Minggu, 10 Mei 2026

(8) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

 


"Ibu pasti sudah gila, kan? Atau Ibu terlalu banyak menghirup asap dapur sampai berhalusinasi menjadi dewan direksi di perusahaan raksasa tempatku bekerja?!"


Tawa sinis Adi meledak memantul di dinding ruang makan, meski wajahnya sempat meringis menahan perih akibat kakinya yang melepuh tersiram kuah sup. 


Ia menatapku dari atas sampai bawah dengan sorot meremehkan, seolah aku hanyalah seekor semut yang mengklaim diri sebagai penguasa.


Bella yang awalnya ketakutan, kini kembali mendapat rasa percayanya. Ia melingkarkan tangannya di lengan Adi, lalu menatapku dan Putri bergantian dengan tatapan jijik.


"Ya ampun, Mas. Ibumu ini ternyata ketularan gila sama si Putri ya? Halunya kelewatan!" ejek Bella dengan suara melengkingnya. 


"Lagian, mana ada pemegang saham mayoritas gayanya kampungan begini? Apalagi soal rumah ini, jelas-jelas kamu yang beli pakai keringatmu sendiri, kan, Mas?"


"Tentu saja, Sayang," jawab Adi sombong, mengelus pipi Bella. Ia lalu menunjuk tepat di depan wajahku. 


"Dengar ya, Bu. Ibu boleh membela perempuan gembel ini. Tapi jangan harap Ibu bisa mengusirku dari rumahku sendiri! Sertifikat rumah ini ada di brankasku, atas namaku!"


Aku mendengus pelan, menatap anak kandungku dengan tatapan kasihan yang teramat sangat. Betapa butanya dia oleh kesombongan.


"Kalau begitu, kenapa kamu tidak naik ke kamarmu sekarang dan periksa brankas kesayanganmu itu, Adi?" balasku tenang, menyilangkan tangan di dada. 


"Coba perhatikan baik-baik kertas apa yang selama ini kamu agung-agungkan. Karena setahuku, selembar kertas fotokopi tidak memiliki kekuatan hukum apa pun."


Raut wajah Adi berubah seketika. Tawa meremehkannya lenyap, digantikan oleh kilatan panik yang berusaha ia tutupi. 


Tanpa mempedulikan kakinya yang memerah dan basah, ia bergegas berjalan pincang menaiki tangga menuju lantai dua. Bella yang kebingungan terpaksa berlari-lari kecil menyusulnya.


Sepeninggal mereka, suasana ruang makan menjadi hening. Putri yang sejak tadi berdiri tegak di sampingku, tiba-tiba membuang napas panjang. 


Tangan lembutnya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Terdengar sedikit getaran dari sana.


"Ibu, apa ini tidak apa-apa? Kalau Mas Adi nekat dan berbuat kasar pada Ibu bagaimana?" bisik Putri, sorot matanya menyiratkan kekhawatiran yang tulus. 


Padahal, dirinyalah yang selama ini disakiti.


Aku membalas genggaman tangannya tak kalah erat, menepuk punggung tangannya dengan lembut. 


"Jangan takut, Nak. Ibu sengaja membiarkan pengkhianat itu merasa terbang tinggi selama ini, agar saat Ibu menjatuhkannya, dia tahu betapa hancurnya menghantam dasar. Kita ikuti saja permainannya pelan-pelan."


BRAAAK!


Suara pintu dibanting dari lantai dua membuat kami berdua menoleh. Tak lama, Adi menuruni tangga dengan langkah gontai dan wajah semerah tomat busuk. 


Di belakangnya, Bella menyeret dua koper besar dengan wajah bersungut-sungut.


Adi melemparkan selembar kertas ke lantai tepat di depanku. Itu adalah fotokopi sertifikat rumah yang selama ini ia kira asli. 


Napasnya memburu, rahangnya mengeras menahan amarah dan rasa malu yang luar biasa di depan selingkuhannya.


"Oke! Kalau Ibu memang mau bermain licik dan mengambil alih rumah ini, ambil saja!" teriak Adi dengan urat leher menonjol. Ia merangkul pinggang Bella dengan kasar. 


"Gak apa-apa, Sayang. Kita pindah ke apartemen mewahku saja. Biarkan dua perempuan gila ini membusuk di rumah tua ini!"


"Mas, tapi kaki kamu harus diobati dulu ke dokter," rengek Bella.


"Nanti saja di jalan! Aku sudah muak melihat wajah ibuku yang membela perempuan mandul ini!" potong Adi kasar.


Ia menarik koper-kopernya menuju pintu depan. Namun, tepat sebelum tangannya meraih gagang pintu, Adi menoleh ke belakang, menatapku dan Putri dengan tatapan penuh kebencian dan dendam kesumat.


"Kalian pikir aku akan jatuh miskin dan hancur hanya karena kehilangan rumah ini?! Posisiku sebagai Manajer Operasional di Rajendra Corporation akan membuatku bisa membeli sepuluh rumah yang jauh lebih mewah dari ini!" bentak Adi dengan dagu terangkat penuh kemenangan.


Tepat saat kalimat sombong itu selesai ia ucapkan, suara dering nyaring berasal dari ponsel di saku celananya memecah keheningan. Adi merogoh sakunya, keningnya berkerut melihat nama 'HRD Pusat' tertera di layar.


Aku tersenyum miring, melipat kedua tanganku di depan dada sambil menatapnya penuh kemenangan.


"Angkat teleponnya sekarang, Adi. Mari kita dengar, apakah mantan Manajer yang baru saja kuperintahkan untuk dipecat dengan tidak hormat sepuluh detik yang lalu ini, masih sanggup menyewa hotel untuk menumpang tidur malam ini."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(8) Menantuku selalu meminta bahan masakan padaku, dia selalu datang dengan daster kotor. Karena curiga, aku diam-diam melihat perlakuan anakku pada menantuku. Ternyata selama ini anakku begitu jahat pada menantuku. Anakku melakukan...

  "Ibu pasti sudah gila, kan? Atau Ibu terlalu banyak menghirup asap dapur sampai berhalusinasi menjadi dewan direksi di perusahaan rak...