"Surat cerai itu tidak akan pernah mendapatkan tanda tanganku, Tuan. Walaupun nyawa taruhannya, Fitri adalah istriku, dan tidak ada satu pun orang yang berhak membawanya pergi dari sisiku!"
Aku merebut ponsel mewah itu dari tangan Fitri dan memberikan penolakan sekeras karang. Napasku memburu, dadaku bergemuruh oleh campuran rasa terkejut dan tekad yang bulat.
Di seberang panggilan, terdengar suara kekehan berat yang sangat meremehkan.
"Keberanian yang luar biasa untuk seorang pria yang ibunya baru saja di ambang kebangkrutan, Putra. Kita lihat saja, apakah besok pagi nyalimu masih sebesar itu saat berhadapan langsung dengan pasukanku. Selamat malam."
Tuut ... tuut ... tuut ...
Sambungan diputus sepihak. Aku menatap layar ponsel yang meredup itu dengan rahang mengeras, lalu mengembalikannya perlahan ke telapak tangan Fitri.
Istriku menatapku dengan mata berkaca-kaca, ada keharuan sekaligus ketakutan yang mendalam di wajah cantiknya.
"Mas, kamu tidak tahu berhadapan dengan siapa. Papa itu orang yang bisa menghancurkan hidup seseorang hanya dengan jentikan jarinya," bisik Fitri parau.
"Seharusnya Mas melepaskanku. Ujian ini sudah berakhir."
"Ujian bagi Papamu mungkin sudah berakhir, Fit. Tapi janji setiaku di depan penghulu enam bulan lalu tidak memiliki tanggal kedaluwarsa," balasku mantap, menangkup kedua pipinya yang dingin.
"Mas tidak peduli kamu anak konglomerat atau bukan. Kamu tetap Fitri-ku."
Sebuah isakan tiba-tiba memecah momen kami. Namun kali ini, isakan itu terdengar dibuat-buat dan sangat menyedihkan.
Aku dan Fitri menoleh ke bawah. Ibu, yang sejak tadi duduk lemas di lantai, tiba-tiba merangkak mendekat.
Tangan wanita yang melahirkanku itu terulur, berusaha menggapai ujung piyama sutra yang dikenakan Fitri.
Wajah angkuhnya telah menguap tanpa sisa, digantikan oleh raut memelas yang dipenuhi keserakahan yang tiba-tiba bangkit kembali.
"Fitri, menantuku yang cantik, menantuku yang paling baik." Ibu meratap, mencoba memeluk kaki istriku, namun aku dengan cepat menarik Fitri mundur agar tak tersentuh.
"Ibu khilaf, Nak. Ibu salah menilai kamu. Kamu ternyata bidadari penolong keluarga kita. Tolong, Nak. Tolong bujuk Papamu jangan pisahkan kamu dari Putra. Kamu dan Putra saling mencintai, kan? Ibu janji, Ibu akan menyayangimu, Ibu yang akan memasak setiap hari untukmu, asal Ibu tidak diusir dari rumah ini!"
Rasa muak dan iba bercampur aduk di dadaku melihat wanita paruh baya itu merendahkan harga dirinya sendiri hanya karena harta.
Betapa cepatnya kebencian itu berubah wujud saat dihadapkan pada uang setengah miliar yang dibayarkan lunas dalam hitungan menit.
"Sudah cukup, Bu," tegasku dengan suara serak, menahan perih yang menyayat hati.
"Jangan merendahkan diri Ibu lebih jauh lagi. Sejak awal, Ibu membuang masakan Fitri dan menuduhnya macam-macam bukan karena Ibu peduli pada rumah tangga kami, tapi karena Ibu serakah dan dibutakan oleh gaya hidup. Keputusanku sudah bulat. Besok pagi, ibu harus keluar dari rumah ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar