"Kamu ini kalau sudah kelelahan lebih baik langsung tidur! Jangan malah berhalusinasi yang tidak-tidak! Ibuku itu lumpuh, jangankan menginjak tanah, menggeser telapak kakinya saja dia tidak bisa!"
Bentakan Dimas memecah kesunyian kamar kami. Ia menepis tanganku dengan kasar. Wajahnya yang tadi pucat pasi kini berubah merah padam.
Aku sangat hafal tabiatnya; dia selalu menggunakan kemarahan sebagai tameng setiap kali merasa tersudut dan kebohongannya nyaris terbongkar.
Aku menunduk dalam-dalam, sengaja memilin ujung selimut untuk memalsukan gestur ketakutan dan rasa bersalah.
"M-maaf, Mas. Mungkin aku memang yang salah lihat. Atau mungkin debu dan serpihan rumput kering itu terbawa angin dari jendela kamar Ibu yang kubuka tadi pagi."
Dimas mendengus kasar, napasnya memburu.
"Makanya, jangan suka mencari-cari masalah! Sudah, aku mau tidur, kepalaku pusing meladenimu!"
Ia membanting tubuhnya ke kasur dan memunggungiku, menarik selimut hingga sebatas leher.
Dalam keremangan kamar, aku menatap punggungnya dengan senyum sinis yang mengembang perlahan.
Di balik selimut tebal itu, aku tahu pasti jantung suamiku sedang berdegup kencang karena panik. Tidurlah yang nyenyak, Mas. Karena mimpi burukmu baru saja akan kumulai.
Keesokan paginya, setelah Dimas berangkat dengan alasan 'mencari tambahan di luar', aku segera mengeksekusi rencanaku.
Sebuah paket berisi kamera pengintai sekecil kancing baju yang kupesan dengan layanan pengiriman instan telah tiba di tanganku.
Dengan alasan ingin membersihkan debu-debu halus, aku masuk ke kamar Ibu mertuaku. Wanita paruh baya itu masih memainkan peran apiknya, duduk terdiam di atas kasur dengan tatapan kosong.
Tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun, aku menempelkan lensa kecil itu di sela-sela ukiran lemari kayu tua miliknya.
Posisinya sangat strategis, tersembunyi dalam gelapnya ukiran namun memberikan sudut pandang luas yang menghadap langsung ke seluruh penjuru ranjang.
"Ibu," panggilku lembut, mengusap punggung tangannya yang sengaja dikakukan.
"Sabun mandi dan beras kita habis. Aku pamit sebentar ke minimarket depan komplek, ya. Ibu baik-baik di rumah, tidak akan lama kok."
Tidak ada respons, hanya kedipan mata lambat yang seolah berkata ia tidak berdaya.
Aku membalasnya dengan senyuman tulus, senyuman palsu yang tak kalah hebat dari aktingnya.
Begitu melangkah keluar dari pekarangan rumah dan memastikan pagar terkunci rapat, aku setengah berlari menuju pos ronda di ujung jalan yang kebetulan sedang kosong.
Tanganku sedikit gemetar saat merogoh saku dan mengeluarkan ponsel.
Dengan napas tertahan, aku membuka aplikasi yang sudah terhubung dengan kamera pengintai tadi.
Layar ponselku memuat gambar, menampilkan rekaman langsung dari kamar Ibu mertuaku dengan kualitas visual dan audio yang sangat jernih.
Kulihat pintu kamar itu perlahan terbuka dari dalam rekaman. Mataku membelalak saat melihat sosok Dimas yang ternyata tidak pergi bekerja, melainkan mengendap-endap masuk kembali ke dalam rumah melalui pintu belakang.
Dan apa yang terjadi selanjutnya membuat darah di seluruh nadiku mendidih hingga ke ubun-ubun.
Ibu mertuaku yang katanya lumpuh itu menendang selimutnya dengan kasar, melompat turun dari ranjang dengan sangat lincah, dan langsung meregangkan otot-otot pinggangnya.
Ia lalu merogoh ke bawah bantal, mengeluarkan sebuah ponsel yang diam-diam disembunyikannya selama ini.
Di layar ponselku, suara Ibu mertuaku terdengar bergema begitu lantang, tajam, dan penuh kebencian saat menyambut kedatangan anak laki-lakinya.
"Akhirnya perempuan mandul bodoh itu pergi juga! Dimas, cepat telepon selingkuhanmu itu, suruh dia ke sini sekarang mumpung rumah kosong! Ibu sudah muak makan bubur hambar, suruh calon istri barumu itu sekalian membawakan Ibu sate kambing kesukaan Ibu!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar