"Halo, Pak Adi? Sesuai instruksi langsung dari Pemegang Saham Utama, Anda resmi dipecat dengan tidak hormat tanpa pesangon. Dan tolong tinggalkan kunci mobil dinas Anda, karena tim penarik aset perusahaan sedang menuju ke lokasi Anda sekarang."
Suara bariton dari seberang telepon itu terdengar begitu nyaring karena Adi tak sengaja menekan tombol loudspeaker dengan jarinya yang gemetar.
Kalimat itu bagaikan petir menyambar, memecah keheningan ruang depan dan menampar kesombongan Adi telak di depan wajahnya.
Ponsel di genggaman Adi merosot, jatuh berdebum ke atas karpet tebal.
Rahangnya jatuh terbuka, wajahnya yang tadi memerah karena amarah kini memucat pasi, seputih kertas. Matanya menatap kosong ke arah layar ponsel yang sudah menggelap.
"A-apa maksudnya ini? Dipecat? Aset ditarik?" gumam Adi dengan suara parau, nyaris seperti orang linglung.
Ia menoleh perlahan menatapku, matanya membelalak penuh kengerian seolah baru menyadari dengan siapa ia berhadapan.
"I-ibu ... Ibu benar-benar melakukan ini padaku? Darah daging Ibu sendiri?!"
Aku menyeringai tipis, melangkah maju setapak. Putri berdiri dengan anggun tepat di belakangku, dagunya terangkat menatap pria yang selama ini menyiksanya.
"Darah daging yang mana yang kamu maksud, Adi? Anakku yang dulu kukenal tidak pernah merendahkan wanita, apalagi sampai menyiksa istri sahnya dan memelihara benalu murahan di belakangku!" desisku tajam, menunjuk lurus ke arah Bella yang kini ikut gemetar.
Mendengar kata 'benalu murahan', Bella seketika tersentak. Kepanikannya akan harta yang melayang membuatnya lupa diri. Ia mengguncang lengan Adi dengan kasar.
"Mas! Ini maksudnya apa?! Kamu beneran dipecat?! Terus mobil HRV di garasi itu mau ditarik juga?! Terus kita mau pergi pakai apa, Mas?!" jerit Bella histeris, suaranya melengking menyakitkan telinga.
"Diam kamu, Bella! Aku lagi pusing!" bentak Adi kalap, menepis tangan Bella hingga wanita bergaun merah ketat itu terhuyung ke belakang.
Adi kembali menatapku dengan napas memburu. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
Kesombongannya tadi sudah runtuh tak bersisa, digantikan oleh keputusasaan. Namun, egonya yang terlampau tinggi masih menolak untuk mengemis.
"Oke ... Oke kalau ini mau Ibu! Ibu pikir aku akan mati kelaparan cuma karena kehilangan posisi manajer?! Ibu lupa aku masih punya tabungan miliaran di rekeningku dan apartemen mewah di pusat kota!"
Adi memungut ponselnya kasar, lalu meraih tangan Bella dan menyeret koper-kopernya menuju pintu.
"Ayo kita pergi dari neraka ini, Sayang! Kita tinggalkan nenek sihir dan perempuan gembel ini! Sebentar lagi juga mereka yang akan merangkak memohon bantuanku!"
Tepat saat Adi membuka pintu utama, sebuah mobil towing bertuliskan aset Rajendra Corporation sudah terparkir rapi di depan gerbang.
Dua orang pria berbadan tegap berseragam serba hitam melangkah masuk, melewati Adi begitu saja, dan langsung menuju garasi untuk mengambil paksa mobil mewah yang selama ini Adi pakai untuk pamer ke selingkuhannya.
Adi memalingkan wajah, mengatupkan rahangnya rapat-rapat menahan rasa malu yang tak tertahankan.
Dengan langkah terpincang-pincang akibat kakinya yang melepuh, ia menyeret kopernya dan Bella menjauh dari pekarangan rumah, berjalan kaki mencari taksi di bawah tatapan penasaran beberapa tetangga yang mulai keluar rumah.
Hancur sudah harga diri seorang Adi.
Aku menatap kepergian mereka dengan dada yang naik turun. Ada perih yang menyelinap di sudut hatiku, bagaimanapun juga, dia anak yang kulahirkan.
Tapi rasa kasihan itu langsung menguap ketika aku mengingat betapa hancurnya Putri selama setahun terakhir.
Pintu utama kututup perlahan. Suasana rumah raksasa ini tiba-tiba terasa begitu lengang.
Putri membuang napas lega, namun tubuhnya tiba-tiba limbung. Aku dengan sigap menahan bahunya, menuntunnya duduk di sofa ruang tamu.
Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya luruh juga, menetes merusak riasan mahalnya.
"Ibu ... mereka benar-benar pergi," isaknya pelan, meremas jemariku. Ada sisa ketakutan di sorot matanya.
"Tapi Mas Adi tadi bilang dia masih punya apartemen mewah dan tabungan miliaran. Apa dia akan kembali dan membalas dendam pada kita, Bu?"
Aku mengusap air mata di pipi menantuku dengan ibu jari, tersenyum begitu tenang dan elegan.
Kurapikan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Biarkan dia merasa masih punya sisa harta untuk disombongkan malam ini, Nak. Biarkan dia dan pelakor itu tidur nyenyak di atas kesombongan mereka," bisikku lembut, namun sarat akan bisa yang mematikan. Kuangkat dagu Putri agar ia menatap mataku.
"Karena besok pagi, anak durhaka itu akan menangis darah saat menyadari bahwa seluruh akses perbankannya telah dibekukan. Dan yang lebih menyenangkan lagi, dia baru akan tahu kalau apartemen mewah tempatnya membawa pelakor itu, diam-diam sudah Ibu balik nama menjadi milikmu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar