Mama terdiam. Mulutnya terbuka, sebelum akhirnya ia menangis meraung-raung meratapi nasibnya di pinggir jalan.
Aku menjambak rambutku sendiri, luruh berjongkok di sebelah tumpukan plastik sampah. Duniaku benar-benar hancur.
Tiba-tiba, ponsel di saku celanaku bergetar. Sebuah panggilan masuk. Hani.
Dengan tangan gemetar hebat, aku segera mengangkatnya.
"Han! Han, tolong aku! Rumahku disita, Mama menangis di jalan. Kumohon, Han, aku minta maaf! Tolong kembalikan kehidupanku!"
Hening sejenak di seberang sana. Terdengar helaan napas pelan yang sarat akan kekecewaan.
Dia tidak tertawa iblis. Dia tidak merendahkanku.
"Aku menelepon bukan untuk mendengarkan rengekanmu, Mas. Dan aku tidak sejahat itu untuk menertawakan kehancuran kalian," suara Hani terdengar tenang, meresap pelan ke dalam gendang telingaku.
"Aku hanya ingin memberikan satu informasi terakhir, agar kamu tahu persis apa yang baru saja kalian buang semalam."
Aku menelan ludah.
"I-informasi apa, Han?"
"Coba buka kantong plastik hitam milik Ibumu, Mas. Cari kaleng teh favoritnya. Di dasarnya, ada botol kecil tak berlabel berisi bubuk yang semalam Ibumu fitnah sebagai racun."
Dengan tangan bergetar, aku membongkar plastik hitam milik Mama, menemukan kaleng teh itu, dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi bubuk kecokelatan.
"Sudah ketemu, Mas?" tanya Hani pelan. "Itu bukan racun. Itu ekstrak herbal puluhan juta yang mati-matian kutebus setiap bulan dengan sisa uang hasil jualan kue. Dokter bilang, katup jantung ibumu sudah rusak parah. Tanpa bubuk yang kuseduh setiap pagi itu, Ibumu tidak akan selamat dari gagal jantungnya sejak dua tahun lalu."
Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menatap botol kecil di tanganku dengan mata nanar, lalu menatap Mama yang masih menangis egois meratapi hartanya.
"Setiap pagi Ibumu memakiku, menyiram teh itu ke wajahku, menuduhku meracuninya, tapi aku tetap diam dan menumbuknya lagi keesokan harinya agar dia tetap hidup," bisik Hani, suaranya sedikit bergetar, menyalurkan rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian.
Dada kiriku sesak luar biasa. Rasa bersalah seketika menghantamku bertubi-tubi seperti ombak yang menggulungku ke dasar lautan.
Ya Tuhan, iblis macam apa aku ini?
"Sekarang aku sudah pergi," ucap Hani, menutup pembicaraan dengan kalimat yang akan terus menghantuiku seumur hidup.
"Mulai besok, tidak ada lagi tangan bau tepung yang akan meracik 'racun' penyelamat nyawa itu. Jaga ibumu baik-baik, Mas Yoga. Selamat menikmati sisa waktu kalian, karena penyesalan yang sesungguhnya baru saja dimulai."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar