"Tiga puluh juta sebulan aku transfer ke rekeningmu, Restu! Dan kamu menyambut suamimu yang lelah bekerja seharian ini dengan sayur asam yang sudah berbau tengik dan daster bolong?!"
Suaraku menggema di ruang makan yang sempit ini. Amarah yang selama ini kutahan di ujung kepala rasanya hampir meledak melihat pemandangan di atas meja.
Piring retak berisi tempe yang digoreng terlalu kering hingga menghitam, dan semangkuk sayur asam yang kuahnya sudah pucat dan berbau tak sedap.
Restu, istri yang kunikahi dua tahun lalu itu, hanya menatapku datar. Tangan kanannya mengelus ujung dasternya yang warnanya sudah pudar tak berbentuk.
"Mas Rifky ini kenapa sih, pulang-pulang malah marah?" sahutnya dengan nada pelan yang selalu berhasil membuatku merasa bersalah di masa lalu.
"Kita ini harus nabung, Mas. Kamu pikir hidup di kota besar ini murah? Uang tiga puluh juta itu aku simpan di tabungan khusus buat masa depan kita, buat beli rumah impian yang kamu mau. Makanan sederhana begini juga sehat, bikin kita nggak gampang sakit."
Aku mengusap wajah kasar, berusaha memadamkan api di dada.
"Nabung itu ada porsinya, Tu. Bukan berarti kamu menyiksa diri pakai baju lusuh dan memberi makan suamimu makanan sisa begini. Uang jajanku di luar saja aku pangkas habis demi ngasih kamu bulanan penuh!"
"Ya sudah kalau Mas nggak mau makan. Aku simpan lagi di kulkas buat sarapan besok!"
Restu merajuk, membereskan meja makan dengan gerakan kasar dan berlalu ke dapur tanpa menoleh lagi ke arahku.
Malam itu, aku merebahkan diri di atas kasur dengan perut keroncongan dan pikiran yang berkecamuk. Ada yang tidak beres.
Pernikahan kami awalnya manis. Aku selalu bangga bisa memberikan nafkah yang lebih dari cukup sebagai seorang manajer di perusahaan logistik.
Tapi enam bulan terakhir, sifat pelit Restu semakin menjadi-jadi. Dia menolak kuajak makan di luar, menolak dibelikan baju, bahkan sabun mandi di kamar mandi pun dia encerkan dengan air sampai berbusa tipis.
Alasannya selalu satu: Menabung untuk masa depan.
Rasa penasaran perlahan menggerogoti kewarasanku. Saat kudengar dengkuran halus dari sebelahku, aku bangkit perlahan.
Aku tahu persis di mana Restu menyimpan buku tabungan bersamanya. Di dalam laci lemari bajunya yang paling bawah, tersembunyi di tumpukan kain lap.
Tanganku sedikit gemetar saat menyalakan senter ponsel dan membuka halaman terakhir buku tabungan yang dicetak seminggu lalu.
Mataku membelalak. Jantungku serasa merosot sampai ke lambung.
Saldo Akhir: Rp. 45.500,-
Kosong. Ratusan juta uang hasil keringatku yang kusetorkan setiap bulan lenyap tanpa sisa. Ke mana larinya uang itu?!
Darahku mendidih, tapi aku memaksa diriku untuk tidak membangunkan Restu malam ini juga.
Jika aku mengamuk sekarang, dia pasti akan mencari ribuan alasan untuk berkelit. Tidak.
Aku butuh bukti nyata ke mana lintah darat ini membuang darahku.
***
Keesokan paginya, aku bersandiwara. Aku memakai kemeja kerjaku, mengecup keningnya seperti biasa, dan berpamitan.
"Mas berangkat dulu ya, Tu."
"Iya, Mas. Hati-hati. Jangan lupa transferan bulan ini ya, kan tanggal gajian," ucapnya dengan senyum tipis, masih dalam balutan daster lusuhnya.
"Pasti."
Aku memundurkan mobil keluar dari pekarangan, tapi aku tidak pergi ke kantor.
Aku memarkirkan mobilku di gang sebelah, tersembunyi di balik pohon rindang yang langsung menghadap ke pagar rumahku. Aku menunggu.
Satu jam berlalu. Pagar rumahku terbuka.
Mataku tak berkedip melihat sosok wanita yang keluar dari sana. Itu Restu, tapi bukan Restu dengan daster lusuhnya.
Dia memakai dress merah maroon yang elegan, kacamata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya, dan sebuah tas tangan berlogo brand ternama yang aku tahu harganya bisa mencapai puluhan juta.
Dia memesan taksi online dan pergi meninggalkan rumah.
Aku segera menyalakan mesin dan membuntutinya dari jarak aman.
Taksi itu membelah jalanan ibu kota, mengarah ke kawasan elit di pusat kota. Kendaraan itu akhirnya berhenti di lobi sebuah apartemen mewah.
Aku memarkirkan mobil sembarangan, mengendap-endap mengikuti langkahnya yang melenggang percaya diri masuk ke dalam lift. Angka berhenti di lantai 18.
Aku berlari lewat tangga darurat saat melihatnya berjalan menyusuri lorong panjang.
Restu berhenti di depan pintu bernomor 1804. Dia tidak mengetuk, melainkan langsung memasukkan password dan mendorong pintu itu terbuka.
Dari celah pintu yang belum tertutup rapat, aku mengintip ke dalam. Kakiku serasa dipaku ke lantai melihat pemandangan di sana.
Seorang pemuda tampan, yang usianya kutebak jauh di bawah kami, menyambut istriku dengan pelukan mesra.
"Gimana, Sayang? Suami bodohmu itu udah transfer puluhan juta lagi buat lunasin cicilan apartemen mewah kita ini, kan?"
***
"Nikmatilah uang puluhan juta itu untuk bersenang-senang hari ini, Istriku Sayang. Karena mulai besok, aku pastikan kalian berdua yang akan berlutut mengemis untuk sekadar makan nasi sisa."
Aku mendesis pelan di balik celah pintu, menahan gemuruh di dada dengan senyuman yang terasa kaku dan mematikan.
Pintu apartemen itu perlahan tertutup rapat, diiringi derai tawa renyah Restu, tawa lepas yang tak pernah lagi kudengar di rumah kami.
Tawa yang ternyata hanya dia berikan untuk berondong simpanannya di atas penderitaanku.
Tanganku bergerak cepat merogoh ponsel di saku.
Kuaktifkan kamera, merekam sejenak dari celah sempit sesaat sebelum pintu benar-benar terkunci otomatis.
Terekam jelas di sana siluet istriku yang sedang bergelayut manja dengan pemuda itu.
Bukti pertama sudah aman di tanganku.
Banyak pria mungkin akan langsung mendobrak pintu itu, mengamuk, menghajar selingkuhan istrinya hingga babak belur, lalu menyeret sang istri pulang dengan makian.
Tapi aku? Tidak. Itu cara yang terlalu murahan dan menguntungkan mereka.
Kalau aku menggerebeknya sekarang, Restu bisa memutarbalikkan fakta, memohon ampun, atau yang terburuk, dia akan menuntut pembagian harta gono-gini saat kami bercerai nanti.
Enak saja! Dia sudah menguras habis keringatku, mencekokiku dengan sayur tengik dan tempe gosong, sementara dia berfoya-foya memelihara parasit?
Aku tak akan membiarkan wanita berhati iblis itu membawa sepeser pun uangku keluar dari pernikahan ini.
Aku berbalik pergi meninggalkan lantai 18 itu dengan langkah tanpa suara.
Otakku yang tadinya mendidih terbakar amarah kini berubah sedingin es.
Di dalam lift yang membawaku turun, sebuah rencana balas dendam yang jauh lebih elegan mulai tersusun rapi di kepalaku.
Restu sangat memuja uang. Dia rela menyiksa suaminya sendiri dengan dalih 'menabung' demi menjaga agar kran uangnya tetap mengalir deras untuk sang pacar gelap.
Lalu, apa yang akan terjadi kalau kran uang itu tiba-tiba mengering total?
Apa yang akan dilakukan pemuda tampan itu kalau ATM berjalannya mendadak jatuh miskin, tak punya apa-apa, dan justru terlilit hutang?
Aku tersenyum miring saat masuk ke dalam mobil. Keputusanku sudah bulat. Aku akan bermain di ranah yang paling dia takuti: Kemiskinan.
Langkah pertama, aku harus mengamankan seluruh asetku secepatnya.
Beruntung, posisiku sebagai manajer senior membuatku punya koneksi kuat di dunia perbankan dan hukum.
Aku menyalakan mesin mobil, tapi alih-alih menuju kantor logistik tempatku bekerja, aku memutar kemudi melesat menuju firma hukum milik sahabat lamaku.
Sepanjang jalan, kususun skenario kehancuranku sendiri.
Aku akan menjadi suami paling tidak berguna sedunia.
Suami malang yang bangkrut, ditipu rekan bisnis, dipecat secara tidak hormat, dan dikejar-kejar rentenir.
Mari kita lihat, seberapa lama daster lusuh dan alasan 'menabung demi masa depan' itu bisa bertahan saat kemiskinan benar-benar mencekik lehernya.
Kuparkirkan mobil dengan kasar di pelataran gedung firma hukum.
Sebelum turun, aku merogoh ponsel dan menekan kontak sahabat kepercayaanku. Panggilan tersambung pada dering kedua.
"Halo, Bram? Siapkan dokumen pengalihan semua asetku dan bekukan rekening utamaku sekarang juga tanpa sisa. Dan oh, tolong buatkan aku skenario kebangkrutan yang paling memalukan, lengkap dengan tagihan hutang fiktif bernilai miliaran atas namaku dan nama istriku. Kita mulai pertunjukan utamanya malam ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar