dengan wanita yang tega menukar nyawa suaminya sendiri demi uang."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(17) Ibuku Selalu Membuang Masakan Istriku, katanya Tidak Enak. Tapi Bilang di Depan Tetangga Beda Lagi. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Jangan-Jangan Ibuku....

  "Kematian Bapak sembilan tahun lalu bukan sekadar karena penyakitnya yang memburuk, Mas. Ada dana asuransi pengobatan bernilai miliar...