"Putra! Jangan tinggalkan Ibu! Ibu tidak punya siapa-siapa lagi!" jerit Ibu histeris, memukuli dadanya sendiri di tengah ruangan.
Sementara itu, dari sudut kamar, Siska dengan langkah mengendap-endap menyeret kopernya menuju pintu, berusaha kabur dari kekacauan yang ia bantu ciptakan.
Aku memberinya tatapan tajam yang seolah berkata, 'Pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi,' membuat wanita itu langsung lari terbirit-birit keluar rumah.
***
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setelah memastikan Ibu kembali ke kamarnya walau masih terus meratap, aku membawa Fitri duduk di tepi ranjang.
Hening menyelimuti kami selama beberapa menit.
Kepalaku dipenuhi ribuan pertanyaan tentang siapa sebenarnya mertuaku, seberapa besar kekuasaannya, dan mengapa ia repot-repot menyamar dan menguji menantunya sendiri dengan cara yang ekstrem.
Fitri menunduk, memainkan jemarinya dengan gelisah. Ia seolah bisa membaca kebingungan yang berkecamuk di benakku.
"Mas," panggilnya pelan, memecah kesunyian.
"Ada satu hal lagi yang belum kamu ketahui tentang alasan mengapa Papaku menjadikanku umpan dan membiarkanku tinggal di rumah ini selama enam bulan."
Aku menoleh, menatapnya lekat-lekat.
"Alasan apa, Fit?"
Fitri perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap lurus ke dalam manik mataku dengan sorot yang tiba-tiba menggelap, menyimpan sebuah misteri yang membuat bulu kudukku meremang.
"Rentenir yang meminjamkan uang setengah miliar pada Ibumu itu bukan orang sembarangan, Mas. Dia adalah utusan Papaku," bisik Fitri dengan suara bergetar yang menyayat keheningan malam.
"Dan target sebenarnya sejak awal bukanlah untuk menguji kesabaranku, melainkan untuk membongkar rahasia kelam di balik kematian ayahmu sembilan tahun yang lalu."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar